Adilkah Tuhan? Telaah Kalam Asy’ariyah dan Mu’tazilah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Adilkah Tuhan? Pembahasan mengenai sifat ketuhanan telah dibahas tuntas oleh para sarjana Kalam dan kerap terjadi perselisihan pendapat diantara mereka. Nah sebelum menuju pembahasan inti, kira-kira apa itu Ilmu Kalam?

Ilmu kalam adalah ilmu yang digunakan untuk membuktikan validitas aqidah (kepercayaan) mengenai sifat ketuhanan, kenabian, imamah dan hari akhir dengan argumen ilmiah rasional yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ilmu kalam adalah salah satu produk sejarah Islam yang dianggap penting bagi umat Islam untuk meneguhkan keyakinan dan melindungi agama dari syubhat serta bid’ah. Maka, dari sinilah muncul beberapa kelompok kalam yang diantaranya adalah Asy’ariyah dan Mu’tazilah.

Kehendak Tuhan

Pembahasan tentang kehendak Tuhan dan keadilan Tuhan sangatlah berkaitan, hal ini telah dibahas oleh kelompok Asy’ariyah dan Mu’tazilah. Kelompok Mu’tazilah berpandangan bahwa kebaikan dan keburukan adalah suatu hal objektif berdasarkan nilai moral yang dicapai oleh akal manusia (keadilan Tuhan mendorong manusia memiliki kebebasan mutlak untuk bertindak berdasarkan hukum moral mereka). Oleh sebab itu, manusia akan dihisab dihari akhir sesuai perbuatannya. Kelompok Asy’ariyah telah menyanggahnya karena keadilan Tuhan adalah perkara keimanan, sehingga tolak ukur baik dan buruknya sesuatu hanya didapatkan dari wahyu Tuhan. Maka dari itu, manusia mengenali haq dan bathil berdasarkan petunjuk wahyu dan bukan dari nalar manusia. Sebagaimana Allah S.W.T telah berfirman dalam al-Quran “Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruj:16) yang berarti, Allah S.W.T berkehendak sesuai apa yang dikehendaki-Nya dan tidak ada satupun yang mampu menghalangi kehendak-Nya. Jadi, jika ada sesuatu di luar kehendak-Nya, tentu akan menjadi kekurangan Tuhan dan itu mustahil. 

Allah S.W.T adalah satu-satunya yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, Dia memberikan kekuatan kepada manusia untuk melakukan apa yang mereka pilih (ikhtiyār). Akan tetapi, hal ini tetap tidak terlepas dari kehendak dan kuasa Allah S.W.T karena Dialah satu-satunya Dzat yang Maha Mengetahui. Oleh karena itu, Allah S.W.T memiliki kehendak mutlak dan manusia akan dihisab sesuai tindakannya. Manusia adalah makhluk yang tidak mampu berbuat suatu apapun tanpa kuasa Allah S.W.T. Mereka dapat berjalan, berlari, sakit, sehat, sukses, gagal, serta segala nikmat dan ujiannya adalah dibawah kuasa Allah S.W.T.

Adilkah Tuhan?

Ketika seseorang mengeluh atau berseru “ini tidak adil!”, pernahkah terpikir apa yang menjadi tolak ukur kata “adil” tersebut? Nafsu atau landasan objektif kah yang menjadi tolak ukur kata adil? Jika memang ada landasan objektif sebagai tolak ukurnya, mampukah moral manusia menjadi landasan objektif tersebut tanpa diiringi nafsu? Maka, bukan manusialah yang berhak untuk menentukan atau menilai keadilan pada ketentuan Tuhan dan ketentuan-Nya lah yang sepatutnya menjadi standar keadilan bagi manusia. Jadi, apa yang dikehendaki Tuhan adalah hal yang paling adil. 

Kelompok Asy’ariyah menyatakan bahwa konsep adil bagi manusia yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, ketika manusia membuat suatu kesalahan berarti ia telah meletakkan sesuatu selain pada tempatnya. Sebaliknya, jika ia membuat suatu kebenaran berarti ia telah melakukan sesuatu tepat pada tempatnya. Ringkasnya, kelompok Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah Maha Berkehendak dan manusia juga memiliki pilihannya sendiri. Dan yang terakhir, artikel ini mengingatkan pada kita semua bahwa “siapakah yang sebenarnya tidak adil? TUHAN atau KITA?”

Editor: Elsani Vikanza & Fina Kardiani

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com