Bakat atau Usaha, Mana yang Membawa Kesuksesan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Bakat atau Usaha, Mana yang Membawa Kesuksesan?

“Apa kamu rasa dirimu sekarang sudah mencapai batas maksimal? Meski tubuh, teknik, dan staminamu belum mencapai puncaknya? Bukankah kamu merasa orang yang unggul darimu memang berbeda jauh darimu sejak lahir? Dan itu sulit untuk dilewati. Tidak peduli seberapa besar usahamu, seberapa hebat teman teman satu timmu, kamu tetap tak bisa mengatasinya.”

(Kutipan dari kata-kata untuk Tooru Oikawa, Haikyuu!! episode 24 season 2)

Sebagai penggemar anime, tentu tidak asing lagi dengan penggalan kalimat tersebut. “Haikyuu!!” adalah anime bergenre sport (lebih spesifiknya adalah olahraga voli) yang di dalamnya terdapat tokoh bernama Tooru Oikawa, seorang setter yang berhasil meraih penghargaan sebagai ‘yang terbaik’ setelah bertahun-tahun berlatih keras.

Terdapat pula Tobio Kageyama, sosok setter yang merupakan mantan adik kelas sekaligus rival dari Oikawa. Dia digambarkan sebagai anak jenius dan berbakat sejak lahir. Insting dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan spiker manapun sangatlah luar biasa, bahkan Oikawa pun secara gamblang mengakuinya.

Dari pernyataan tersebut, mungkin terbersit dalam pikiran kita tentang manakah yang lebih penting dalam kesuksesan kita, bakat ataukah usaha?

Teori 10 Ribu Jam

Pernahkah kalian mendengar tentang “10 ribu jam untuk menjadi ahli”? Malcolm Gladwell memuat teori tersebut dalam bukunya yang berjudul “Outliers”. Dia mengatakan bahwa untuk menjadi ahli dalam suatu bidang, maka diperlukan usaha atau latihan selama 10 ribu jam. Jika ingin ahli memasak, maka memasaklah selama 10 ribu jam. Jika ingin menguasai catur, ya tinggal bermain catur selama 10 ribu jam.

Meskipun teori tersebut sekilas sangat meyakinkan, namun ternyata Princeton University membantahnya dengan mengatakan bahwa praktek seperti itu hanya meningkatkan performa sebanyak 12%.

Ibaratnya seseorang bermain voli, ketika dia melakukan spike yang salah secara konsisten selama 10 ribu jam, maka dia tidak akan bisa menjadi seorang ahli. Yang dia dapatkan dari repetisinya setelah 10 ribu jam latihan itu hanya tubuh yang makin terlatih. Itu saja.

Kontribusi Bakat dalam Kesuksesan

Bakat adalah kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang dengan ciri-ciri bahwa dia akan bisa mewujudkan menjadi kenyataan dan kemampuan itu diterima atau diakui oleh orang lain sehingga disebut unggul dari orang kebanyakan.

Ketika seseorang yang berbakat memiliki tempat dan semakin diakui, harga diri orang tersebut semakin meningkat. Harga diri penting agar seseorang berpikir positif terhadap bakat sebagai potensi yang dimiliki. Selain itu, dia akan semakin tahu dirinya sendiri dan bagaimana merawat apa yang dipunyai.

Maka dapat dikatakan bahwa bakat merupakan modal dalam suksesnya sebuah karir. Kita garisbawahi bahwa bakat haruslah dihargai. Bakat yang diapresiasi akan melahirkan generasi yang berkarya atas dasar potensi dirinya dan dapat dijadikan sebagai salah satu karir dalam hidupnya. 

Tetapi, apakah bakat merupakan modal utama dari kesuksesan?

