Tiga Arah Juang Generasi Z Setelah Pandemik untuk Kesejahteraan dan Keadilan Masyarakat.

KATEGORI KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN 

Setiap generasi selalu dibentuk oleh dua kondisi utama yang pertama, adalah kemajuan peradaban dimana kemudian membentuk ulang pendefinisian segala atribut sosialnya sehingga pada akhirnya mereka berbeda dari generasi sebelumnya dan yang kedua, adalah tragedi peradaban yang membentuk cara mereka merespon sekaligus bertahan di tengah kondisi yang getir dalam konteks zamannya, dari kedua kondisi ini kemudian sebuah generasi bisa menamakan sekaligus merekonstruksi dirinya secara berbeda dari generasi sebelumnya.

Dalam konteks kekinian, generasi yang menjadi mayoritas saat ini adalah generasi Z yang tentunya memiliki logika berpikir dan bergerak yang berbeda dari generasi sebelumnya katakanlah seperti generasi X dan baby boomers, meskipun dalam banyak hal mereka tetap mengambil inspirasi dari generasi sebelumnya.

Dalam konteks covid-19, generasi z sebagai bagian generasi digital bersama-sama dengan generasi Y dan Alpha sebenarnya sama-sama merasakan kekecewaan yang sama terhadap otoritas terutama bagi mereka yang berasal dari negara yang ternyata dikategorikan gagal dalam menghadapi penularan wabah covid-19.

Berbagai narasi pun mereka kembangkan sebagai bentuk perlawanan, namun mereka selalu memulakannya dari dunia digital dengan pendekatan aktivisme yang lebih flexible dan tidak bergantung pada ketokohan apalagi keharusan untuk mencapai kondisi politik tertentu. Dalam konteks arah juang menuju terciptanya kesejahteraan dan keadilan masyarakat, saya mencatat ada tiga peran utama yang akan dijalankan oleh generasi z yang sedang mereka jalanankan selama pandemi dan akan bertahan selepas pandemi.

Menjadikan ruang digital sebagai ruang demokrasi alternatif

Bertemunya teknologi informasi dan kesadaran demokrasi di kalangan generasi digital menciptakan ruang baru bernama netizen okrasi sebagai alternatif demokrasi yang diciptakan di ruang digital disaat ketidakadilan makin menampakkan dirinya di tengah-tengah iklim demokrasi yang sesungguhnya, konsep ini juga sebenarnya merujuk pada upaya mereka membangun kesadaran demokrasi di kalangan warga net secara luas, agar selalu sadar dan kemudian bergerak saat bertemu dengan pengkhianatan demokrasi.

Apalagi di tengah pandemi covid-19 seperti ini yang membuat masyarakat semakin mengarah pada apa yang disebut Karl Polanyi dalam bukunya The great transformation sebagai masyarakat yang kolapse akibat terlalu gampang menyerahkan seluruh aspek penting kehidupan kepada mekanisme pasar yang hanya memandang untung dan rugi. Melalui ruang netizen okrasi, generasi Z menerjemahkan permasalahan ketidakadilan akibat diselewengkannya demokras di lapangan.

Mereka kemudian menerjemahkan kesadaran demokrasi dalam berbagai bentuk konten yang kemudian disampaikan secara terus menerus dengan prinsip agitasi, edukasi, dan organisir agar apa yang menjadi konten membentuk solidaritas sekaligus empati sosial yang kuat untuk menyelesaikan permasalahan ketidakadilan dan kesejahteraan di akar rumput.

Membangun solidaritas dan empati sosial sebagai suatu jalan Logis

Kita tentu masih ingat dengan fenomena belanja panik pada awal-awal pandemi seolah-olah kita takut korona akan menyebabkan kita tidak bisa lagi makan tapi ironisnya, seiring waktu kita justru menganggap korona seperti ilusi saat prosedur kesehatan justru kita abaikan. Fenomena seperti ini berawal dari keangkuhan, dan disetiap krisis sikap angkuh sudah menjadi sangat lumrah dialami setiap manusia, sikap yang seperti ini muncul saat kita menempatkan solidaritas dan empati sosial hanya sebagai wacana bukan sebatas tindakan

Setelah pandemi maupun di masa pandemi sebenarnya generasi Z bagi saya sudah mengisi ruang strategis menjadikan solidaritas dan empati sosial bukan hanya sebatas momentum tetapi jalan logis yang harus terus dilakukan. Selama pandemi, kita bisa lihat bagaimana dunia digital dibanjiri oleh konten kebaikan baik yang digagas secara individual maupun kelompok oleh generasi Z jadi anggapan jika generasi Z adalah generasi yang minim kepedulian tidaklah benar dan peran seperti ini akan terus mereka mainkan baik sebagai alternatif perlawanan Non-kekerasan dan Non-Politis terhadap ketidakadilan di masyarakat maupun sebagai bukti kecintaan mereka terhadap tanah air.

