Tanggapan Terhadap Sekularisme Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Sekularisme merupakan topik yang sangat penting untuk didiskusikan. Pasalnya, topik yang satu ini telah membawa perselisihan dan kekacauan pada semua aspek kehidupan di dunia saat ini. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mempelajari sekularisme dalam membangun pemahaman yang benar. Sepanjang sejarah kita bisa menemukan beberapa tokoh yang terlibat mengangkat isu sekularisme, salah satunya adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas dengan penemuan sebuah buku berjudul “Islam and Secularism”. Melalui pencariannya ini, al-Attas menemukan bahwa sekularisme telah membebaskan manusia.

Sekularisme adalah ideologi yang muncul dari proses sekularisasi. Itulah perdebatan sejarawan mengenai bagaimana proses kemunculan sekuler, sekularisasi sampai ke sekularisme itu sendiri. Eropa Barat telah mengalami sekularisme sejak 250 tahun terakhir. Selanjutnya, pemahaman ini mengangkat setinggi-tingginya keistimewaan kemanusiaan, keduniawian dan materialitas sebagai yang utama dan penting bagi kesejahteraan dan keamanan manusia di dunia. Mengingat pentingnya kedudukan dan pengaruh pemikiran al-Attas dalam ranah pemikiran Islam, membawanya untuk membahas permasalahan pokok dalam penelitian ini, yang meliputi pengertian, akar sejarah, unsur, dampak, dan solusi untuk sekularisme

Adapun metode penelitian dalam sumber ini adalah deskriptif-kualitatif, yaitu mendeskripsikan secara tertib dan utuh mengenai konsep budi pekerti dengan cara mengumpulkan data dari beberapa sumber primer dan sekunder, kemudian diklasifikasikan, dan dianalisis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa al-Attas menolak penerapan konsep sekularisme kepadanya, karena dianggap bukan Islam dan asing baginya dalam segala hal. Dan yang terakhir, dalam menghadapi sekularisme ini, al-Attas menghimbau umat Islam, khususnya para ulama dan ulama untuk mengkaji kembali dan memahami pandangan dunia Barat secara lebih cermat dan mendalam. Selain itu, umat Islam juga harus mempelajari dan memahami kembali pandangan alamiah Islam dengan lebih benar dan serius melalui karya-karya ulama sejati agung di masa lalu, yaitu para mujtahidūn, orang-orang yang alim dan berakhlak mulia, berintelektual dan kesempurnaan spiritual yang merupakan penerus dakwah para Nabi dan Rasul yang telah dibimbing oleh Allah SWT.

Dan juga dalam pengamatannya ini, al-Attas menyatakan bahwa banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kehidupan manusia, namun tidak ada yang lebih serius dan destruktif dari tantangan yang dibawa oleh peradaban Barat saat ini. Dalam Islam dan Sekularisme, ketika di Risalah, al-Attas juga mengatakan “Dibandingkan dengan Islam, peradaban Barat tidak menjelaskan hubungan antara ilmu dan agama, hikmah dan keadilan, akhlak dan budi pekerti”. Mereka hanya menganggap bahwa ilmu itu hanya permasalahan alam dan tanpa ada kaitannya dengan agama. 

Dan jauh sebelum Bernard Lewis dan muridnya, Samuel P. Hungtington, yang gemar mengangkat isu “The Clash of Civilization” telah menghadapkan peradaban Islam dan Barat. Sebenarnya studi tentang peradaban Barat telah lama berkembang di kalangan ilmuwan Muslim dan para tokoh Muslim lainnya yang telah memberikan kritik dan analisis tajam terhadap karakteristik peradaban Barat. Dan yang terakhir, al-Attas berpendapat bahwa sekularisasi diartikan sebagai pembebasan manusia ‘pertama dari agama dan kemudian dari metafisika yang mengatur nalar dan bahasa’, yang berarti pelepasan dunia dari gagasan agama dan agama yang telah menghalangi semua pandangan dunia yang tertutup.

Editor: Elsani Vikanza & Akbar Jihad Sagran

Sekularisme dan Konsep Negara sekuler

Di Eropa, pada abad pertengahan, orang-orang beragama cenderung mengabaikan hal-hal manusia dan merenungkan Tuhan dan kehidupan sesudahnya. Sekularisme Renaisans bereaksi terhadap kecenderungan abad pertengahan ini

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com