Empat Kondisi Perguruan Tinggi untuk Melawan Otoritarianisme

Pendidikan sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa dari zaman berzaman sebenarnya tidaklah netral dalam prosesnya, begitulah hujjah dari Noam Chomsky dalam bukunya ‘On Anarchism‘. Bagi saya, pada kondisi objektifnya, proses pendidikan memang tidaklah terhad hanya kepada kecerdasan individual, tetapi juga menentukan hendak ke alam kehidupan yang hendak dikekalkan oleh sebuah masyarakat.

Apakah alam demokrasi atau alam otorianisme yang tentu sahaja tidak demokratis atau menjebak kita pada demokrasi yang palsu?

Oleh karena prosesnya sendiri tidak netral, maka akan terjadi perang yang tak berkesudahan untuk merebut kondisi yang akan dicapai. Pada mereka yang ingin agar pendidikan benar-benar mencerdaskan masyarakat maka istilah-istilah heroik akan digunapakai dengan konsep yang tidak terhad pada pengumpulan informasi, mendapatkan sijil, lalu mendapat kerja.

Tetapi sebaliknya, pada pendidikan yang mengekalkan kecerdasan yang  terkawal dalam arti tak mencabar kekuasaan, maka mereka akan menghindari pendekatan yang akan menghasilkan individu-individu terpelajar yang akan mengugat kekuasaan mereka. Pada kondisi pendidikan yang kedua, segala bentuk gerakan di luar kelas akan dicurigai sebagai rebel dan pemikiran yang berbeda akan dianggap anasir musuh.

Oleh karena itu, berbagai polisi akan selalu melakukan intervensi langsung mahupun rekayasa sosial sebagai intervensi tak langsung dengan sedaya upaya untuk mengekalkan persekitaran pendidikan yang tidak banyak atau tidak akan mencabar kekuasaan. Pada kondisi pendidikan yang seperti ini, wacana atau gerakan ‘yang alternatif’ selalu menjadi solusi.

Empat Kondisi Pendidikan Tinggi

Tapi di sini, saya tidak akan membahas bagaimana gerakan yang alternatif itu kemudian berkerja dan harus seperti apa pada mulanya ia untuk melawan alam otorianisme. Tetapi saya hendak mendedahkan pada kondisi yang seperti apa pendidikan dapat melawan otorianisme.

Pertama, pada kondisi saat pendidikan mampu mempertingkatkan komunikasi antarpribadi yang diarahkan menuju partisipasi sipil, bukan hanya terhad pada ruang kelas sahaja.

Kedua, pada kondisi saat pendidikan mampu untuk memberikan pemahaman terhadap prinsip abstrak dari demokrrasi dan kesetaraan serta bagaimana menghadapi kompleksitas dan perbezaan dalam masyarakat. 

Ketiga, pada kondisi saat pendidikan mampu mempromosikan pemikiran independen dan pemeriksaan kritis serta rasa keingintahuan yang besar kepada pola pikir kilang yang menghasilkan banyak penelitian, tapi terpisah dari realiti sosial semasa. 

Keempat, pada kondisi saat pendidikan mampu untuk menghadapkan pesertanya terhadap beragam budaya. Dan kemudian harus ditunjukkan jika perbezaan tidak seburuk dan berbahaya yang diyakini oleh takrifan penguasa, agar membebaskan mereka dari budaya xenophobia, rasisme, dan fanatik buta.

***

Jika keempat hal tersebut mampu dijalankan oleh orang-orang dalam dunia pendidikan sendiri, maka persekitaran pendidikan yang terjebak alam yang tak demokratis akan menyemai perubahan sedikit demi sedikit dan dapat memandu yang alternatif untuk tak terjebak pada yang pragmatis. Karena seringkali pendidikan yang alternatif yang selalunya diwacanakan sebagai jawaban terhadap pendidikan yang dianggap tak memuaskan, malah sama sahaja.

Editor: Shidqi Mukhtasor

Leave a Reply