Seni Membangun Intelektual Baru Ala Bung Karno

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Seni Membangun Intelektual Baru Ala Bung Karno, seperti hal berikut ini “Hilangkan sedih dan duka, mari bersukaria” 

Kutipan yang saya ambil dari lirik lagu ciptaan Bung Karno berjudul “Mari bersuka ria” itu, mungkin bisa menjadi gambaran tentang apa tujuan besar Bung Karno bagi kita, bangsa Indonesia. Tentunya tidak lain adalah menuju masyarakat yang bahagia lahir dan batin. 

Namun, sebagaimana yang kita tahu, tujuan itu bukan tidak terlaksana, tetapi terhenti sejenak jalan pelaksanaannya saat Bung Karno harus disingkirkan secara tidak adil. Kemudian setelah itu, ide-idenya dimatikan atau hanya sekedar difosilkan saja lewat perayaan-perayaan formal tanpa esensi yang revolusioner.

Hampir seabad pasca meninggalnya Bung Karno, saya melihat masih banyak sekali sikap antipati terhadap ide-idenya. Terutama soal kebahagiaan, kesetaraan, dan tentunya keadilan sebagai umat manusia. Kita merasakan semakin hari politik fasis berbalut agama, dan ironisnya memakai nama pancasila, menjadikan kita berhadapan dalam kelompok ‘kita vs mereka’. Seperti yang sekarang terjadi, dimana masyarakat terus menerus ditakuti oleh hantu

Bung Karno, dalam setiap ajaranya selalu menentang penggunaan politk dengan “Language of otherness” yang membagi manusia Indonesia, bahkan internasional dalam golongan-golongan. Kemudian menghadapkannya dengan isu-isu yang remeh-temeh. Semacam yang kita alami sekarang. Semacam neo-devide et empire baru yang akhirnya membuat Indonesia selangkah menuju kehancuran, atau bahkan tetap berada di jalur kemunduran. 

Apa yang justru Bung Karno ajarkan adalah politik kemanusiaan. Yang tidak hanya retorik tetapi juga diagnostik, yang menggali apa dan bagaimana sebab-sebab masalah kemausiaan tetap terwujud. Sebagaimana yang pernah beliau katakan di hadapan akademisi Universitas Karolina, di Cekoslowakia pada saat mendapatkan honoris causa pada tahun 1956 dari universitas tersebut.

Dalam pidatonya tersebut, Bung Karno menjelaskan  “ Kemanusiaan belum mencapai kebahagiaan di dunia. Masih banyak penyakit yang mengganggu kebahagiaan manusia. Kolonialisasi dan kapitalisasi belum mati. Ancaman perang atom masih belum selesai. Kemanusiaan masih dalam bahaya. Jika dunia ingin terlepas dari penyakit kapitalisme dan imperialisme; dari ancaman baru perang atom; jika ingin menuju kehidupan yang bahagia, tidak ada jalan lain selain bekerja bersama saling menguntungkan.”

Apa yang dikatakan Bung Karno kurang lebih 64 tahun lalu, sebenarnya tetap terjadi pada era kita sekarang. Dimana kolonialisasi dan kapitalisasi tetap tidak mati bahkan berubah memiliki gaya baru. Hal ini sering kali menjebak banyak orang seakan-akan semua penyakit kemanusiaan ini sudah mati. 

Oleh karena itu, Bung Karno dalam setiap tulisannya selalu menekankan pentingnya berpikir diagnostik, bertindak  humanistik, dan berorganisasi secara  revolusioner. Ini tidak terlepas dari jalan perjuangan rakyat sebagai senjata utama untuk menghadapi masalah-masalah kemanusiaan.

Namun sayangnya, di era yang disebut oleh Tom Nicholson sebagai era “matinya kepakaran” saat intelektual justru tidak dihargai lagi dan semakin banyak orang memandang rendah ilmu pengetahuan. Lambat laun apa yang sebenarnya menjadi ajaran emas Bung Karno justru hilang. Namun sebenarnya usaha ini bisa kita bangkitkan saat kita sebagai anak muda, berusaha untuk tidak hanya mengenal si bung besar lewat diorama-diorama dangkal, tetapi juga apa yang menjadi warisan intelektualnya.

