Mengecam-Rasisme-Refleksi-Genosida-Kamp-Auschwitz

Mengecam Rasisme: Refleksi Genosida Kamp Auschwitz

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Penulis: Fadhil Ahmad Fauzan, Tim Kastrat PPI-IIUM 19/20

Rasisme terjadi karena perbedaan yang dianggap inferior atau tidak diterima terhadap kelompok tertentu. Apapun perbedaannya, bisa karena cara berbicara, norma yang dimilki, atau yang paling parah adalah warna kulitnya.

Kita bisa liat kejadian yang baru-baru terjadi perihal rasisme di mana pun. George Floyd contohnya, seorang kulit hitam ditindih lehernya dengan lutut seorang polisi di Amerika Serikat. Padahal kronologi menjelaskan bahwa Floyd tidak melakukan tindakan kriminal apapun. Namun praduga polisi tanpa dasar, sebagaimana pada sebagian masyarakat kulit hitam lain, membuat nyawanya hilang.

Kita perlu balik lagi ke masa lalu pada masa di mana ia adalah masa yang kian kental dengan rasa supremasi antar ras, tepatnya perang dunia kedua. Kita akan merefleksi masalah rasisme yang terjadi di era Jerman pada masa Hitler, sosok yang melegitimasi genosida pada ras Yahudi, di kamp Auschwitz.

Menilik ke Belakang, Kamp Auschwitz

Auschwitz, terletak di Polandia bagian selatan tepatnya di Birkenau, adalah kamp konsentrasi Nazi terbesar yang pernah dibangun. Di buka pada tahun 1940, mulanya digunakan untuk tahanan politik.

Setelah itu, kamp tersebut digunakan untuk pembantaian orang-orang Yahudi dan orang-orang yang dianggap sebagai musuh Nazi. Musuh Nazi tersebut ialah oposisi politik, homoseksual, dan orang yang cacat secara fisik dan mental.

Sewaktu tawanan sampai di kamp, selalu akan ada seleksi di depan pintu utama. Para dokter akan melihat kelayakan seseorang untuk menjadi budak kerja paksa untuk distribusi kebutuhan perang seperti mesiu, karet sintesis, dan lain-lain.

Orang yang tidak lulus seleksi kelayakan dokter Nazi akan berakhir tragis. Korban akan dimasukkan ke dalam ruang mandi. Tidak menduga bahwa ruang mandi tersebut menutupi penyemprot gas beracun Zyklon-B. Pada akhirnya, tubuh-tubuh akan dikremasi. Tidak terhitung korban-korban yang sudah terbunuh hanya karena ketidaksempurnaan fisik dan bias standar kemanusiaan yang dangkal.

Adapun yang menjadi pekerja paksa biasanya tewas karena kelelahan, kurang nutrisi, hingga penyakit. Penyiksaan juga sering terjadi, bahkan beberapa dijadikan bahan eksperimen.

Eksperimen Manusia di Kamp Auschwitz

Josef Mengele, adalah kepala dari semua eksperimen di Auschwitz. Ia telah meneliti tentang perbedaan warna mata setiap orang dengan menyuntikkan serum ke anak kecil hingga menyebabkan kesakitan yang menderita. Lalu ia juga menyuntikkan kloroform ke dua jantung orang kembar agar melihat apa mereka akan mati bersama.

Pada Januari 1945, terjadi pembebasan Auschwitz oleh tentara merah (Uni Soviet). Ketika sampai di lokasi, mereka menemukan 7.600 orang sakit atau kurus kering tertinggal. Tumpukan-tumpukan mayat juga ditemukan di lokasi tersebut.

Dalam beberapa penelitian, ada 1.1 sampai 1.5 juta korban adalah mayoritas orang Yahudi, 70.000 sampai 80.000 orang Polandia, 19.000 sampai 20.000 adalah orang Roma, dan sedikit jumlah tahanan perang Uni Soviet.

