Dunia Tipu-Tipu, Nyata atau Sekedar Guyon?

Kata “dunia tipu-tipu” akhir-akhir ini sedang fenomenal di kalangan para pengguna sosial media. Kata ini datang dari sebuah lagu yang viral di aplikasi tiktok dengan judul “Selamat Pagi Dunia Tipu-Tipu”. Dengan tersebarnya kata “Dunia Tipu-Tipu” secara luas, menarik untuk menjadikan makna kata itu sendiri sebagai bahan evaluasi atau menilai apakah kehidupan di dunia ini sudah terlalu banyak tipuan?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kata tipu berarti perbuatan atau perkataan yang tidak jujur (bohong, palsu, dan sebagainya) dengan maksud untuk menyesatkan, mengakali, atau mencari untung. Dapat disimpulkan bahwa perbuatan menipu akan merugikan pihak lain yang memberikan dampak berkelanjutan.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu dengan lainnya yang bertujuan untuk bersama-sama berupaya mempertahankan dan mengembangkan hidup. Tetapi pada kenyataanya tidak semua manusia melakukan upaya tersebut dengan cara yang baik. Sebagian dari mereka melakukan upaya tersebut dengan cara yang “licik”.

Dari berbagai kelicikan itu salah satunya adalah menipu.

Kesadaran akan tindakannya

Tindakan awal penipuan sudah pasti didasari oleh kebohongan. Menurut psikolog dari Universitas Sebelas Maret, Laelatus Syifa “kebohongan dilakukan secara sadar yang diproses secara kompleks untuk menekankan satu pernyataan ke pernyataan lainnya agar lawan bicaranya percaya dengan apa yang dikatakan”.

Dengan membuat pernyataan kebohongan tersebut seorang penipu akan melakukan perbuatan-perbuatan yang seakan-akan bisa dipercaya. Padahal mereka mempunyai maksud tersendiri untuk mendapatkan keuntungan dari pihak atau orang lain secara ilegal.

Dengan begitu, pihak atau seseorang yang menjadi korban dalam penipuan akan mendapatkan kerugian yang berarti, baik secara moril ataupun materil.

Kasus-kasus penipuan

Menurut data dari Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada tahun 2019 terdapat 2.300 kasus penipuan online dan terus meningkat setiap tahunnya. Di sisi lain, terdapat juga banyak kasus penipuan yang dilakukan secara offline.

Penipuan dilakukan dengan berbagai modus pendekatan, mulai dari yang “kasar” sampai “halus”.

Cara kasar penipu bisa kita lihat dari bagaimana pendekatan mereka untuk mengelabui kita. Contoh kasus penipuan paling kasar adalah penipu mengirimkan kita pesan yang berisikan pernyataan kemenangan undian, atau contoh lain seperti “mamah minta pulsa”. Pasti semua dari kita sudah pernah merasakan modus-modus penipu seperti ini secara sadar atau tidak.

Modus yang kedua adalah cara halus.

Modus penipu ini memang sulit untuk terbaca pergerakannya. Hampir dari semua penipu yang menggunakan modus seperti ini sudah mempunyai pengalaman atau profesional dalam melakukan aksinya.

Mereka sudah menyusun strategi dengan matang agar pergerakan “tipu-tipu” mereka tidak terlihat atau dirasakan. Sehingga korban dari penipuan seperti ini bisa mendapatkan kerugian yang cukup besar.

Sebagai contoh kasus dari penipuan professional ini, saya ingin membagikan sedikit cerita tentang kasus penipuan yang terjadi dekat di sekitar saya akhir-akhir ini.

Pada beberapa bulan yang lalu ada seorang perempuan yang mengaku sebagai distributor minyak goreng murah. Ia memberikan penawaran yang sangat menggiurkan kepada sebuah keluarga untuk menjadi partner dalam bisnis tersebut.

Di dalam pelaksanaan awal semua berjalan seperti bisnis normal. Setelah berjalan beberapa hari kemudian, jumlah pembelinya naik secara signifikan dengan jumlah pesanan yang besar. Bahkan di setiap harinya bisa menghabiskan beratus-ratus krat minyak.