Marhaenisme  Sebagai Sebuah Ilmu Sosial – Kritis 

Marhaenisme, mungkin istilah ini tidak asing bagi kita semua. Bahkan selama saya berkuliah di Malaysia, kata marhaen seringkali dipakai oleh orang Malaysia untuk menjelaskan segelongan  masyarakat yang tidak beruntung daripada golongan masyarakat lain.

Di Indonesia sendiri, diskursus marhaenisme bukan tidak ada. Tentu saja ada, namun intensitasnya sangat kurang bahkan menurut saya, konsep ini gagal dipahami sebagai sebuah ilmu sosial-kritis yang berakar dari hidupnya orang Indonesia. 

Di dunia akademik, berdasarkan pengalaman saya, sangat jarang sekali marhenisme disentuh sebagai suatu konsep berpikir. Teori-teori sosial banyak sekali mengambil dari pandangan barat yang tentu saja tidak semua bisa diterapkan dalam tindakan untuk merubah kondisi Indonesia yang sudah ada. 

Ada yang unik bagi saya dari marhaenisme. Konsep ini tidak hanya menenkan kita untuk berpikir diagnostik, tetapi juga menerapkannya mengunakan daya-daya ketuhanan yang kalau kata Bung Karno “ilmu amaliyah dan amaliyah- ilmu” sehingga goal akhirnya terciptalah ummah al wahidah (sebuah tatanan masyarakat yang terintegrasi, utuh, dan terpadu), ummah al washatan (masyarakat yang moderat)dan khairu al ummah (masyarakat yang unggul).

Tetapi bagaimana cara praksis marhaenisme bisa kita terapkan, baik dalam pikiran maupun tindakan, untuk menciptakan Indonesia yang ideal?

Tentu saja hal pertama yang harus kita lakukan adalah meluaskan sekaligus membumikan marhaenisme di tengah masyarakat Indonesia bahkan global. Setelah itu, kita harus menjadikan marhaenisme sebagai konsep dasar berpikir diagnostik sekaligus reflektif yang biasa kita lakukan. Kemudian kita pun harus berani untuk tidak memumikan ajaran Bung Karno. Tetapi menjadikannya pengetahuan rasional sekaligus refeleksi- kritis. 

Tentu saja untuk mencapai semua itu, kita sebagai generasi muda harus memiliki iccha shakti, yaitu kebulatan tekad untuk mengubah kondisi yang penuh kezaliman di bangsa kita. Kemudian jnana shakti, yaitu kebulatan semangat untuk mencari dan mengembangkan pengetahuan. Dan yang tak kalah penting kriya shakti, yaitu kemauan untuk bertindak.

Bung Karno pernah berpesan dalam buku Wedjangan Revolusi bahwa untuk merubah Indonesia, kita harus menjadi abdinya Tuhan, abdinyaa rakyat, dan tentu saja abdinya republik (dalam konteks Indonesia). Tapi bisa menjadi abdi juga dalam konteks negara anda. Taktisnya dengan melalui hati yang baik, otak yang cerdas, dan kenangan-kenangan yang tinggi, yang mana yang terakhir ini saya artikan sebagai harapan.

Kaum muda yang mendaku dirinya intelektual, dimanapun juga harus berani dan bangkit untuk mengambil semangat dan warisan apinya Bung Karno. Bukan hanya abunya yang sedemikian lama di mumikan oleh rezim yang berkhianat.

Referensi 

Lebih lanjut baca Arsip Universitas Karolina, “President Sukarno Awarded honorary Doctorate of Law, Charles University”, Prague, 1956, hal 12-13)

Tentang Penulis 

Penulis adalah mahasiswa master antropologi di universitas kebangsaan Malaysia dan aktif di muhammadiyah Malaysia serta Menjabat sebagai anggota bidang keorganisasian KNPI Malaysia. 

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com