Kehidupan Dinamis. Tamu yang Tak kunjung Usai

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

kehidupan dinamis yang begitu lika liku dan juga berbagai peristiwa yang datang silih berganti dalam kehidupan seringkali membawa kita ke dalam kebahagiaan dan kesedihan. Kebahagiaan, keberhasilan, kesedihan, kekecewaan dan kehilangan merupakan tamu yang sebelumnya tidak pernah kita perkirakan kedatangannya.

Kebahagiaan dan kesuksesan biasanya akan disambut dengan tangan yang terbuka, senyuman yang lebar, bahkan semangat yang gegap gempita, sedangkan kesedihan disambut dengan tangisan dan kekecewaan bagi orang yang merasakan kedatangannya. Kekecewaan merupakan refleksi dari sesuatu yang buruk atau bentuk kesedihan lainnya dan sering dipandang sebagai hal yang bersifat negatif, tergantung pada bagaimana inspirasi dan tujuan yang akan diperoleh antara diri sendiri atau orang lain.

Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa kita masih seringkali melihat kesedihan sebagai penyakit yang harus disembuhkan sedangkan kebahagiaan merupakan anugerah kehidupan? Padahal keduanya hanyalah emosi dan bagian dari hidup.

Terkadang kita mencoba mencari solusi agar kita tidak perlu bersedih dan kecewa, sehingga kita selalu lupa untuk merasakan, menikmati dan menyadari bahwa tanpa kesedihan dan kekecewaan resep hidup tidak akan lengkap, dan tentunya untuk memberi rasa pada resepnya, kita harus meletakkan semua emosi di piring kehidupan yang dinamis ini.

Salah satu perbedaan yang sering kita lihat dalam hal ini adalah “Kebahagiaan dipraktekkan dan disambut di depan dunia, sedangkan kesedihan dipraktekkan dan disambut dalam kesepian. Ini sama seperti kesuksesan menghantam kita di depan umum, sementara kegagalan menghargai kita secara pribadi”.

Ingatlah, bahwa dunia tidak mungkin ada di mana semua orang selalu bersuka cita. Tidak ada kesedihan maka mulut semua orang akan sibuk tertawa. Sebagai manusia, kita harus merasakan setiap rasa kehidupan dinamis mau kita menyukainya ataupun tidak. Kita tahu, kebahagiaan adalah emosi dominan yang selalu menarik kita ke arahnya dan fokus utama kita semua adalah mendapatkannya.

Ada begitu banyak variasi dalam perasaan kita, lalu mengapa terjebak hanya dalam satu perasaan?

Menyembunyikan kesedihan di balik senyuman, dan menggambarkan diri kita bahagia kepada dunia tidak mengandung solusi untuk suatu permasalahan. Itu tidak membuat kita pergi ke ujung kehidupan dan akhir hidup yang indah.

Rasa bosan, berharap, takut, senang, kecewa, dan kita hanya diberi satu kehidupan dinamis untuk mengalaminya. Setiap emosi memiliki esensi dan kepentingannya sendiri, kita harus belajar menghargai ciptaan Tuhan karena kita adalah salah satunya. Hargai perasaan yang murni dan nyata karena hal itu membuat kita merasa benar-benar hidup.

Saya percaya pada skenario Tuhan, kita hanya bisa berusaha dan berencana, tetapi Tuhan yang menentukan, dan percayalah bahwa Tuhan tidak akan pernah mendzalimi hambaNya.

Sebagaimana yang telah Ia janjikan di Q.S An-Nisa ayat 40 “Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil dzarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.”

Awalnya mungkin sulit untuk menerima kesedihan, kekecewaan dan kegagalan sebagai tamu, namun apapun yang datang ke dalam kehidupan harus kita terima dan sambut dengan baik.

Untuk menyikapi hal ini, saya pernah membaca konsep jepang yang diajarkan oleh Sen no Rikyu (1522–1591), yang berbunyi ichi-go-ichi-e dalam bahasa Indonesia berarti satu kehidupan satu kesempatan.

Konsep ichigo ichie yang diibaratkan dengan upacara minum teh oleh Sen no Rikyu merupakan sambutan tuan rumah kepada tamu yang datang ketika berkunjung dengan menyajikan teh terbaik dan dengan hati yang tulus, itu menggambarkan seakan-akan mereka tidak akan bertemu kembali. Mengamati, menghargai dan menikmati merupakan 3 prinsip utama dalam konsep ichigo ichie.

Sebagai pengingat bahwa kita adalah pemeran utama di masing-masing kehidupan, maka yang dapat kita lakukan untuk menyambut tamu itu adalah dengan menjadi manusia terbaik versi kita dalam kehidupan sendiri begitu pula orang lain.

Dan tak lupa “Bersenang-senanglah saat kita merasa perlu, menangislah saat kita membutuhkannya. Tetaplah mencintai diri sendiri apapun yang terjadi, dan biarkanlah perasaan yang datang melakukan tugasnya. Rangkulah air mata sebanyak kita merangkul senyuman. Sambut, rayakan dan hidupilah ketidaksempurnaan!

Editor: Wildana Salahuddin & Akbar Jihad Sagran

Sekularisme dan Konsep Negara sekuler

Di Eropa, pada abad pertengahan, orang-orang beragama cenderung mengabaikan hal-hal manusia dan merenungkan Tuhan dan kehidupan sesudahnya. Sekularisme Renaisans bereaksi terhadap kecenderungan abad pertengahan ini

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com