Menjadikan pengilmuan terhadap pemahaman agama sebagai solusi

Selama pandemi covid banyak yang menyangkal virus ini tidak ada, ironisnya pembenaran atas dasar agama seringkali dipakai dengan pemahaman yang sebenarnya dipangkas lewat sikap yang reaktif. Maka pada akhirnya menjadi wajar jika Logika sesat yang menyatakan jika “Mati dan hidup bergantung Tuhan” seringkali kita dengar sehingga menjadikan image agama sebagai solusi kabur, malah justru menjadikannya bahan tertawaan bahkan ada sebagian orang yang akhirnya mempertentangkan antara agama dan ilmu pengetahuan, mereka menganggap agama tidak memainkan peran apapun sebagai solusi yang efektif. 

Generasi Z sebagai generasi yang memiliki kesadaran terhadap identitas keagamaan yang rasional  tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam mendewasakan pemikiran keagamaan masyarakat,apalagi ketika berhadapan dengan situasi krisis seperti ini. Sebenarnya agama dalam setiap krisis selalu memberikan solusi hanya saja manusianya banyak yang tidak cukup paham untuk memahami secara dalam agamanya.

Kondisi keagamaan yang semacam ini mengingatkan saya pada seorang antropolog berkebangsaan Inggris yang bernama Edward Burnett Tylor (1832-1917) dengan karya spektakulernya, Primitive Culture (1871). Ia hadir sebagai seorang ilmuwan di bidang sosial yang menentang pandangan tradisional tentang teori asal-usul sebuah agama. Tylor menegaskan bahwa untuk mempelajari asal-usul agama kita harus mendapatkan data (etnografi) yang menyeluruh tentang suatu kebudayaan dalam segala bagian komponennya. Metode ini mengharuskan seorang ilmuwan sosial untuk mampu meneliti tindakan-tindakan, kebiasaan, ide-ide, dan adat istiadat yang dimiliki oleh sebuah masyarakat. Oleh karena itu kajian etnologi menjadi sedemikian penting untuk dapat mengungkap posisi sebuah agama dalam suatu masyarakat.

Dengan kata lain, untuk dapat mendefinisikan apa itu agama dan bagaimana posisinya di masyarakat, kita diharuskan untuk melihat dan meneliti bagaimana para penganut agama tersebut dalam mengejawantahkan berbagai tindakan-tindakan mereka yang berhubungan dengan perilaku keberagamaan, melalui berbagai kebiasaan (folkways) dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari, melalui ideologi-ideologi keagamaan yang berkembang, dan melalui berbagai adat istiadat yang mengatur tata cara praktik ritual keagamaan yang dilaksanakan pada masing-masing masyarakat dimana mereka tinggal.

Secara sosiologis, pemahaman seperti ini membawa konsekuensi pada munculnya kedudukan sebuah agama yang (hanya) dimaknai sebagai sebuah lembaga sosial biasa dan tidak jauh berbeda dengan lembaga-lembaga sosial lainnya, seperti misalnya lembaga hukum, lembaga ekonomi, lembaga pendidikan, dan lain-lain. Dimana tingkat popularitas, kemajuan, dan tinggi rendahnya legitimasi yang dimiliki sebuah agama di mata masyarakat, seakan-akan dapat ditentukan hanya dengan mengukur tinggi rendahnya kuantitas penganut yang dimilikinya, ditentukan dari ada dan tidaknya adat istiadat yang mengatur tata cara ritual keagamaan yang dimilikinya, dan dari bagus tidaknya ideologi keagamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakatnya.

Bahayanya, pemahaman atas definisi agama yang seperti ini akan menggiring kita pada upaya pengkerdilan atas konsep agama ini sendiri secara umum di masyarakat. Dan sadar atau tidak, selama ini kita telah terlanjur terjerumus dan berada pada track pemahaman yang sama.

Lalu kemudian dimana peran generasi z? disinilah sebenarnya mereka dengan semangat digitalnya telah bergerak secara massif baik secara individual maupun organisasi untuk  mengajak kita bersama-sama, mengupayakan sebuah misi mulia untuk mendewasakan kembali pemahaman  terhadap agama.

Bahwa realitas sosial apapun, di belahan bumi manapun, dengan konsekuensi ledakan destruksi (sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum) seburuk apapun, tidak ada yang boleh menggeser posisi dan keberadaan hakikat Tuhan itu sendiri apalagi menjadi legitimasi untuk menghakimi agama bukanlah solusi.

Generasi Z disini berperan sangat penting baik pada saat corona maupun sesudahnya untuk terus konsisten membuat narasi-narasi maupun gerakan yang membumikan pemahaman keagamaan yang rasional disetiap krisis yang mungkin akan terjadi sehingga agama akan menjadi ilmu untuk menemukan solusi disamping hanya serangkaian ritual apalagi dogma semata karena agama hakikatnya sangat luas. 

Referensi 

Tentang Penulis 

Penulis adalah mahasiswa master antropologi di Universitas Kebangsaan Malaysia dan aktif di muhammadiyah Malaysia serta Menjabat sebagai anggota bidang keorganisasian KNPI Malaysia. 

Editor: Abdu Al-Dayyan & Fina Kardiani

Leave a Reply