Wasiat Luqman al-Hakim kepada Anaknya

Wasiat Luqman al-Hakim kepada Anaknya mengajarkan kita dalam mendidik anak. Di islam mengajarkan umatnya dalam segala hal termasuk dalam ocialkan terhadap anak.. Dalam pandangan islam keluarga merupakan pondasi pertama, dimana pengetahuan atas segala sesuatu diajarkan oleh orang tua, begitu juga keyakinan serta keimanan seorang anak, sebagaimana dalam hadist disebutkan:

كلُّ مولودٍ يولَدُ على الفطرةِ فأبواه يُهوِّدانِه أو يُنصِّرانِه أو يُمجِّسانِه

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Pendidikan diperlukan dan dilakukan pertama kali oleh keluarga, terutama orang tua terhadap anak-anaknya. Keluarga merupakan akar dari terbentuknya masyarakat dan bangsa serta peradaban. Keluarga memiliki pengaruh besar dalam psikis dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Di bawah ini adalah salah satu kisah tauladan dalam al-Qur’an yang wajib kita ikuti dan ambil hikmahnya dalam mendidik anak dan keluarga kita secara Islami. Kisah tersebut merupakan kisah Luqman dan anaknya. Bahkan Allah S.W.T sebutkan ocial di dalam satu surah al-Quran karena kebijaksanaanya mendidik anaknya agar selalu di jalan Allah S.W.T.

Mengenal Luqman al-Hakim

Luqman al-Hakim menurut al-Khazin memiliki nama lengkap Luqman bin Ba’aura bin Nahur bin Tarikh. Ibnu Tarikh yang dimaksud disini adalah Azar. Menurut al-Qurthubi adalah Luqman bin Ba’aura bin Nahur bin Tarikh. Tarikh inilah yang juga bernama Azar, ayah Ibrahim as. Menurut al-Waqidi Luqman adalah seorang qadhi (hakim) di kalangan Bani Isra’il. 

Adapun beberapa pendapat ulama mengenai anaknya. Menurut al-Qurthubi, anaknya Luqman bernama Tsaran, sedangkan menurut al-Khazin nama anaknya adalah An’am dan Masykam, dan menurut Ibnu Katsir nama anak laki-lakinya adalah Tsaran.

Metode ocialkan yang diajarkan Luqman kepada anaknya adalah melalui nasehat dan keteladanan. Keteladanan yang beliau contohkan merupakan sarana yang mengantarkan anaknya dan memberikan pengaruh yang baik dalam jangka waktu lama. Diharapkan, sebagai orang tua masa kini, tidak hanya menyuruh dan memaksa anak untuk melaksanakan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Dan sebaiknya, orang tua mengikuti metode yang dilakukan Luqman yaitu memberikan contoh langsung kepada anaknya melalui perbuatan dan perkataannya.

  Di bawah ini adalah wasiat Luqman al-hakim kepada anaknya, sebagaimana Allah S.W.T sebutkan dalam surah Luqman ayat 13-17 sebagai berikut:

  1. Tidak Syirik kepada selain Allah S.W.T

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ [13]

“Dan (ingatlah) ocial Luqman berkata kepada anaknya, ocial dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah S.W.T) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Wasiat luqman al-hakim yg pertama kepada anaknya adalah agar tidak menyekutukan Allah S.W.T dengan selain-Nya. Dan nasehat ini merupakan hal pertama yang seharusnya diajarkan orang tua kepada anaknya sedini mungkin. Mengenalkan Allah S.W.T dari kecil agar menguatkan dan meneguhkan keyakinan serta keimanan pada diri anak.

Dan menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya “Larangan berbuat syirik adalah dikarenakan syirik merupakan dosa yang sangat besar. Dan juga Wahbah az-Zuhaili berpendapat “Syirik merupakan perbuatan menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, menyetarakan sesuatu dengan Allah S.W.T”. Seperti fenomena yang terjadi belakangan ini, banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi anak-anak bahkan orang dewasa hingga merubah kenyakinannya yang disebabkan media ocial dan permasalahan hidup yang dihadapi, bahkan tidak menutup kemungkinan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, seharusnya orang tua mengamalkan serta memberikan nasehat kepada anak-anaknya agar selalu berhati-hati dari sifat syirik. Seperti halnya Luqman yang memberikan tauladan dan nasehat terhadap anaknya.

