Pentingnya-Literasi-Media-FOKUS-Edisi-Hoax

Pentingnya Literasi Media: FOKUS Edisi Hoax

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Notulen: Malwa Shabrina Wahida; Reporter: Ahmad Shidqi Mukhtasor, Tim Kastrat PPI-IIUM 19/20

Pada Jumat, 3 Juli 2020, Kastrat PPI-IIUM mengadakan diskusi FOKUS (Forum Kupas Isu) dengan tema Buzzer Pesanan: Hoax dan Pembodohan Diskursus Publik. Diskusi ringan tersebut diadakan dalam ruang Zoom Cloud Meeting, mengundang seluruh warga aktif dan alumni PPI-IIUM.

Dimoderatori oleh Ketua Divisi Kastrat, Shidqi Mukhtasor, diskusi menghadirkan Finez Nawridho dan Amirul Hamidi, alumnus IIUM di jurusan politik. Diskusi juga ditanggapi oleh Fajru Shofil Ula dan Ahmad Faiz Sabilal Hayyi untuk turut meramaikan perbincangan.

Media Sosial dan Ruang Kopi

Amirul Hamidi menggambarkan fenomena media sosial seperti warung kopi, dalam konteks perannya sebagai wasilah diskursus publik. Dalam warung kopi, hanya orang yang dominan dalam berbicara yang akan didengarkan pembicaraannya. Walaupun seseorang pintar, namun tidak pandai berbicara dan memikat perhatian orang, opininya tidak didengar publik.

Sama layaknya sebagaimana fenomena buzzer di media sosial. Buzzer media sosial memiliki kapasitas beropini yang provokatif dan bombastis hingga mampu menarik perhatian publik di ruang digital. Karenanya, banyak orang merasa informasi yang difabrikasi oleh buzzer media sosial serasa benar, walaupun tidak demikian.

Hadirnya buzzer di ruang digital tidak bisa dilepaskan dari pemaknaan demokrasi liberal di Indonesia. Amirul Hamidi mengkritik konsepsi kebebasan yang menerabas otoritas keilmuan, kapasitas, hingga adab.

Mengutip Yudi Latief, Amirul Hamidi menjelaskan bahwa rakyat tersandera dalam sosial media dalam ruang ekspresi kritik-saran pemerintahan. Alih-alih kebebasan dalam konteks media sosial membawa kemudahan dalam melakukan check-balance, masyarakat Indonesia justru mengalami distrupsi informasi.

Amirul Hamidi menyimpulkan bahwa kehadiran UU ITE tidak bisa dilepaskan dari ‘kebebasan’ yang menjadi kekurangan dari demokrasi liberal untuk menjaga batas-batas hak yang terbatasi oleh hak orang lain. Kerasnya media sosial menyebabkan butuhnya pembatasan, dan merefleksikan hilangnya akal sehat sebagai kompas nalar dalam berdemokrasi.

Memahami Demokrasi Terkini

Finez Nawridho menjelaskan bahwa ruang publik dalam demokrasi yang sehat adalah bebasnya pengaruh negara dan unsur-unsur ekonomi yang mampu mempengaruhi pertukaran informasi dan batasan konflik yang wajar.

Dia menggambarkan dengan keberadaan Bintang Emon yang kala itu viral akibat mengkritik pemerintah sebagai fenomena demokrasi yang semestinya diterima. Namun karena pemerintah Indonesia secara sifatnya tidak demokratis, maka masalah freedom of speech muncul. Bukan hal baru bahwa freedom of speech pernah terbatas di Indonesia, ujarnya sambil menggambarkan fenomena Orde Baru yang sangat bermasalah dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Menghubungkan etika demokrasi dan fenomena buzzer di Indonesia, Finez melihat kehadiran buzzer sebagai tidak etis. Mulanya buzzer digunakan untuk kegiatan ekonomi guna promosi usaha dan produk, namun politisi melihat buzzer sebagai opsi tenaga baru. Mengikuti negara lain, pemerintah Indonesia pun juga menggunakan buzzer dalam melakukan pertahanan kebijakannya di ruang publik dengan berbagai cara, baik yang wajar maupun yang gelap.

Foto: Agenda FOKUS PPI-IIUM pada Jumat, 3 Juli 2020

Finez mengajak peserta diskusi untuk berefleksi: amankah kita untuk mengkritik dan beropini di dunia maya? Keseluruhannya tergantung pada kapasitas literasi media tiap individu dalam mengolah informasi dan etika manusia, terutama kode etik orang Asia.

Etika sopan santun dan literasi media yang baik semestinya mampu menjadi bekal untuk setiap individu berpartisipasi di ruang digital pada ukurannya yang wajar hingga mampu berdiskusi dengan baik. Dengan kapasitas literasi media individu yang baik, buzzer tidak akan memiliki tempat di Indonesia—dan seluruh ruang publik yang sehat.

Kejahiliyahan dalam Demokrasi

Ahmad Faiz menanggapi bahwa fenomena obrolan warung kopi pada konteks digital yang diutarakan Amirul Hamidi sebagai realita kejahiliyahan Indonesia. Bukan karena bodoh (saja), namun karena gengsi dan ignoran kepada mereka yang sebenarnya berkapasitas—karena yang diutarakan tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.

Faiz juga menambahkan bahwa kepentingan golongan tidak bisa dilepaskan dari hadirnya buzzer. Dia menekankan pentingnya kita untuk menerapkan metode jarh wa ta’dil para ulama hadis dalam mengukur validasi informasi. Penting untuk kita mengecek sumber (sanad) dan muatan (matan) informasi yang kita terima di ruang digital, terlebih informasi dari buzzer.

Namun demikian, buzzer tidak selalu menyebarkan konten negatif, ujarnya. Buzzer bisa saja digunakan untuk hal positif—seperti mempromosikan agenda dakwah, dan hal-hal baik yang tidak terungkap di ruang publik.

Fajru Shofil Ula juga menambahkan dengan sebuah anekdot di Cina, saat sekampung menuduh seseorang di kampung tersebut adalah singa, maka ia akan memercayai bahwa dirinya singa. Hal itu menggambarkan betapa besarnya kekuatan propaganda dan massa dalam konteks era digital.

Dalam konteks sejarah Indonesia, Fajru berpendapat bahwa Indonesia bisa merdeka karena propaganda ‘mental dijajah’ sehingga mendorong Indonesia untuk berjuang merdeka. Fajru sependapat dengan Faiz bahwa buzzer bisa jadi positif sebagai mata pencaharian, saat disalurkan untuk agenda-agenda yang positif juga.

***

Ruang publik digital kita tidak bisa dilepaskan dari dampak buzzer digital. Kita perlu memperbaiki kapasitas literasi media masyarakat agar mampu secara mandiri menyaring informasi dan juga berlaku dengan baik di ruang digital.

Masyarakat harus kian kritis di tengah pandemi saat sumber informasi kian terbatas. Hoax dan demagogi adalah musuh demokrasi yang harus dilawan dengan adab dan pencerdasan.

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Tentang PPI IIUM

Sejarah Singkat PPI Tepat tanggal 23 Juli 1991, FKMII (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Indonesia) didirikan. FKMII merupakan mata rantai pergerakan

Read More »

Beranda2

Selamat Datang di WebsitePPI iIUM International Islamic University Malaysia Universiti Islam Antabangsa Malaysia (UIAM) atau dikenal juga sebagai IIUM, merupakan

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com