Efisiensi-Program-dan-Distrupsi-Budaya-Menuju-Efisiensi-PPI-IIUM

Efisiensi Program dan Distrupsi Budaya: Menuju Efisiensi PPI-IIUM

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Notulen: Malwa Shabrina Wahida; Reporter: Ahmad Shidqi Mukhtasor, Tim Kastrat PPI-IIUM 19/20

Di tengah ambang distrupsi kebudayaan di kalangan mahasiswa Indonesia IIUM, PPI-IIUM memiliki tantangan untuk menjaga stabilitas jalan organisasi. Penting bagi PPI-IIUM untuk memahami serapan aspirasi dan perhatian warga PPI-IIUM.

Oleh karena itu, Kastrat PPI-IIUM kembali mengadakan diskusi FOKUS pada Jumat malam, 2 Oktober 2020 dengan tema Menakar Minat Mahasiswa IIUM dan Prospek PPI-IIUM Ke Depan.

Diskusi mengundang Ketua PPI-IIUM 19/20 sendiri, Ilham Tsany Rasyidan, Praditya Dirgantara Adiga, dan Ahmad Azzam Al-Qoyyimuddin (alumni) untuk berbagi pendapat akan pengelolaan PPI-IIUM dan membaca kebudayaan warga PPI-IIUM. Dimoderatori oleh Achmad Naufal Khairullah, diskusi berjalan ramai dan penuh antusias dari alumni-alumni yang turut hadir.

Tantangan PPI-IIUM dalam Menghadapi Distrupsi

Ilham melihat tantangan PPI-IIUM kini dan nanti adalah masih banyaknya warga PPI-IIUM yang belum tertarik untuk ikut agenda-agenda PPI-IIUM. Kekurangan ketertarikan tersebut berdampak pada sedikitnya SDM yang hendak berpartisipasi dalam agenda-agenda kepanitiaan.

Telah menjadi pemahaman umum bahwa nama-nama yang ikut kepanitiaan cenderung sering dan selalu dikenali–karena berulangkalinya menjadi panitia. Kekurangan nama-nama baru menjadi catatan bagaimana PPI-IIUM memiliki tantangan dalam upaya mengajak partisipasi warganya.

Ilham juga bercerita akan tantangan banyaknya organisasi Indonesia di IIUM yang kerap bertabrakan jadwal dengan PPI-IIUM. Ragam varian POK (Paguyuban, Organisasi, Komunitas) di IIUM menjadi kesadaran bahwa PPI-IIUM bukan satu-satunya opsi berkembang.

Walau demikian, Ilham menjelaskan upaya-upaya periodenya untuk melakukan harmonisasi tersebut melalui kolaborasi agenda dengan berbagai POK. Kerja tersebut patut menjadi contoh dan dikembangkan guna menjaga harmoni POK dan PPI-IIUM.

Foto: Diskusi FOKUS pada Jumat, 2 Oktober 2020

Distrupsi Kebudayaan sebagai Fenomena

Praditya, biasa dipanggil Adit, melihat dari perspektif yang berbeda. Adit melihat bahwa turunnya minat partisipasi warga PPI-IIUM pada agenda-agenda PPI karena mulai nampaknya disparitas kebudayaan. Secara gamblang, Adit menjelaskan adanya kebudayaan pesantren dan non-pesantren yang berpengaruh dalam fenomena ini.

Anak pesantren dijelaskan oleh Adit sebagai orang yang lebih suka beragenda bersama dengan rasa kolektifitasnya yang kuat. Berbeda dengan yang berlatar sekolah selain pesantren yang dideskripsikan sebagai lebih individualis.

Adit juga melihat agenda PPI-IIUM sendiri sebagai salah satu faktor menurunnya minat warga PPI-IIUM. Efektifitas program kerja yang bisa lebih dimaksimalkan–alih-alih mengadakan berbagai agenda dengan tujuan serupa.

Penurunan budaya program kerja yang selalu sama dan kurangnya pembaruan juga dilihat Adit sebagai penyebabnya. Tidak kurang, Adit melihat penghayatan patriotisme yang kaku membuat beberapa orang cenderung tidak tertarik sehingga PPI-IIUM yang dirasa sebagian orang sebagai keluarga, menjadi terlalu serius.

Adit menekankan pentingnya terobosan baru dan efisiensi program kerja, agar PPI-IIUM tidak melelahkan dan menjadi rumah bagi semua.

Mental Peserta Menjadi Penyebab Kemunduran

Ahmad Azzam Al-Qoyyimuddin, dipanggil Azzam, mengkritik pandangan Adit. Dia menjelaskan bahwa generasi milenial memiliki mental komunitas untuk berkumpul dan berkarya. Berbeda dengan mental generasi Z yang mentalnya hanya menjadi peserta, hingga dianalisa Azzam sebagai penyebab menurunnya minat mahasiswa.

Azzam sebagai Ketua 1 PPI-IIUM 15/16 menjelaskan konteks PPI-IIUM terdahulu saat belum banyak komunitas yang tumbuh seperti sekarang. Sebagai rumah, adalah wajar bagi PPI-IIUM untuk berusaha mengakomodasi seluruh agenda dan bentuk ekspresi warganya.

Azzam menyarankan untuk meninjau kembali program kerja yang dilihat sebagai ‘turun-menurun’ dan pentingnya inklusifitas untuk mengikuti zaman perubahan budaya mahasiswa Indonesia di IIUM.

Foto: Ramainya partisipasi warga dan alumni PPI-IIUM dalam FOKUS

Berbagai Tanggapan Peserta Diskusi

Diskusi ditanggapi ramai peserta, salah satunya Fajru Shofil Ula mengapresiasi kerja PPI-IIUM kini dalam pengembangan ekspresi seni dan budaya. Dia menambahkan pentingnya juga PPI-IIUM untuk lebih andil dalam politik kampus dan penghubungan PPI-IIUM dengan warga internasional.

Allan, alumni yang turut hadir dalam diskusi, menanggapi Fajru akan dahulu partisipasi di ruang internasional sudah dilakukan. Walau yang dimaksud berbeda dengan yang dimaksud Fajru untuk realisasi penyerapan aspirasi warga internasional pada kampus, partisipasi terdahulu patut diapresiasi.

Rifat Abdillah dan Rachibunniam, keduanya mantan Ketua PPI-IIUM, mengapresiasi kerja PPI-IIUM kini dan menekankan pentingnya kolaborasi POK untuk ke depannya pada bentuk yang kian konkrit, beserta efisiensi program. Shidqi menambahkan usulan untuk melakukan program gamblang yang menunjang pertumbuhan POK guna bentuk penyerapan aspirasi masyarakat Indonesia PPI-IIUM.

***

Inovasi harus senantiasa dilakukan guna menghidupkan keluarga PPI-IIUM sebagai rumah dan ruang berkembang bersama. Dengan pembacaan kebudayaan dan penyesuaian program, PPI-IIUM dapat mencapai bentuk idealnya sebagai penyerap aspirasi masyarakat Indonesia IIUM.


Submit a Comment

Your email address will not be published.

Tentang PPI IIUM

Sejarah Singkat PPI Tepat tanggal 23 Juli 1991, FKMII (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Indonesia) didirikan. FKMII merupakan mata rantai pergerakan

Read More »

Beranda2

Selamat Datang di WebsitePPI iIUM International Islamic University Malaysia Universiti Islam Antabangsa Malaysia (UIAM) atau dikenal juga sebagai IIUM, merupakan

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com