Self-Boundaries Untuk Melindungi Diri, Benarkah?

Self-Boundaries: Banyak dari kita mungkin sering merasa tidak dihargai, sering disuruh-suruh, dan dimanfaatkan oleh orang-orang di lingkungan masing masing. Atau kita merasa memberikan terlalu banyak hal seperti waktu, materi, atau energi kita untuk orang lain. Hal ini mungkin terjadi karena secara tidak sadar kita mengizinkan orang-orang memperlakukan kita sedemikian rupa. Kita tidak memiliki batasan antara diri kita dengan orang lain.

Batasan atau boundaries adalah limit yang kita buat untuk melindungi diri kita sendiri dari perlakuan semena-mena orang lain. Batasan ini dibuat oleh setiap individu untuk menetapkan jarak fisik, mental, emosi, materi, seksual, dan juga spiritual yang berlaku untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Dr. Hanry Cloud bersama dengan Dr. John Townsend dalam bukunya yang berjudul Boundaries menuliskan bahwa batasan itu seperti rumah. Dengan pagar, pintu dan kamar sebagai batasan batasannya. Beberapa orang kita izinkan untuk hanya berada di luar pagar, beberapa orang lainnya dapat masuk ke ruang tamu, dan beberapa lainnya lagi kita izinkan untuk masuk ke dalam kamar kita.

Ada enam kategori atau jenis dari personal boundaries. Pertama adalah physical boundaries atau batasan yang berkaitan dengan ruang, privasi, dan tubuh pribadi kita. Contohnya, muslim yang membuat jarak untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram-nya. Islam sebagai agama dan nilai yang dipegang dan dipercaya, membuat seseorang membatasi dirinya untuk tidak bersentuhan dengan orang lain kecuali mahram-nya.

Yang kedua adalah batasan yang bersangkutan dengan mental. Pengaplikasian dari hasil pikiran kita, nilai yang kita pegang, dan pendapat. Seperti pengatahuan kita terhadap hal yang kita percaya, bisakah kita berpegang teguh dengan prinsip hidup kita, atau bagaimana kita mendengarkan dan menerima pendapat orang lain.

Selanjutnya adalah batasan yang berkaitan dengan materi. Aplikasinya berupa menentukan siapa saja orang yang bisa kita bagi harta kita, atau siapa saja orang yang kita perbolehkan untuk meminjam uang, baju, sepatu, atau apa pun yang bersifat materi.

Keempat adalah emotional boundaries. Ini adalah jarak yang yang kita buat untuk memisahkan emosi dan tanggung jawab emosional kita terhadap orang lain. Memiliki emotional boundaries yang sehat melindungi kita dari perasaan bersalah terhadap kejadian buruk yang menimpa orang lain (bukan berarti menghilangkan perasaan simpati dan empati kita), dan juga membantu kita dalam memilah perkataan orang lain terhadap diri kita.

Yang kelima adalah sexual boundaries. Ini adalah batasan yang menetukan level kenyamanan seseorang terhadap sentuhan ataupun kegiatan seksual. Dan yang terakhir adalah spiritual boundaries atau batasan yang berhubungan dengan kepercayaan dan pengalaman kita terhadap Tuhan.

Kenapa Penting untuk Membuat Batasan?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, batasan dibuat untuk melindungi diri kita sendiri dari orang lain. Batasan tidak dibuat untuk mengatur orang lain berprilaku sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Mungkin terlihat mirip, namun dalam pengaplikasiannya self-boundaries berfokus pada diri sendiri. Seperti, apa yang kita suka, apa yang kita tidak suka, apa yang kita inginkan dan apa yang tidak kita inginkan, sesuai dengan nilai yang kita pegang.

Memiliki batasan juga membantu kita untuk memiliki hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitar kita. Karena pada dasarnya, hubungan yang sehat didasari dari kemampuan individunya untuk menghargai satu sama lain.

Terakhir, self-boundaries adalah salah satu bentuk self-compassion. Membantu kita dalam meningkatkan rasa bahwa masing masing individu itu berharga termasuk dirinya sendiri.

Kenapa Sulit untuk Mengaplikasikan Batasan yang Kita Punya?

Ini adalah langkah yang menurut saya paling sulit, yaitu mengaplikasikan batasan yang kita punya. Self- boundaries memang sangat sulit untuk diterapkan karena sebagian dari kita mungkin takut untuk terlihat kaku, ribet, gak santai, dan gak asik.

Terutama untuk para people pleaser. Karena orang-orang ini cenderung lebih memikirkan perasaan orang lain dibandingkan dengan perasaan dirinya sendiri. Bahkan, beberapa orang merasa tidak berhak untuk membuat batasan karena takut untuk menyinggung orang lain.

Belum lagi konfrontasi terhadap orang orang yang tidak bisa menerima batasan yang telah kita buat. Padahal, dalam menetapkan batasan kita perlu membicarakannya dengan orang yang bersangkutan. Walaupun, belum tentu semua orang mau menerimanya. Oleh karena itu, menetapkan batasan seringkali dianggap membahayakan hubungan.

Selain dari alasan alasan yang disebut di atas, sulitnya mengaplikasikan batasan mungkin terjadi karena kita tidak cukup mengenal diri kita sendiri, pun juga bisa terjadi karena tidak tahu bagaimana cara untuk memiliki batasan yang sehat.

Bagaimana cara menetapkan batasan yang efektif?

Untuk dapat menetapkan batasan kepada diri sendiri dan juga orang lain, yang harus kita lakukan pertama kali adalah mencari tahu nilai apa yang kita percaya dan prinsip hidup seperti apa yang ingin kita pegang. Tentu saja dengan alasan mengapa nilai dan prinsip tersebut penting untuk kita.

Boundaries berhubungan erat dengan situasi, kondisi, dan orang orang yang kita hadapi.  Maka penting untuk kita mengkategorikan nilai-nilai yang kita pegang. Seperti nilai mana yang bisa kita toleransi, dan mana yang tidak, mana yang lebih fleksibel dan mana yang rigid, dan sebagainya.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, batasan bukan hal yang mudah untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun untuk dapat memahami dan menghargai diri kita sendiri dan orang lain, boundaries sangatlah diperlukan.

Maka dari itu, penting untuk kita saling belajar mengkomunikasikan batasan tersebut dengan cara yang tenang, tegas, dan sopan. Membiasakan diri dengan menerapkan komunikasi asertif juga bisa menjadi salah satu langkah yang efektif.

Dear people, you are loved and worth. Selamat berkembang!

Editor : Akbar Jihad Sagran & Muhammad Khalifa Arrahman Gazi

Leave a Reply