Moralitas Manusia “Common Sense” yang Terlupakan

Seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua hal dapat diajarkan, begitu juga dengan Common Sense. Lalu, apa itu Common Sense? Common Sense dalam Bahasa Indonesia berarti “akal sehat”, namun common sense juga dapat diartikan sebagai etika sosial, awareness, logika, sopan santun, dan moralitas manusia.

Selain itu, Common Sense menurut George Edward Moore merupakan suatu kemampuan terpadu antara aktivitas penginderaan dengan aktivitas kesadaran untuk memahami objek benda material secara langsung.

Menurut saya, Common Sense adalah basic manner atau konsep dasar yang harus dipahami oleh semua orang. Common Sense juga tidak diajarkan secara formal di dalam kelas, namun hal-hal tersebut diajarkan, dikembangkan, dan dipoles melalui pengalaman hidup. Sebagai contoh, menghargai seseorang yang sedang berbicara, merespon dan berkontribusi pada suatu pekerjaan, dan juga memberi minum kepada orang yang tersedak ketika makan. 

Memiliki kecerdasan tidak menjamin seseorang memiliki Common Sense yang baik, sangat mungkin bagi seseorang memiliki nilai akademik yang sangat baik namun ia memiliki sedikit Common Sense. Kita mungkin saja hafal dan dapat menjawab soal ujian tentang bagaimana adab terhadap guru, orang tua dan sesama. Namun, itu hanya sebuah aspek kecerdasan yang tidak dapat kita gunakan dalam menilai Common Sense seseorang.

Maaf, terima kasih, dan tolong merupakan tiga kata ajaib yang sering kita lupakan. Beberapa orang merasa rendah dan jahat jika mereka mengatakan “maaf”, merasa tidak mandiri jika mereka mengucapkan kata “tolong”, dan gengsi jika mengucapkan “terima kasih”. Padahal hal tersebut merupakan etika dasar dalam interaksi sosial kita sebagai manusia untuk menunjukkan kepadanya bahwa sikap mereka cukup dihormati, dihargai, dan mengakui apa yang mereka lakukan untuk kita.

Lalu apa acara terbaik untuk menangani seseorang yang tidak pernah melakukannya?

Lupakanlah dan terus maju, karena kita tidak dapat mengontrol reaksi dan perilaku seseorang terhadap diri kita. Tetapi kita akan selalu mempunyai kontrol dan menentukan pilihan untuk diri kita sendiri. Selain itu, jika kita melakukan suatu hal hanya karena suatu ucapan, maka kita melakukannya untuk alasan yang salah, kita harus melakukan sesuatu karena kita ingin melakukannya terlepas dari bagaimana orang bereaksi.

You don’t need to deal with a thankless person, his thanklessness will deal with the person itself

Sebagai pengingat bahwasanya kita sebagai manusia sering merasa superior, arogan, dan lupa jika kita saling membutuhkan. Proses pendewasaan akan membuat kita semakin sadar untuk mengetahui kapan dan dimana harus mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan meminta tolong, sehingga pada titik tertentu. Kita tidak punya alasan lagi untuk tidak melakukannya, karena hal ini dapat menunjukan moralitas dan siapa diri kita.

Semoga kita semua tetap menjadi pribadi yang memiliki sopan santun dan tidak melupakan hal-hal kecil, terlebih terhadap etika interaksi satu sama lain.

Good people act politely because it is the right thing to do, not because they are desperate for gratitude and recognition of how wonderful they are.

Have a blessed day dan selamat menjalani hari-harimu orang baik!

Penulis: Elsani Vikanza Editor: Djordie Khulafaurrasyidin dan Fina Kardiani

Leave a Reply