Waktu memasuki akhir-akhir bulan, minyak yang dikirimkan oleh “distributor” tersebut mulai berkurang kuantitasnya. Tepat di akhir bulan, “distributor” tersebut memberikan penawaran yang lebih menarik dengan menjatuhkan harga per kratnya. Sehingga keluarga tersebut memberikan investasi lebih besar untuk memajukan bisnisnya.

Tetapi, Setelah semua transaksi diselesaikan “distributor” tersebut hilang seperti ditelan bumi. Akhirnya pihak keluarga tersebut melakukan pencarian dan investigasi yang dalam untuk mencari kemana “distributor” menghilang.

Ternyata “distributor” tersebut adalah seorang penipu professional yang sudah berkali-kali melakukan aksi tipuanya.

Kerugian yang disebabkan oleh penipuan ini juga sangat fantastis jumlahnya. Dengan total kerugian hampir 2 Milyar Rupiah.

Dari cerita ini menunjukan bahwa seorang penipu sudah tidak memiliki hati nurani. Ia tidak memikirkan bagaimana dampak yang dirasakan oleh korbannya. Mungkin seorang penipu akan menganggap bahwa aksi tipuannya adalah kesuksesan dalam kehidupannya. Yang pada akhirnya, tipu menipu dianggap sebagai perbuatan biasa sehari-hari yang tidak beresiko menambah dosa dan juga tidak merugikan orang lain maupun dirinya sendiri.

Dampak dari penipuan

Bentuk apapun dari penipuan akan memberikan dampak terhadap pelaku dan korbannya. Tidak hanya penipuan dengan skala besar, penipuan dengan skala kecil juga pasti akan memberikan dampak yang merugikan untuk keduanya.

Seorang penipu akan selalu diberikan label sebagai penipu walaupun ia sudah berusaha untuk membenarkan dirinya. Tidak ada lagi kepercayaan yang bisa diberikan dari seorang penipu. Kerugian yang disebabkan oleh penipu akan merusak hubungan yang mungkin sudah dijalin dari waktu yang lama.

Dari sudut pandang agama, seorang penipu sudah pasti mendapatkan dosa yang sangat besar. Bahkan Tuhan pun “jijik” oleh seorang penipu.

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin ditipu. Tetapi selama kita hidup di dunia pasti hal-hal seperti ini mungkin terjadi di kehidupan kita.

Dampak yang sangat dirasakan oleh korban penipuan adalah psikologi dan meteri mereka. Harta yang selama ini mereka perjuangkan hilang dalam sekejap akan memberikan efek yang sangat berarti di kehidupan mereka.

Butuh waktu, tenaga dan hati untuk bisa kembali berdamai dengan kondisi mereka sebagai korban.

Bagaimana cara untuk mewujudkan dunia tanpa tipu-tipu?

Pada kenyataannya, masih banyak manusia yang melakukan kebohongan atau penipuan untuk mendapatkan kebahagiaan yang semu. Tidak hanya ke orang lain, seorang penipu atau pembohong juga akan melakukan itu kepada dirinya sendiri.

Untuk mewujudkan dunia dengan penuh kejujuran sangatlah susah. Karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan dengan memiliki hawa nafsu.

Tetapi untuk melindungi orang-orang disekitar kita untuk tidak menjadi seorang penipu, kita bisa memberikan edukasi yang baik dan menjelaskan apa saja dampak yang akan dihasilkan dari perbuatan keji tersebut.

Berikan hukuman yang seadil-adilnya kepada semua penipu tanpa pandang bulu agar mereka bisa merasakan akibat yang diperbuat.

Kesimpulan

Kata “dunia tipu-tipu” itu sudah benar adanya. Setiap hari semakin banyak perbuatan tipu-tipu yang dilakukan oleh manusia. Perlu adanya perubahan agar setiap individu tidak terbiasa dengan kegiatan tipu-tipu mereka. Menjadi jujur dan tidak mengambil hak orang lain adalah sebuah kenikmatan dan kepuasaan untuk diri sendiri yang menjadi kenikmatan dalam hidup. 

Editor: Fairuz Nadia & Akbar Jihad Sagran

Leave a Reply