Demonstrasi Mahasiswa IIUM: Apa yang Kita Pelajari?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Kemarin pada Selasa, 30 Maret 2021, sebagaimana disaksikan oleh teman-teman di kampus dan mereka di media sosial, terjadi demonstrasi oleh mahasiswa IIUM di depan tangga utama IIUM. Berpuluh-puluh mahasiswa turun berunjuk suara meminta gerbang kampus untuk dibuka setelah dikurung cukup lama secara bolak-balik.

Satu hari sebelumnya, tersebarnya poster yang mengajak mahasiswa turun berdemo menjadi kontroversi. Poster tersebut memiliki tone hitam-merah pekat, tidak ba-bi-bu, mengajak berdemo pada tanggal 30 Maret di depan gedung rektorat IIUM dengan masker dan social distancing.

Saya cukup kaget saat tersebarnya poster itu di kalangan media sosial. Pada platform mana-mana yang saya jumpai, saya tidak menemui adanya keterangan korlap (koordinator lapangan) atau bahkan grup Whatsappnya. Saya baru menjumpai grup Whatsapp itu pada hari-H demo akan berlangsung beserta keterangan waktu berkumpulnya, 12.59 PM.

Demo mahasiswa yang secara fisik saya hadiri baru aksi kamisan rutin di depan Gedung Sate, Bandung, sebelum demonstrasi kemarin. Itu pun demo damai, berefleksi sembari mengenakan baju hitam. Ia adalah pengalaman yang sangat berbeda dengan demo-demo dengan isu spesifik dan mengharapkan negosiasi dan pressure yang tinggi.

Banyak teman saya yang telah menghadiri demo-demo mahasiswa di Indonesia secara langsung. Dari berbagi pengalaman, saya mempelajari bahwa demonstrasi yang berorientasi untuk memberi tekanan guna mengeluarkan kebijakan sesuai tuntutan dengan cepat butuh koordinasi. Ada koordinator lapangan, persiapan strategi A-B-C hingga Z, dan penyeragaman tuntutan.

Karena itu, demonstrasi mahasiswa di Indonesia, kendati dengan chaosnya, masih memiliki keteraturan. Mereka mengetahui apa yang harus dilakukan saat telah mencapai suatu kondisi-kondisi tertentu. Kepastian perencanaan itu, sama sekali tidak ditemukan pada demonstrasi kemarin.

Saya dan kawan baik saya yang semoga dia senantiasa dirahmati Allah, memutuskan untuk mendokumentasikan momen ini dan berupaya untuk mewartakannya.

Saya yang hanya menyusul dari perpustakaan, terpontang-panting dengan pakaian yang tidak mobile sembari membawa laptop—sangat tidak praktikal.

Demonstrasi adalah Hal yang Serius!

Kami berusaha mencatat kronologi tiap momen berjalannya demonstrasi itu sembari mengambil mendokumentasikan beberapa arsip. Uniknya, terlepas dengan kemawasan kita pada demonstrasi ini, demonstrasi berjalan dengan baik. Tidak ada yang terluka terlepas berbagai tekanan dan intimidasi yang ada pada waktu sebelum, sesaat, dan setelah demonstrasi.

Sebagai bagian dari Badan Pengurus Harian (BPH) PPI IIUM, teman-teman BPH berusaha untuk berhati-hati menyikapi reaksi komunitas kita saat poster tersebut pertama muncul. Dengan ketidakjelasan kemunculannya dan ketidaktahuan pihak berotoritas yang kami kenali, kita berusaha untuk meredam emosi teman-teman agar tidak berdampak lanjut yang berbahaya.

Kita tidak ingin teman-teman kita terluka dan terdampak bahaya.

Sangat perlu untuk dicatat bahwa banyak dimensi yang berpengaruh pada terloloskannya aspirasi untuk pembukaan gerbang IIUM. Ia tidak hanya disebabkan oleh demonstrasi semata, namun proses lobi dari pihak kampus dan IIUM Student Union (SU) juga sangat signifikan dalam memediasi semangat demonstrasi menjadi negosiasi yang civil.

Demonstrasi bisa menekan kampus untuk membuat kebijakan segera. Namun untuk mengarahkannya menuju perwujudan kebijakan yang tepat, ia membutuhkan kemampuan negosiasi yang baik. Tidak bisa hanya menggunakan modal marah-marah.

