AD/ART

Dalam Perjuangan HAM, Melawan Perang Pemikiran itu Penting!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Perjuangan melawan HAM melawan pemikiran itu penting!. Pada tanggal 10 Desember 2020 kemarin, ada saudari kita setanah air mengunggah tulisan bentuk refleksi dari Hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia. Dia menuangkan keresahannya di berbagai bidang isu yang sedang terjadi di Indonesia, mulai dari KKN, operasi militer Papua, kekerasan seksual, dan lainnya.

Penulis menyorot beberapa poinnya, salah satunya pemilihan term ‘jalan di tempat’ bagi pejuang ghozwul fikri dengan intonasi tertentu yang perlu dikritisi. Siapa sih si ‘jalan di tempat’ yang disorot penulis ini? Dan apakah tepat untuk melihat ‘yang jalan di tempat’ itu sebagai sorotan seperti demikian dalam pergerakan HAM?

Penulis yang dhaif ini hendak mengingatkan, bahwa perang pemikiran adalah sama pentingnya dengan perjuangan lapangan. Dan karenanya, perlu diperkuat dan dibangun gerakan yang didasari oleh pemikiran yang benar.

Melawan Perang Pemikiran Tidak ‘Jalan di Tempat’.

Term ghozwul fikri yang dipilih saudari kita adalah istilah spesifik yang kerap digunakan oleh ulama dan aktivis pergerakan Islam, artinya ‘perang pemikiran’. Dalam dinamika perang pemikiran, intelektual muslim kerap meluruskan pemaknaan konsep berbagai istilah yang ditemui umat muslim, seperti HAM, emansipasi wanita, toleransi, keadilan, dan lainnya. Selain mengukuhkan pemahaman konsep yang benar, intelektual muslim juga berupaya untuk meluruskan cara berpikir umat, dalam konteks ghozwul fikri.

Peranan tersebut sangat fundamental di tengah dinamika peradaban dunia yang lebih permisif pada ide-ide yang menyalahi konsep kunci agama yang semestinya menjadi fondasi nilai peradaban. Terdapat kutipan saudari ini yang perlu saya soroti,

Di sisi lain dalam menghadapi perang terhadap rezim sendiri ini, tidak sedikit para akademisi dan pemilik ilmu, bukannya bersama-sama memperjuangkan hak asasi para rakyat, malah menyendiri bersama para rekan lainnya untuk mempermasalah terma Hak Asasi Manusia. Berhenti pada diskusi-diskusi-tidak-kecil yang menciptakan perdebatan besar—mempermasalahkan tidak pentingnya hak asasi manusia karena ia diasaskan oleh para ilmuwan Barat yang mendasari liberalisasi, kemudian akhirnya diskusi tersebut berjalan di tempat dan bahkan menghentikan semangat jalan para pejuang hak asasi manusia ini sendiri.” 

– Saudari ini, 10 Desember 2020.

Penulis perlu menyoroti, siapa yang ‘menyendiri bersama para rekan lainnya’ yang dinilai menafikan isu HAM? Penulis merasa dalam menyikapi dinamika praksis di isu HAM, penyikapan dan pernyataan sendiri hanya menambah rumitnya pergerakan dalam HAM.

Saudari ini seakan-akan melihat bahwa perdebatan mengenai konsep kunci HAM tidak lebih atau sama pentingnya dengan perjuangan lapangan HAM sendiri. Saya akan menyoroti mengapa saudari ini salah.

Dalam melakukan pengucapan sikap kita terhadap berbagai permasalahan, seseorang harus memahami apa yang sebenarnya dibela dan dipermasalahkan. Konsep HAM yang dibuahkan dari pemikiran yang berbeda, akan berbuah berbeda. Konsekuensinya, hasil akhir dari produk HAM yang diproduksi dari pemikiran liberal akan berbeda dengan hasil produksi dari konsep-konsep kunci Islam.

Lebih lanjut, pemikiran yang berbeda akan menentukan pokok permasalahan dan prioritas permasalahan yang berbeda juga. Maka sebagai muslim, di tengah kontestasi pemikiran peradaban yang sedang bertarung, sangat penting untuk mengkritisi kembali konsep-konsep dasar yang ia pahami.

Salah satu upaya tersebut adalah berusaha untuk mengkonfirmasi apakah konsep kunci yang ia pahami sesuai dengan ajaran agamanya, atau seorang tersebut terjajah dengan konsep yang asing dari nilai agamanya sendiri?

Alasan Mengapa Pemikiran dalam Pergerakan Sangat Penting

Contoh mudah untuk melihat pentingnya pemikiran adalah permasalahan maraknya seksualisasi perempuan. Menurut pemikiran liberalisme, permasalahannya adalah pencampuran ranah privat (tubuh, seks) seseorang tanpa keinginan individu pemilik ranah privat tersebut.

Menurut feminisme, permasalahannya adalah karakter laki-laki yang secara alamiah dan sepanjang peradaban telah menjajah perempuan di seluruh lini kehidupannya. Menurut pemikiran Islam, seksualisasi sebagai perbuatan keji (fahisyah) muncul karena lawan jenis yang tidak menjaga pandangan dan kemaluannya.