Antara Bakat, Minat, dan Usaha

Katakan seorang mahasiswa jurusan ekonomi yang memiliki bakat dalam bidang videografi. Dia mengasah bakatnya melalui kegiatan-kegiatan kampus, atau ikut komunitas videografi. Maka setelah dia lulus, kira-kira apakah pekerjaan yang dipilihnya? Konsultan keuangan, akuntan publik, investor relation associate ataukah mendirikan studio foto/video sendiri dan mengolah kepiawaiannya?

Jawabannya tentu saja, tergantung minat orangnya. 

Perlu diperhatikan bahwa bakat berpotensi menjadi sebuah keinginan dan minat yang besar bagi diri seseorang. Orang yang berbakat akan lebih memiliki jiwa inovatif, pantang menyerah, dan kemauan kuat untuk selalu mengembangkan apa yang dimilikinya menjadi semakin lebih baik.

Sampailah kita pada pertanyaan: apakah seseorang mampu meraih kesuksesan jika pekerjaannya sehari-hari hanyalah rebahan? Bilang, “iya saya punya minat ke arah videografi dan saya pikir saya berbakat dalam bidang itu” sembari jempolnya betah sekali scroll halaman tiktok dari pagi sampai jumatan?

Usaha atau kerja keras adalah salah satu komponen mutlak dari diraihnya kesuksesan. Pablo Picasso tidak menjadi pelukis revolusioner hanya karena bakatnya. Imam Bukhari ataupun Syafi’i rahimahumallah tidak menjadi ulama besar hanya karena kemampuan hafalan dan daya ingatnya yang luar biasa.

Kitab-kitab agung yang kita pegang saat ini, lampu yang menerangi gelapnya malam hari, telepon yang menghilangkan jarak antara kamu di sana dan aku di sini, semua adalah hasil dari orang-orang berusaha keras dan tidak rapuh oleh kegagalan. Dalam sebuah pepatah arab pun dikatakan “man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan (berhasil).

Dari banyak riset yang dilakukan oleh banyak peneliti, kesuksesan dengan kemampuan yang dianggap sebagai bakat ini didapatkan dari kombinasi kerja keras, kemauan untuk belajar, dedikasi, dan komitmen untuk menjadi ahli. Saat kita melihat seseorang yang terbilang ahli, kita tidak dapat melihat perjuangan dan kerja keras yang mungkin sudah dia lakukan selama bertahun-tahun.

“Jangan mudah menyerah hanya karena merasa dirimu bukan orang berbakat. Harus percaya bahwa kamu belum mengerahkan semua tenagamu, lalu berlarilah ke depan tanpa banyak berpikir. Meski jalan ini akan terasa sulit nantinya, akan ada saatnya di mana kemampuan membuahkan hasil.

Tubuh mungkin tidak bisa diubah, tapi jika hanya menganggap diri sendiri tidak berbakat, maka selamanya tidak akan punya kesempatan. Kemampuan (bakat) butuh usaha baru bisa berbuah.”

(Kutipan dari Tooru Oikawa, Haikyuu!! episode 24 season 2)

***

Tadi sempat dikatakan bahwa usaha atau kerja keras adalah salah satu komponen mutlak dari diraihnya kesuksesan. Lalu apakah komponen lainnya itu?

Jawabannya tentu saja doa. Kita bukanlah apa-apa tanpa kehendak Allah ta’ala. Apapun yang kita usahakan, seberapapun kerasnya kita latihan, tanpa untaian doa kepada Yang Mahakuasa maka kita berpotensi terjerumus ke dalam golongan orang yang arogan. Oleh karenanya, usaha dan doa kita harus berbanding lurus dan seimbang, bukannya melakukan salah satu dan yang lainnya ditinggalkan.

}وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ{

“Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60) 

wallahu a’lam bi al-shawab

Editor: Wildana Sabaruddin & Akbar Jihad Sagran

Sekularisme dan Konsep Negara sekuler

Di Eropa, pada abad pertengahan, orang-orang beragama cenderung mengabaikan hal-hal manusia dan merenungkan Tuhan dan kehidupan sesudahnya. Sekularisme Renaisans bereaksi terhadap kecenderungan abad pertengahan ini

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com