Feminisme Bertentangan Dengan Islam?

Feminisme bertentangan dengan islam? Saya pernah mendengar bahwa sebagian besar organisasi di dunia, mayoritas dari para petinggi di organisasi tersebut adalah laki-laki,  termasuk mayoritas pemimpin negara di dunia yang juga laki-laki. Akhir-akhir ini, ketika perempuan memiliki peran penting dalam suatu organisasi, beberapa media atau kelompok memberinya label sebagai ‘women empowerment’ yang menunjukkan bahwa perempuan juga bisa memimpin, atau perempuan juga tidak kalah dengan laki-laki.

Kesadaran masyarakat mulai berubah untuk menjadi semakin terbuka; terbuka untuk membuka akses dan kesempatan yang sama terhadap kaum minoritas atau kaum yang memiliki sejarah yang tidak nyaman didengarkan. Terbuka dalam arti bahwa kesempatan itu harus ditentukan oleh kualitas individu, bukan dari afiliasi orang tersebut, seperti organisasi, warna kulit, jenis kelamin, atau ras.

Hal itu dibuktikan oleh adanya gerakan-gerakan yang mendukung kaum minoritas untuk mendapatkan keadilan, agar tidak ditindas oleh mayoritas atau status quo yang ada dalam suatu masyarakat, dan feminisme adalah salah satunya. Ia dipahami sebagai suatu paham yang digaungkan untuk mendukung hak-hak perempuan dari berbagai bidang.

Feminisme muncul dari Barat, sebagai suatu anti-tesis atau perlawanan terhadap partriarkis barat dimana perempuan dianggap tidak lebih kompeten daripada laki-laki, bahkan Aristoteles menganggap perempuan sebagai laki-laki yang tidak sempurna. Wajar saja bila perempuan memberontak dan memperjuangkan haknya.

Dalam Islam, banyak sekali ayat yang bertujuan untuk menghormati perempuan, bahkan ada surat khusus yaitu An-nisa’, yang menunjukkan betapa mulianya perempuan dalam Al-Quran. Saya memandang surat An-nisa’ sebagai anti-tesis pemahaman orang-orang yang masih merendahkan perempuan, maka itu, Al-Qur’an hadir untuk menicptakan sebuah pandangan bahwa perempuan itu adalah makhluk yang sangat mulia. Seluruh perilaku Rasulullah SAW juga menunjukkan bagaimana anggunnya beliau memuliakan seorang perempuan dan menjunjung tinggi martabat mereka.

Sekilas, Islam dan Feminisme berada di arah yang sama, yaitu memuliakan perempuan. Seluruh gerakan feminisme digunakan untuk memuliakan perempuan, dan juga seluruh perilaku Rasulullah dan apa yang disampaikan didalam Al-Qur’an tidak ada yang merendahkan seorang perempuan, tetapi menjunjung tinggi martabat mereka. Lantas, berdasarkan arah keduanya, antara Islam dan Feminisme, apakah bisa kita berbicara bahwa Feminisme itu sesuai dengan Islam?

Dari sini kita mendapatkan satu konsep yang jelas yaitu, memuliakan perempuan. Lalu setelah itu, apa yang dimaksud memuliakan? Apakah maksud dari feminisme dan Islam itu sama dalam memuliakan perempuan, apa yang dimaksud ‘mulia’ dan bagaimana caranya? Saya pikir kita tidak bisa terlalu cepat untuk memberikan argumen bahwa apakah feminisme bertentangan dan Islam atau sebaliknya. Atau mungkin, jika saja kita sudah memiliki kepercayaan bahwa feminisme itu bertentangan dengan Islam, setidaknya kita hadirkan bukti-bukti literatur dan dijelaskan secara gamblang dan sederhana untuk menyampaikan ide-ide kita. Di sisi lain, jika kita percaya feminisme itu sesuai dengan Islam, kita perlu menuliskan lebih jauh di sisi apa kecocokannya dan mengapa, lalu apa bukti-bukti yang menguatkan hal tersebut.

Sejatinya kita perlu meningkatkan kemampuan membaca kita, karena pada hakikatnya, feminisme itu memiliki banyak aliran seperti feminisme liberal, radikal, anarkis, marxis, nordik dan lain-lain. Feminisme yang mana, dan apa yang membuat kita berpikir bahwa itu bertentangan atau sesuai dengan Islam. Arah pembicaraan harus fokus, begitupun juga perbandingan dari sesuatu yang ingin dibandingkan, semua harus dipertimbangkan termasuk apakah objek perbandingan itu ­pantas dibandingkan atau tidak. Saya analogikan seperti ini, mana yang lebih bagus, Lionel Messi atau Mark Zuckerberg? Apa yang dimaksud bagus? Bukankah Lionel Messi dan Mark Zuckerberg memiliki keahlian yang berbeda? Kita perlu menyatakan secara jelas bagian apa yang ingin dibandingkan serta apakah cara kita membandingkan itu sudah adil untuk menganalisa kedua objek?

Jika pada akhirnya kita mengeluarkan statement atau klaim tanpa disertai justifikasi atau alasan kenapa kita berkata seperti itu, atau jika tulisan kita tidak metodologis atau istilahnya mencla-mencle dalam menyampaikan ide, pembaca akan kesulitan memahami atau pembaca malah hanya akan terbawa oleh klaim yang kita buat. Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya kita belajar untuk menyampaikan ide kita secara metodologis, yang mana proses itu adalah life-long process atau proses seumur hidup tanpa henti.        

Memiliki wawasan yang luas itu penting, tapi berbicara secara metodologis dan terstruktur itu akan memudahkan orang untuk memahami. Jadi, intinya, apakah feminisme itu bertentangan dengan Islam? Tergantung perspektif apa yang kamu gunakan, scope apa yang kamu ambil, dan bagaimana caramu untuk membandingkan keduanya. Selamat berekspresi! 

Editor: Rachel Noorrajavi & Akbar Jihad Sagran

One comment

  1. […] ini bukan pertama kalinya kamu menulis, dan kamu pernah mendapatkan kritik dari tulisan sebelummu. Tiba-tiba di kepalamu terngiang-ngiang ‘hanya keledai yang jatuh di […]

Leave a Reply