Sebelum tentara merah datang, perwira-perwira Auschwitz memusnahkan semua bukti-bukti dan membakar gedung-gedung. Sekitar 60.000 tahanan dievakuasi ke kamp lain. Diantarkan oleh kereta, banyak yang meninggal dalam proses evakuasi tersebut.

Sekarang Auschwitz menjadi museum Holocaust dan dicatat sebagai situs pembantaian etnis terbesar di dunia. Hal ini untuk mengenang sejarah mengerikan yang dihasilkan dari genosida.

Kebencian Hitler pada Yahudi di Tengah Krisis

Tumbuhnya Nazi diawali dari keresahan status negara Jerman setelah kalah perang dunia pertama. Reichmark (mata uang jerman dulu) menginflasi sampai berjuta-juta Dollar Amerika. Banyak orang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi pada kala itu.

Di tengah krisis ekonomi, masyarakat melihat Nazi sebagai kesempatan untuk membangun Jerman kembali dari reruntuhan. Ketika Nazi adalah partai yang menguasai Jerman, Hitler, pemimpin dari partai Nazi, membuat klasifikasi strata terhadap ras. Hitler menempatkan ras Arya paling atas dan ras Yahudi paling bawah.

Belum ada alasan yang jelas mengapa Hitler menaruh ras Yahudi di strata paling bawah. Namun pada awalnya, partai Nazi mengimplementasi anti-semitisme sejarak pemahaman saja.

Sejalannya waktu, Hitler membandingkan Yahudi dengan kuman, menyebabkan pada radikalisasi pemikiran anti-semitisme. Dia juga menyalahkan orang Yahudi sebagai konspirator segala kejadian yang buruk di Dunia. Jerman semakin lemah karena pengaruh dari Yahudi. Mereka merencanakan dominasi dunia melalui kapitalisme.

Hitler tidak hanya membenci orang Yahudi. Dia melihat dunia sebagai arena konflik kemanusiaan. Karena itu dia membuat klasifikasi ras dari yang tertinggi sampai terbawah.

Contohnya ras Slavic, mereka diakui sebagai inferior hingga pantas dijajah. Orang-orang yang mempunyai segala penyakit, bahkan masyarakat disabilitas, mereka dianggap berbahaya dan mereka pantas dimusnahkan.

Genosida Modern: Ras Uyghur dan Komunis Cina

Di zaman sekarang, masih ada terjadi genosida yang bisa disebut lebih tidak manusiawi dibanding zaman dulu. Kita mengetahui masalah suku Uyghur yang tertindas oleh pemerintah komunis Cina kini.

Setiap orang Uyghur dipaksa untuk memakan babi dan minum alkohol walaupun Muslim, tidak boleh melakukan ibadah, wanita-wanita mereka dipaksa untuk menikah dengan laki-laki Cina non-Muslim, dan dimasukkan ke kamp untuk dicuci otak. Mirisnya, hal ini juga kurang diekspos ke berita Internasional.

Walt Disney, baru saja merilis film live action adaptation yang baru, Mulan (2020). Film Mulan bertema pada latar kerajaan Tionghoa kuno, dengan Mulan sebagai tokoh utama tersebut, seorang gadis yang berpura-pura menjadi pria untuk menggantikan ayahnya yang sudah lumpuh untuk berperang.

Ada hal yang mengejutkan di balik film ini sampai menuangkan banyak kontroversi. Ketika kredit berjalan setelah film sudah selesai, ada sebuah pesan dari Disney kepada Pemerintah Komunis Cina, bahwa mereka berterimakasih sudah menyediakan fasilitas untuk produksi film Mulan.

Tercantum juga lokasi pembuatan film tersebut berada di provinsi Xinjiang, tempat beradanya kamp konsentrasi suku Uyghur Muslim yang kini terkena jerat kriminal hak kemanuasiaan dari Pemerintah Komunis Cina.

Ditambah lagi aktor utama dari film tersebut, Liu Yifei (Mulan), ikut serta berterima kasih dan mengecam perlawanan terhadap Pemerintah Komunis Cina di media sosial. Dia juga mempermalukan sikap masyarakat Hong Kong yang melakukan demonstrasi perlawanan, tidak tunduk terhadap pemerintah pusat.