Dari perbedaan pendefinisian permasalahan tersebut, maka tiap sisi akan memiliki solusinya sendiri, yang bisa saling kontradiktif dengan solusi pemikiran lain. Contohnya, liberalisme mengedepankan pentingnya formalisasi bentuk perizinan, tanpa menghentikan bentuk seksualisasi di tengah publik itu sendiri selama ia adalah kehendak individu.

Konsekuensinya, pornografi dan pornoaksi yang diproduksi atas dasar keinginan individu tidak boleh dipidana. Padahal ia secara dzahir mempromosikan objektifikasi tubuh perempuan (dan laki-laki) yang mampu menstimulasi hasrat seksual manusia yang tidak perlu distimulasi. Dampak lebih lanjutnya adalah potensi bahaya lebih lanjut dari orang yang berusaha menseksualisasi orang asing, pada dampak terbesarnya adalah pemerkosaan.

Adapun feminisme yang mengkritik keras karakter kelaki-lakian, kerap kita temui propaganda yang menyuarakan ‘laki-laki feminim’ sebagai alternatif. Propaganda tersebut sering kita temui bersamaan dengan propaganda toxic masculinity, sebuah kriminalisasi karakter kelaki-lakian.

Aliran feminisme lain bahkan lebih lanjut melihat konsepsi gender laki-perempuan harus dihancurkan agar tidak adanya hegemoni satu seks terhadap lainnya. Terlalu banyak konsekuensi bermasalah yang semestinya ditulis namun penulis tidak sanggup karena masih banyak assignment.

Setidaknya penulis berharap sedikit contoh tertulis dapat memberikan gambaran mengapa pemikiran sangat penting dalam pergerakan. Sangat nampak kontrasnya dengan bagaimana semestinya Islam menangani permasalahan seksualitas yang senantiasa berorientasi pada penjagaan, kewaspadaan, dan pengaturan hubungan laki-perempuan.

Maka dari pemikiran yang berbeda, produk dan praksis suatu pergerakannya juga bisa mengartikan isu-isu yang dibela dengan arti yang sangat berbeda. Apakah perjuangan HAM milik orang liberal sama sebagaimana Islam? Apakah perjuangan perempuan feminisme dan liberal sama dengan Islam? Tidak. Dan memahami perbedaannya untuk bisa membuahkan pergerakan yang mampu mencapai visi paradigma yang benar menjadi sangat penting.

***

Penulis menangkap kesan dari saudari ini bahwa seakan pihak yang berada di sisi ‘yang jalan di tempat’ tidak memiliki cukup dedikasi dalam perjuangan HAM dan isu-isu lainnya.

Apakah perjuangan kemerdekaan Palestina, gerakan peduli jilbab, pesantren-pesantren, gerakan ormas bantu bencana, dan gerakan mahasiswa Islam yang turun ke jalan, tidak terepresentasi sebagai gerakan HAM? Atau ia tidak nampak di mata saudari karena pendefinisian isu HAM yang dikaburkan oleh pandangan partisannya terhadap beberapa kelompok pemikiran tertentu?

Isu HAM itu kompleks. Isu seksualitas itu kompleks. Segala persoalan di dunia ini kompleks. Merendahkan pentingnya satu bidang untuk mengunggulkan bidang lain yang didasari oleh keterjajahan pemikiran yang belum bisa mengapresiasi pentingnya perjuangan dakwah pemikiran tidak akan menyelesaikan masalah. 

Melawan perang pemikiran penting untuk mampu menerjemahkan pemikiran keagamaan menuju praksis nyata yang pada tataran aksi dan pemikiran integral (holistik, menyeluruh). Pada tataran aksi sebuah gerakan bisa saja nampak memperjuangkan isu yang kita resahkan.

Namun apabila kita cukup kritis, maka akan nampak mana yang sebenarnya menyelesaikan masalah, atau justru menambah masalah baru dalam penanganan satu isu, karena ketidakmampuan suatu pemikiran dalam menerjemahkan permasalahan dengan benar. 

Jika saudari ini (radhiyallahu anha) yang saya kenal sebagai muslimah yang kerap dengan semangat berujar ingin memperjuangkan Islam di ranah-ranah yang belum terjangkau, adalah baik untuk saudari ini untuk bisa merintis dan mengajak kami dalam gerakannya, tentu didasari pada pemahaman yang lurus.

Karena sesungguhnya umat ini perlu lebih banyak tangan yang membantu dakwah-Nya, daripada umat yang kecewa dan memperkeruh perjuangan dakwah. 

Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (QS. Al-Baqarah: 11).

Sekularisme dan Konsep Negara sekuler

Di Eropa, pada abad pertengahan, orang-orang beragama cenderung mengabaikan hal-hal manusia dan merenungkan Tuhan dan kehidupan sesudahnya. Sekularisme Renaisans bereaksi terhadap kecenderungan abad pertengahan ini

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com