problem-literasi-indonesia-refleksi-hari-buku-internasional

Problem Literasi Indonesia: Refleksi Hari Buku Internasional

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Penulis: Fadhil Ahmad Fauzan, Tim Kastrat PPI-IIUM 19/20

Hari Buku Internasional dirayakan pada 23 April di seluruh dunia, ditetapkan dulu oleh PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa). Alasan dirayakan pada tanggal tersebut karena pada hari itu banyak sastrawan terkenal dari penjuru dunia meninggal. Seperti Shakespeare, Cervantes, dan Inca Garcilaso De La Vega. Mereka pun meninggal pada tahun yang sama, yaitu tahun 1616.

Tetapi di samping itu, tanggal 23 April juga adalah tanggal lahirnya banyak sastrawan termasyhur. Contohnya seperti Maurice Duon, Haldor K. Laxness, Vladimir Nabokov, Joseph Pla dan Manuel Mejía Vallejo.

Memahami Lahirnya Hari Buku

Tanggal 23 April adalah pilihan inisiatif dari UNESCO’s General Conference pada tahun 1995 di Paris, Perancis. Ia ditetapkan sebagai upeti penghormatan kepada buku-buku, dan para penulis dari seluruh penjuru dunia.

Hal ini juga untuk mendorong orang-orang, terutama pemuda-pemuda, untuk mengetahui betapa pentingnya membaca sebagai sebuah kesenangan, sumber ilmu, dan agar bisa menghormati para penulis yang sudah berjuang untuk mempertahankan perkembangan sosial dan budaya dari segi literatur.

Hari buku Internasional sudah menuai berjuta pendukung dari 100 negara, banyak sukarelawan dari sekolah, perusahaan-perusahaan, badan publik, dan grup-grup profesional mengikut serta untuk mengembangkan hari raya tersebut.

Dikutip dari Our World In Data tahun 2015, angka literasi dunia telah mencapai 86% dari orang-orang yang berumur 15 ke atas. Tiga negara dengan angka literasi sempurna tertinggi yaitu Rusia, Belarus, dan Polandia.

Beberapa contoh negara-negara yang memiliki nilai hampir 100% adalah Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Jerman, Italia, Perancis, dan Swedia. Angka ini menunjukkan kesuksesan negara mengelola masyarakat untuk mengasah kemampuan literasi. Tidak hanya kapasitas menulis dan membaca, namun juga minatnya untuk meraih ilmu dari membaca dan menyimpulkannya dengan menulis. Ilmu yang dimaksud bisa menjadi Sains, Matematika, Sastra, Ekonomi, dan lain-lain.

Angka Literasi Indonesia

Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia mempunyai angka peminat membaca yang kecil, terutama dari kaum muda. UNESCO telah mencatat dengan indeks 0,001 peminat pembaca, yang berarti dari 1000 orang hanya ada 1 pembaca.

Masalah ini juga tidak begitu banyak diperbincangkan di media. Perpusnas (Perpustakaan Nasional) yang mempunyai koleksi 2,6 juta buku, jarang didatangi orang. Lalu, masyarakat dibanjiri dengan hoax di mana masyarakat mudah sekali terpengaruh oleh hoax. Pembajakan buku dibiarkan begitu saja sehingga perusahaan pencetak tidak dihargai.

Hoax yang disebabkan karena kekurangan kemampuan literasi, juga menyebabkan kemampuan literasi masyarakat kian lemah. Dengan masyarakat hanya mengafirmasi segala berita yang tersampaikan tanpa menelaah lebih tentang kebenarannya, lalu menyebarkan ke banyak orang, ia memperbesar distorsi informasi publik. Belum lagi hoax yang disertai oleh emosi—seperti hoax politik dan agama.

Menangani Hoax dan Masalah Literasi Indonesia

Hoax dapat diatasi dengan melatih kemampuan literasi media masyarakat. Pemerintah perlu memberikan pendidikan kepada masyarakat terkait hoax.

Komunikasi dengan lembaga agama dan masyarakat sipil lainnya juga perlu agar pesan tersampaikan dengan efektif. Pada akhirnya, masyarakat bisa menjadi filter bagi dirinya sendiri untuk penerimaan berita.

Dengan kini Kominfo telah menyediakan layanan pengaduan konten provokatif dan palsu melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id dan sosial media aduan konten lainnya seperti di twitter, masyarakat bisa turut berpartisipasi dalam melaporkan hoax yang bermasalah dalam masyarakat untuk kemudian ditanggulangi.

Selain itu, pembajakan buku juga menjadi isu penting dalam dunia literasi. Kebanyakan dari kita meremehkan persoalan pembajakan buku, padahal hal itu sangat berpengaruh kepada industri penerbitan buku yang membuat keluh kesah pendapatan mereka dan para penulis buku.

Pembajakan buku mungkin dianggap sepele, namun hal itu juga bisa berdampak besar. Sering sekali masyarakat mengambil kesempatan ketika berhubungan untuk membeli buku. Alasannya buku yang dicetak, dibajak, diunduh, terkesan lebih murah bahkan gratis.

Perbuatan tersebut bisa merugikan industri penerbitan buku dan juga penulis dalam pendapatannya. Terlebih lagi, beberapa kali terjadi penjualan buku bajakan secara terang-terangan. Pemerintah sampai sekarang sudah menindak permasalahan ini, menggerebek toko buku ilegal, mempromosikan kepentingan hak cipta, dan sebagainya, namun belum ada hasil.

***

Problem literasi adalah pernyataan yang nyata di masyarakat kita. Lemahnya kualitas literasi mempengaruhi bagaimana kita dalam berinteraksi dengan informasi di sekitar kita, kemudian mengambil pelajaran dari dunia hingga mempengaruhi karakter kita dalam menghargai ilmu pengetahuan dan otoritas informasi.

Meningkatkan kegemaran dapat dilakukan dalam hal-hal kecil, seperti mencari tahu minat terbesar kita akan sesuatu, kemudian banyak mencari pertanyaan seputar minat kita.

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Tentang PPI IIUM

Sejarah Singkat PPI Tepat tanggal 23 Juli 1991, FKMII (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Indonesia) didirikan. FKMII merupakan mata rantai pergerakan

Read More »

Beranda2

Selamat Datang di WebsitePPI iIUM International Islamic University Malaysia Universiti Islam Antabangsa Malaysia (UIAM) atau dikenal juga sebagai IIUM, merupakan

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com