Walaupun film Mulan sendiri mendapat rating yang sangat rendah dan menuai kontroversi, masyarakat di Cina pun tidak boleh membincangkan film tersebut, terkait masalah-masalah yang terjadi.

Kejahatan Terulang Akibat Abai Sejarah

Dukungan dari para oknum-oknum tersebut terhadap Pemerintah Komunis Cina mengartikan bahwa mereka mendukung genosida, superioritas rasial, dan sikap anti-demokrasi.

Kita bisa melihat apa yang pemerintah Cina lakukan terhadap etnis Uyghur kini yang dipaksakan ke dalam kamp konsentrasi untuk dicuci otaknya agar menghilangkan citra-citra dari tradisi bahkan dari agama Islam yang diakui sebagai sumber terorisme. Wanita-wanita disterilisasikan agar tidak dapat melahirkan dan mereka dipaksakan untuk menikah dengan kaum laki-laki Tionghoa yang non-muslim.

Dari latar kejadian tersebut, kita bisa melihat bahwa Disney, dan banyak orang, tidak belajar sejarah. Maka dari itu telah terulangi lagi kegelapan di masa lampau, seperti Kamp Auschwitz.

Bahkan yang terjadi sekarang lebih parah dibanding dari sebelumnya. Pada masa lalu, Nazi terang-terang, menunjukkan ke seluruh dunia akan ethnic cleansing yang mereka lakukan terhadap kaum Yahudi, dan semua negara bersimpati terhadap Holocaust tersebut.

Bila kita lihat etnis Uyghur, Cina menutup-nutupi kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan. Walaupun sudah ada bocoran, tetapi dunia tidak melakukan apa saja. Maka dari itu, kita tidak tahu sebenarnya seberapa dalam kejahatan mereka pada Uyghur.

Pada akhirnya bisa ada dua kemungkinan yang akan terjadi, mereka musnah dihabiskan, atau mereka tidak mengenal identitas mereka sendiri sebagai bangsa dengan kebudayaan.

***

Betapa jahatnya yang dilakukan Pemerintah Komunis Cina, tidak mempunyai toleransi akan kepercayaan atau ras. Jerman pun, setelah melewati masa yang amat sangat gelap, mereka telah menyadari dan menyesali, malu. Mereka tidak mau hal tersebut terjadi lagi.

Sebagai manusia, bahkan sebagai Muslim, seharusnya kita bertindak melawan kezaliman yang sangat besar ini. Kita harus mencegah apa yang di masa lampau sudah terjadi, tidak datang lagi. Bila orang Yahudi berhasil diselamatkan, bahkan dengan jumlah yang banyak, mengapa bangsa yang jumlahnya lebih kecil tidak bisa?

Sejarah itu ada untuk dipelajari agar kita bisa merefleksi apa yang kita perbuat di masa lalu, dan memperbaikinya apabila ada kekurangan.

Kita telah melihat kejadian suramnya holocaust Auschwitz, ia seharusnya tidak boleh terjadi lagi. Akan tetapi, pada kenyataannya ada negara yang telah melakukan hal yang sama, bahkan lebih mengerikan.

Alangkah baiknya, kita sesama manusia, memahami satu sama lain. Mempunyai rasa toleransi, tidak mengukur warna kulit, latar budaya, agama, atau gaya hidup sebagai ukuran kemanusiaan. Perdamaian akan tercapai dari kita sendiri jika kita mampu menerima sesama manusia.

Editor: Shidqi Mukhtasor

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Tentang PPI IIUM

Sejarah Singkat PPI Tepat tanggal 23 Juli 1991, FKMII (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Indonesia) didirikan. FKMII merupakan mata rantai pergerakan

Read More »

Beranda2

Selamat Datang di WebsitePPI iIUM International Islamic University Malaysia Universiti Islam Antabangsa Malaysia (UIAM) atau dikenal juga sebagai IIUM, merupakan

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com