situasi-nelayan-di-era-covid-19

Situasi Nelayan di Era Covid-19

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Penulis: Dien Muhammad Alfaen, Tim Kastrat PPI-IIUM 19/20

Indonesia merupakan sebuah negara maritim yang terdiri dari 17.499 gugusan pulau (Archipelagic State) dengan luas total wilayahnya mencapai 7,81 juta km2. Ribuan pulau-pulau tersebut jika diukur hanya mencapai 2,01 juta km2 dan selebihnya merupakan lautan luas yang membelahnya.

Hal ini menunjukkan bahwa potensi kekayaan maritim Indonesia sangatlah besar dan tak terhingga selama dikelola dengan sebijak mungkin.

Memahami Latar Hari Nelayan

Pada tanggal 6 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Nelayan. Dan pada tahun ini Hari Nelayan diperingati untuk ke-60 kalinya. Sebuah hari yang dikhususkan untuk mengapresiasi jasa para nelayan Indonesia yang telah berjuang dalam memenuhi kebutuhan protein dan gizi seluruh rakyat Indonesia.

Hari Nelayan sejatinya merupakan tradisi turun-temurun masyarakat pantai Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi untuk mengungkapkan rasa syukur atas kesejahteraan hidup yang diberikan.

Upacara ini biasa diisi dengan tarian tradisional dan pelepasan sajen berupa kepala kerbau ke laut dengan harapan agar hasil tangkapan nelayan semakin meningkat.

Selain di Kabupaten Sukabumi, berbagai daerah di penjuru Indonesia pun memiliki rangkaian acara yang serupa seperti acara Ruwat atau Nyadran Laut yang dilaksanakan setiap April atau November-Desember. Tanggalnya tidak menentu di Lampung Timur dan Selatan; acara Labuh Saji yang secara rutin dirayakan di Pelabuhan Ratu sebagai simbol hubungan nelayan dengan Nyi Roro Kidul dilaksanakan setiap 6 April. Adapun acara Petik Laut 13 Maret di kota Pasuruan, Jawa Timur.

Melihat antusias kehidupan sosial para nelayan yang sering mengadakan kegiatan syukuran-syukuran laut beserta pesta tradisionalnya, pemerintah masa Orde Baru meresmikan tanggal 6 April 1960 sebagai Hari Nelayan untuk merayakan dan mengapresiasi jasa-jasa para nelayan dalam skala nasional.

Namun semenjak tahun 2006, ‘sesajen’ yang dilepaskan ke laut diganti menjadi anak penyu, benih ikan, dan benur (bibit udang).

Potensi Kekayaan Maritim Indonesia

Kekayaan maritim Indonesia berupa ikan, garam, rumput laut, dan lain sebagainya begitu melimpah sehingga sebagian masyarakat yang menyadari akan potensi tersebut memilih untuk memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan utama mereka. Profesi seperti nelayan, petani garam, dan lainnya pun terdengar sangat potensial.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan perkiraan kasar nilai potensi laut Indonesia sampai Maret 2019 adalah senilai 1.772 triliun (22/4/2019). Di angka 1.772 triliun ini, 312 triliunnya adalah dari perikanan, 45 Triliun dari terumbu karang, 21 triliun dari mangrove, 4 triliun dari lamun, 560 triliun adalah potensi kekayaan pesisir, 400 triliun bioteknologi, 20 triliun wisata bahari, 210 triliun minyak bumi, dan 200 triliun dari transportasi laut.

Adapun yang menjadi tantangan kini dan ke depan adalah bagaimana pemerintah mengelola potensi kekayaan alam ini. Penjaminan akan kesejahteraan nelayan dalam mengakses kekayaan maritim Indonesia juga merupakan tantangan tersendiri.

Situasi nelayan di Jawa Tengah sedang tidak stabil. Harga ikan yang biasanya dibeli oleh pabrik berkisar Rp. 40.000/kg, kini dijual kepada masyarakat hanya berkisar Rp. 15.000 sampai dengan Rp. 20.000/kg.

Tidak hanya itu, produk olahan kelompok nelayan seperti keripik kerang yang normalnya adalah Rp. 15.000 kini hanya dijual Rp. 5000/bungkus. Nelayan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu juga menghadapi tantangan serupa. Harga cumi laut yang biasa dijual Rp80.000, kini hanya Rp40.000 ribu.

Sementara itu, harga cumi karang yang biasa dijual Rp50.000 menjadi Rp20.000. Untuk situasi di Sumatera Utara, sebagaimana dipaparkan oleh Ketua Federasi Serikat Nelayan Nusantara (FSNN), Sutrisno, harga gurita kini hanya Rp20.000 ribu/kg dan kepiting rajungan sekitar Rp40.000/kg.

“Sebelum menyebarnya Covid-19, harga gurita bisa mencapai Rp50.000/kg, sedangkan harga kepiting dan rajungan bisa mencapai Rp60.000 – 65.000/kg,” terang Sutrisno (29/3).

Ia semua menjadi demikian karena terpengaruh oleh Covid-19. Kebijakan-kebijakan pemerintah banyak membatasi mobilisasi kapal layar dan juga penutupan pusat perdagangan ikan, sebagaimana yang terjadi di Kepulauan Seribu. Sebagaimana di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Muara Angke yang ditutup sampai waktu yang belum ditentukan, yang mana berdampak signifikan akan kesejahteraan nelayan.

***

Maka ini pun menjadi tantangan kita semua dalam menghadapi coronavirus. Aspek kehidupan yang terkadang tidak begitu nampak oleh masyarakat metropolitan, seperti kehidupan nelayan, perlu menjadi pertimbangan besar oleh pemerintah Indonesia agar mampu mendapatkan perlindungan dan bantuan ekonomi yang layak.

Semoga dengan diperingatinya Hari Nelayan, perihal ini bisa menjadi kontemplasi bersama dan tentu pertimbangan untuk pemerintah Indonesia dalam menentukan kebijakan publiknya yang adil.

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Tentang PPI IIUM

Sejarah Singkat PPI Tepat tanggal 23 Juli 1991, FKMII (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Indonesia) didirikan. FKMII merupakan mata rantai pergerakan

Read More »

Beranda2

Selamat Datang di WebsitePPI iIUM International Islamic University Malaysia Universiti Islam Antabangsa Malaysia (UIAM) atau dikenal juga sebagai IIUM, merupakan

Read More »

CONTACT

Untuk pertanyaan, mohon hubungi

officialppiiium@gmail.com