Fast Fashion di Zaman Modern

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Menuju pergantian tahun baru, biasanya banyak orang menanti diskon dari berbagai toko kesukaannya, tak terkecuali dengan toko baju. Diskon yang ditawarkan oleh berbagai toko pakaian yang biasa kita lihat di pusat perbelanjaan ini memang sangat menggiurkan. Tapi, tahukah kamu kalau beberapa dari toko pakaian tersebut termasuk kedalam industri fast fashion?

Fast fashion bisa diartikan sebagai pakaian trendi dengan harga yang relatif murah. Kultur fast fashion terinspirasi dari gaya yang ditampilkan oleh para selebritis yang biasa kita lihat di televisi. Kemudian produksi fast fashion dilakukan dengan sangat cepat untuk memenuhi permintaan konsumen.

Keinginan konsumen untuk mengenakan gaya pakaian seperti selebriti idola mereka dengan harga yang terjangkau memang menjadi hal yang berusaha industri ini penuhi. Toko-toko baju yang termasuk fast fashion ini, biasanya mempekerjakan pekerja rumahan sebagai buruhnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah ‘memang kenapa kalau fast fashion?’ Bermula dari runtuhnya bangunan bernama ‘Rana Plaza’, di Dhaka pada 24 April 2013. Bangunan ini adalah sebuah pabrik yang dipergunakan oleh beberapa merek pakaian untuk memproduksi baju bajunya. Kejadian ini mengakibatkan kurang lebih 1132 pekerja meninggal dunia dan 2500 pekerja lainnya luka-luka. Tidak berhenti disini, 5 bulan setelah tragedi ‘Rana Plaza’, sebuah pabrik pakaian bernama ‘Tazreen’ yang juga berlokasi di Dhaka terbakar. Kejadian ini sungguh meresahkan mengingat data PBB untuk pembangunan berkelanjutan yang mengatakan bahwa industri fast fashion telah mempekerjakan 86 juta orang di dunia, dengan mayoritas perempuan. Mereka bekerja di lingkungan yang jauh dari kata aman. Mulai dari tingginya kemungkinan kecelakaan, terkena penyakit akibat pekerjaan, bahkan hingga berujung pada kematian. Dan tragedi ini membuktikan kebenarannya; tidak ada jaminan keselamatan bagi tenaga kerja yang bekerja di pabrik pakaian ini. 

Fakta bahwa fast fashion adalah baju yang diproduksi dengan sangat cepat, ternyata juga berkontribusi cukup signifikan terhadap krisis lingkungan dan sosial kita. Elizabeth Napier dari Georgia State University mengatakan ada 100 miliar produk garmen yang diproduksi setiap tahun di seluruh dunia, dan 92 juta dari pakaian tersebut hanya berakhir dipembuangan bahkan sebelum sampai ke tangan konsumen. Dari sini, beberapa perusahaan pakaian akan membakar pakaian pakaian ini yang tentu saja akan menghasilkan karbon dan gas efek rumah kaca lain yang menyebabkan pemanasan global. Padahal melalui proses produksinya, pabrik garmen sudah menjadi penyumbang 20% polusi air secara global yang berdampak pada persediaan air bersih. Di Indonesia, seorang aktivis dari Zero Waste Indonesia, Naurah Nazhifah mengatakan bahwa 80 hingga 81 persen sampah di Pantai Ancol disumbang oleh limbah tekstil. Dia menjelaskan, jika limbah tekstil di lautan terkena air lalu terkubur di pasir, akan sangat sulit untuk diangkat atau ditarik. Dan, pembuangan limbah konveksi ke laut ini membuat Pantai Ancol menjadi sangat kotor.

Beruntungnya kesadaran masyarakat akan isu ini juga terus meningkat sehingga banyak solusi inovatif yang bisa kita lakukan. Contohnya seperti campaign #tukarbaju yang dilakukan oleh Zero Waste Indonesia. Ini adalah kampanye untuk menukarkan baju yang sudah tidak lagi terpakai dengan baju orang lain yang juga sudah tidak terpakai dengan kondisi yang sama sama baik. Ini dapat dilakukan dengan membawa pakaian kita yang masih layak pakai namun sudah tidak digunakan lagi dan menukarnya dengan pakaian orang lain dengan kondisi yang sama. Selanjutnya ada thrift shop yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Thrift shop adalah toko yang menjual baju bekas layak pakai, baju yang dijual di toko toko ini biasanya dijual dengan harga yang sangat terjangkau sehingga cocok sekali untuk kantong mahasiswa seperti kita. Selain itu kita juga bisa belanja baju di toko slow fashion. Slow fashion ini kebalikan dari fast fashion, dan biasanya toko yang termasuk slow fashion adalah perusahaan baju yang tidak terlalu besar atau toko baju lokal. Ketiganya ini bisa jadi alternatif untuk kita yang ingin tetap fashionable dengan harga yang terjangkau dan tentu saja ramah lingkungan.

Terakhir, tahun baru juga biasanya resolusi baru ya? Semoga issue yang diangkat di tulisan kali ini bisa menambah daftar hal yang harus kita semua perbaiki di tahun berikutnya, sama-sama untuk belajar menjadi orang yang lebih baik dan bijak dalam mengambil keputusan.

Selamat Berkembang!

Editor: Hamba Allah

Sekularisme dan Konsep Negara sekuler

Di Eropa, pada abad pertengahan, orang-orang beragama cenderung mengabaikan hal-hal manusia dan merenungkan Tuhan dan kehidupan sesudahnya. Sekularisme Renaisans bereaksi terhadap kecenderungan abad pertengahan ini

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com