Hubungan antara Kebahagian dan Bersyukur.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Hubungan antara Kebahagian dan Bersyukur memiiki hubugan yang sangat signifikan. Semua manusia pasti pernah merasakan yang namanya kebahagiaan. Setiap manusia merasakan kebahagiaan yang berbeda-beda dan itu adalah hak masing-masing individu. Dan tentu, sebagai manusia harus mempunyai rasa bersyukur untuk apa yang ia perbuat dan ia dapatkan. Berbicara tentang manusia, sudahkah kita menjadi manusia yang manusia? Dan adakah korelasi antara kebahagiaan dan rasa bersyukur?

Dikutip dari KBBI, kebahagiaan berasal dari kata dasar “Bahagia” yang berarti keadaan atau perasaan senang dan tentram (bebas dari segala hal yang menyusahkan) dan beryukur berasal dari kata “Syukur” yang berarti rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2 hal penting ini adalah hal yang sangat mendasar pada kehidupan dan kita sebagai manusia, sangat perlu mendapatkan kebahagiaan dan juga bersyukur atas apa yang sudah kita lalui.

Dalam pandangan Abu Hamid al-Ghazali, bahagia atau kebahagiaan merujuk pada istilah sa’adah, yang berhubungan dengan dua dimensi eksistensi; dunia saat ini dan akhirat. Menurutnya kebahagiaan merupakan suatu kondisi jiwa yang tenang, damai tanpa suatu kekurangan apapun. Pada takdirnya manusia adalah sebuah makhluk yang tidak pernah puas. Namun, apa salahnya kita sebagai manusia berhenti sejenak untuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Ambisius boleh, namun jangan berlebihan. Memangnya, apa sih yang dikejar sampai lupa untuk bersyukur?

Seperti layaknya menggenggam pasir, kebahagiaan akan hilang apabila semakin digenggam. Jika tidak digenggam ia akan hilang juga. Maka, ada kalanya sebagai manusia mensyukuri segala kebahagiaan yang telah didapat. Dimulai dari hal-hal kecil seperti bertemu orang,  sampai sudah makan apa hari ini. Merespon hal-hal kecil yang terkadang dianggap sepele padahal dapat memberikan makna yang besar untuk hidup kedepan nya. Terkadang kita terus menerus mencari kebahagiaan tanpa pernah bersyukur atas apa yang telah kita lalui. Bukankah sia-sia saja usaha itu?

Banyak cara untuk mencari sebuah kebahagiaan. Mulai dari menyibukkan diri sampai dengan menyalurkan hobi. Banyak yang ber-anggapan bahwa kebahagiaan itu adalah tentang uang. Ya memang benar bahwa dengan uang kita bisa bahagia. Namun, apakah segala nya tentang kebahagiaan bisa dibayar dengan uang? Saya rasa tidak. Sebenarnya kebahagiaan menurut saya adalah tentang waktu dan menghargai. Bagaimana kita merespon hal-hal sederhana yang tentu bisa membuat kita bahagia dalam setiap waktu. Dan menurut saya, dengan cara mensyukuri hal-hal sederhana yang setiap hari kita lalui, bisa menciptakan sebuah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan uang. 

hubungan antara kebahagian dan bersyukur, Sebagai contoh, seorang anak yang bersekolah di luar negeri dimana itu sangat jauh dengan rumah dari mana ia berasal. Ia mungkin sangat rindu terhadap rumah dan seisinya. Ia mungkin mempunyai uang untuk pulang ke rumah dan menumpahkan rasa rindunya, namun apabila ia tidak punya waktu untuk melakukan hal itu, apakah rindunya bisa terobati? Mungkin salah satu jalan untuk mengobati rindunya adalah dengan menelpon atau mendoakan kepada semua yang ia rindukan. Disitu barulah si anak menyadari bahwa hal-hal sederhana seperti bercengkrama bersama sang ibu di kala fajar tenggelam adalah sebuah kebahagiaan yang ia rasakan selama ini.

hubungan antara kebahagian dan bersyukur, Memang kadang kita perlu jarak untuk membuat sebuah pertemuan itu lebih berharga. Dan sekarang pengalaman itu membuat si anak lebih bersyukur dan menghargai setiap waktu dan pertemuan yang ia lalui disetiap harinya. Ia sadar bahwa ia harus lebih bersyukur dan menghargai atas semua nikmat yang diberikan dari-Nya. Itulah sebagian kecil dari contoh dimana kita harus lebih bisa menghargai dan bersyukur atas segala nikmat yang secara tidak langsung melahirkan sebuah kebahagiaan untuk diri kita. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu tidak ternilai bahkan dengan materi sekalipun.

Jangan terlalu sering memikirkan kebahagiaan orang lain kalau diri kita sendiri belum bisa berbahagia. Cobalah bercermin dan lihat siapa yang ada disana, karena orang yang kamu lihat dicermin lah orang yang patut kamu beri kebahagiaan terlebih dahulu.

Semoga kita semua bisa lebih bersyukur dan menghargai apa yang telah kita dapatkan.

Selamat berbahagia!

Editor : Akbar Jihad Sagran – Medifo PPI IIUM

Sekularisme dan Konsep Negara sekuler

Di Eropa, pada abad pertengahan, orang-orang beragama cenderung mengabaikan hal-hal manusia dan merenungkan Tuhan dan kehidupan sesudahnya. Sekularisme Renaisans bereaksi terhadap kecenderungan abad pertengahan ini

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com