Index Negara, meperhitungkan Rapuhnya pada Kondisi Krisis dan Kegunaannya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Index Negara selama pandemi yang telah kita alami dan masih kita hadapi ini membawa banyak akibat yang kita sudah alami, tengah dan akan kita hadapi kedepannya. Mulai dari krisis kesehatan, macetnya roda ekonomi, hingga krisis sosial merupakan dampak yang mau tidak mau kita telan sebagai tindakan adaptif kita dalam melawan COVID-19. Dampak yang telah disebutkan hanya sebuah gambaran garis besar dari dampak yang lebih besar dan kompleks terhadap sebuah negara. Tentunya hal tersebut memberikan dampak dalam perhitungan Indeks Negara Rapuh (Fragile States Index). Indeks Negara Rapuh akan memiliki banyak faktor pembeda dibanding tahun tahun sebelumnya. Lantas bagaimanakah perhitungan Index Negara Rapuh ditengah krisis pandemi COVID-19?

Karena banyak negara terus menderita ribuan kematian dan jutaan orang mengalami isolasi sosial serta menghadapi kesulitan ekonomi akibat COVID-19, FSI 2020 tidak akan memberikan data atau analisis apa pun tentang bagaimana krisis yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 memengaruhi sosial, ekonomi, dan nasib politik dari 178 negara yang diukurnya. Bagi beberapa negara yang mengalami krisis tersebut, mungkin ini akan sangat melegakan. Barangkali salah satu aspek yang paling membatasi dari indeks tahunan adalah definisi retrospektif.

Pada saat angka-angka dihitung, data dianalisis, dan semua grafik mewah diterbitkan, sesuatu yang baru dan tidak terduga telah menarik perhatian publik dan hasil indeks tampaknya tidak terlalu penting lagi. Memang, FSI 2012 diterbitkan tepat saat negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara berada dalam cengkraman ‘Arab Spring’, yakni pada periode penilaian FSI untuk tahun sebelumnya telah ditutup hanya 13 hari setelah Mohamed Bouazizi, seorang pedagang kaki lima Tunisia, membakar dirinya sendiri sebagai tanggapan atas penganiayaan polisi. Hal ini memicu Kebangkitan Arab yang akan segera melanda sebagian besar Afrika Utara dan Timur Tengah.

 FSI dirilis dengan hampir tidak mencatat revolusi yang akan datang, sama seperti mata dunia yang terfokus pada protes massa yang menyebar dengan cepat di Mesir, Libya, Maroko, Oman, Suriah, Tunisia, dan Yaman. Sekarang ada kesan deja vu untuk FSI sehubungan dengan pandemi COVID-19, karena krisis saat ini di dunia tidak secara eksplisit dalam hasil FSI. Namun, ini tidak berarti FSI tidak memberi tahu kita tentang masa kini atau masa depan. Kegunaan kumpulan data seperti FSI tidak ditemukan hanya dengan mencerminkan ticker CNN kembali kepada kita. Dalam memberitahu kita bahwa Yaman, Somalia, Suriah atau Libya adalah negara yang rapuh, FSI tidak memberikan banyak nilai tambah bagi negara-negara semacam itu. Sangat tidak membantu untuk memberi tahu kita bahwa negara-negara Skandinavia pada umumnya sangat stabil. Dan hari ini, FSI tidak akan memberi banyak nilai dalam mengukur dampak COVID-19 di tengah krisis yang sedang berlangsung.

Sebaliknya, tren jangka panjang FSI-lah yang secara unik membantu dalam memandu pembuat dan pelaksana kebijakan dalam memahami dimana resiko ada dan meningkat, atau dimana perbaikan yang tenang dan mantap bergerak maju. Dilihat dengan cara ini, indeks dapat digunakan untuk menjelaskan konteks dimana krisis seperti ‘Arab Spring’, Pandemi COVID 19, atau guncangan atau potensi darurat lainnya mungkin terjadi. Dalam situasi tekanan demografis yang tinggi, misalnya, bagaimana negara akan mengelola tekanan ekstra pada sistem kesehatan mereka? Dalam situasi keluhan kelompok tinggi, bagaimana masyarakat akan memobilisasi upaya kolektif yang diperlukan untuk merespons.

Editor: Khalifa Arrahman Gazi & Akbar Jihad Sagran

Sekularisme dan Konsep Negara sekuler

Di Eropa, pada abad pertengahan, orang-orang beragama cenderung mengabaikan hal-hal manusia dan merenungkan Tuhan dan kehidupan sesudahnya. Sekularisme Renaisans bereaksi terhadap kecenderungan abad pertengahan ini

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com