Dari sini, kita mempelajari sebuah pelajaran berharga. Dan ia adalah bagaimana pentingnya demonstrasi—atau lebih luas lagi—pentingnya bersuara sebagai bentuk mengkomunikasikan isu dan aspirasi.

Pelajaran Kita dari Demonstrasi Kemarin

Kita mempelajari dari kejadian kemarin bahwa terdapat klaster aspirasi yang tersumbat hingga berubah menjadi demonstrasi di luar koordinasi IIUM SU. Dan sebagaimana nampak di lapangan kemarin, mayoritas demonstrannya ialah warga internasional. Ini menunjukkan bahwa masih ada evaluasi bagi IIUM SU agar dapat menampung aspirasi suara dan pergerakan mahasiswa internasional dengan sebaik-baiknya.

Adanya defisit dalam upaya menampung suara internasional kemarin menjadi sangat riskan bagi keselamatan mahasiswa internasional itu sendiri. Tidak ada yang tahu bagaimana demonstrasi kemarin bisa berakhir dengan alternatif akhir yang lebih berbahaya dan merugikan.

Lebih parah lagi, mahasiswa internasional memiliki ancaman untuk bisa di deportasi kapan saja. Tantangan identitas ini tidak dimiliki oleh mahasiswa melayu di kampus melayu—yang padahal sebenarnya kampus internasional.

Kalau demonstrasi kemarin bisa dimediasi sejak awal oleh IIUM SU, barangkali kita bisa mengajukan perizinan yang baik kepada pihak OSeM dengan berbagai aturan ketertiban yang dapat diterima kedua pihak.

Kita juga bisa melakukan konsolidasi, atau bisa disebut juga semacam town hall untuk mahasiswa seluruhnya berkumpul dan merapikan prioritas perjuangan isu dan strategi demonstrasi yang tertib dan efektif.

Jika ada komunikasi yang baik antara komunitas mahasiswa, terutama juga antara mahasiswa lokal dan internasional, dalam berkomunitas dalam satu keluarga IIUM, kita bisa bersama-sama mencapai tujuan bersama dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang ambil kredit satu atas yang lain, dan semua berbahagia akan partisipasi bersama dalam perjuangan isu kemahasiswaan.

Ini mengarah pada satu dari sekian banyak hikmah yang bisa kita ambil, yakni pentingnya representasi mahasiswa internasional dalam tubuh IIUM SU. Tidak seperti bentuk IIUM Student Representative Council (SRC) sebelumnya yang melembagakan pembedaan kelompok kelas mahasiswa lokal dan internasional, tapi representasi mahasiswa internasional yang secara inherent menjadi bagian yang holistik dari keluarga besar IIUM ini.

Karena itu, bagi mahasiswa internasional, kontestasi election pada IIUM SU sekarang adalah free fire for all. Kita membutuhkan perjuangan besar untuk bisa memiliki kekuatan politik yang legitimate dan representatif, tentu dengan dukungan sesiapa-siapa yang memiliki visi inklusifitas dalam partisipasi politik, mahasiswa internasional maupun lokal.

***

Maka di sini, saya ingin menyederhanakan poin saya menjadi dua kesimpulan kecil.

Pertama, untuk demonstrasi dan upaya advokasi ke depan, perlu diadakan konsolidasi terbuka yang representatif dan terencana. Dengannya, perwakilan suara dapat dipertanggungjawabkan dan proses politiknya bisa lebih aman. Tidak perlu mengkhawatirkan penangkapan polisi maupun intimidasi birokrasi kampus.

Kedua, kita perlu mengawal IIUM SU election kali ini agar dapat memenangkan calon-calon yang siap dan kapabel untuk memperjuangkan representasi mahasiswa secara inklusif, lokal-internasional. Maka, wawasan komunikasi dan politik mahasiswa calon saat hendak berpartisipasi publik menjadi sangat penting.

Siapa yang akan bertanding? Wallahu alam. Namun yang jelas, mahasiswa Indonesia di IIUM tidak akan diam saja, terutama setelah apa yang terjadi belakangan ini.

Kita mempelajari bahwa suara kita berharga, dan oleh karena itu ia harus diperjuangkan!

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com