  1. Berbakti kepada kedua orang tua

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ [14]

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ 

أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ[ [15

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah, dan menyapihnya sampai usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu”.

Wasiat luqman al-hakim kedua kepada anaknya yaitu berbakti kepada orang tua, serta bersyukur kepada Allah S.W.T. Ibu adalah yang utama, karena ia telah mengandung serta menyapih dan mengorbankan nyawanya untuk melahirkan kita ke dunia. Cara bersyukur kepada orang tua adalah mendoakan serta berkata dengan lemah lembut. Dan jangan sekali-kali berkata kasar yang bisa menyakiti hatinya, karena ridho Allah S.W.T terletak pada ridho orang tua, dan terkecuali jika keduanya menyuruh untuk menyekutukan Allah S.W.T, maka sebagai anak tidak boleh mengikuti perintah mereka, tetapi menolak dengan cara yang baik dan lemah lembut. 

Dapat dipahami penjelasan diatas bahwasanya menanamkan keimanan kepada anak dengan orang tua yang sudah menanamkan keimanan kepada dirinya sendiri terlebih dahulu, agar bisa memberikan tauladan yang baik untuk anaknya. Sebagaimana Luqman memberikan contoh kepada anaknya, karena keimananan yang kuat terhadap Allah S.W.T memberikan dampak bagi kehidupan anak dari segi akhlak terhadap orang tua dan lingkungan sekitarnya, serta cara yang digunakan Luqman adalah metode dialog antara orang tua dan anak.

  1. Ganjaran atas segala perbuatan

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ [16]

“Lukman berkata ‘Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha teliti”.

Nasehat yang ketiga yaitu adanya balasan atas segala apa pun yang kita lakukan, perbuatan yang baik atau buruk. Dan juga telah disebutkan dalam surah al-Isra’ ayat 15:

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ  [15 ] 

“Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah S.W.T), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain”.

Yang berarti setiap manusia memikul dosa dan amal baiknya masing-masing, tidak ada satu perbuatan pun yang luput dari Allah S.W.T. 

  1. Perintah shalat dan menyeru pada kebaikan

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [17]

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

Shalat merupakan ibadah yang meningkatkan keimanan kita kepada Allah S.W.T, maka dari itu orang tua memiliki kewajiban untuk menyuruh anaknya dalam melaksanakan shalat dan ibadah lainnya sedini mungkin. Orang tua dapat memberikan contoh agar anak dapat meniru serta terbiasa dalam melakukan shalat, karena dengan shalat jugalah anak terhindar dari perbuatan buruk yang dilarang oleh Allah S.W.T. 

Selain daripada itu, bersabar atas musibah dan cobaan yang diberikan Allah S.W.T kepada hambanya, seperti keadaan yang terjadi sekarang ini (Covid-19). Musibah seperti ini belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Dan sebagai seorang mu’min, kita harus percaya bahwa Allah S.W.T sudah menuliskan qadha’ dan qadr di lauhul mahfudz, sehingga apapun yang terjadi pada kita adalah ketetapan dari Allah S.W. Serta, segala sesuatu yang diciptakan Allah S.W.T terdapat hikmah dan rahmat-Nya, karena dibalik sesuatu yang dibenci bisa jadi sebagai ujian dan ikhtiyar kita. Dengan bersabar Allah S.W.T mengangkat derajat kita, dan juga untuk memberi pelajaran agar kita selalu meminta ampun kepada Allah S.W.T serta bertaubat atas segala kesalahan.

Terakhir, beberapa hal diatas merupakan Wasiat luqman al-hakim kepada anaknya, dan sudah seharusnya kita mengambil pelajaran dari kisah-kisah Nabi serta orang-orang shalih yang terdapat dalam al-Qur’an.

Editor: Elsani Vikanza & Akbar Jihad Sagran

Leave a Reply