Pada awalnya, obat narkotika dikenal dengan kegunaannya dalam dunia medis. Single Convention on Narcotic Drugs di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyatakan tentang kegunaan obat narkotika dalam dunia kesehatan.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu penggunaan narkotika menjadi sangat membahayakan karena penyalahgunaannya oleh oknum tertentu. Hasilnya, perdagangan gelap narkotika makin marak seantero dunia.

Sejarah Hari Anti Narkotika Internasional

Setiap tahunnya, tanggal 26 Juni dikenal sebagai Hari Anti Narkotika Internasional atau International Day Against Drug Abuse and Illicit Trafficking. Setelah dicanangkan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada 26 Juni 1988, Hari Anti Narkotika Internasional diharapkan menjadi ajang guna mengingatkan masyarakat dunia untuk menghindari narkoba, obat-obatan ilegal dan penyalahgunaannya.

Peredaran narkotika telah mengancam kelangsungan hidup manusia dari berbagai aspek, dari mulai kesehatan, sosial, ekonomi, hingga keamanan. 26 Juni juga dipilih secara khusus dengan memperingati momen suksesnya seorang pejabat Tiongkok yaitu Lin Zexu dalam mengungkap  kasus perdagangan opium internasional pada abad 18.

Prevalensi yang Tinggi dan Bahayanya

Dalam skala regional, seperti yang dilansir situs resmi BNN, Indonesia telah mengantongi presentase penyalahgunaan narkoba yang cukup tinggi, yaitu 1,77%. Dengan kata lain, lebih dari 3 juta warga negara Indonesia pada rentang usia 10-59 tahun telah terperangkap dalam penyalahgunaan Narkoba.

Dengan angka sebesar itu, prevalensi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar bahkan lebih besar, yaitu di angka 3% lebih. Artinya, terdapat 2,3 juta pelajar yang terindikasi terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.

Sedangkan dalam skala Internasional, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) dalam World Drugs Reports 2018 telah melaporkan bahwa 5,6% penduduk dunia atau sebanyak 275 juta pernah mengonsumsi narkoba. Dengan angka prevalensi sebesar itu, tidaklah aneh jika kita selalu mendengar istilah Drug Lords yang sangat sukses dalam film-film barat berkat pangsa pasar narkoba yang nyatanya masih sangat luas.

Bahaya dari penyalahgunaan narkotika bukan saja mengancam diri seorang pemakai, akan tetapi dapat berimbas juga kepada orang lain. Narkotika telah terbukti secara nyata dapat memicu berbagai macam kejahatan lainnya, mulai perdagangan yang ilegal itu sendiri, pemerkosaan, bahkan pembunuhan.

Bahkan dapat terdengar belakangan bahwa dana yang didapat dari peredaran narkotika digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme.

Generasi Milenial dan Tren Narkoba

Kalangan muda atau yang biasa dikenal dengan Generasi Milenial, acap kali digolongkan sebagai bagian dari kelompok masyarakat dengan karakteristik energik dan cenderung tidak suka dengan aturan. Stereotype yang muncul telah memicu berbagai persepsi masyarakat dapat berakibat pada mental Generasi Milenial.

Persepsi tersebut sejatinya muncul bukan tanpa alasan sama sekali. Ia sering terdengar dalam berita terkait bagaimana kaum remaja tertangkap basah sedang mengkonsumsi narkoba, baik laki-laki maupun perempuan.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah program dari stasiun televisi swasta “86” yang biasa yang menampilkan kejadian yang dialami polisi secara langsung, memperlihatkan sebuah kejadian yang sangat menarik sekali. Seorang pemuda berpakaian punk di pinggir jalan tertangkap operasi polisi sedang membawa sebuah wadah kecil yang berisi bubuk berwarna putih.

Pada awalnya polisi yang bertugas mencurigai bahwa itu adalah obat-obatan terlarang, akan tetapi setelah ditelusuri bubuk tersebut ternyata hanyalah butiran garam. Pemuda tersebut berdalih bahwa membawa barang tersebut hanyalah untuk “bergaya” dan agar terlihat keren. Dari kejadian tersebut kita dapat menyimpulkan bagaimana hal yang tabu dapat berubah menjadi tren dalam rangka memperlihatkan jati diri masing-masing.

Meskipun generasi milenial dinilai rawan terpapar penyalahgunaan narkoba. Peneyelesaian masalah Pencegahan dan Pemberatasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Ia adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi milenial.

Presiden dengan Instruksi Presiden (Inpres) No. 2018 perihal Rencana Aksi Nasional P4GN telah memberikan payung hukum kepada segenap masyarakat Indonesia untuk saling gotong-royong membantu mensukseskan P4GN tersebut.

***

Hal ini menjadi refleksi penting bagi kita bahwa ada keresahan dalam maraknya narkoba di sekitar kita, dan bahwa kita sebagai generasi milenial perlu melakukan sesuatu terhadapnya. Narkoba bukan sesuatu untuk dibanggakan dan dibudayakan.

Mari kita sama-sama mengusung gaya hidup sehat agar generasi milenial bisa produktif bagi bangsa dan negara.

Penulis: Fajru Shofil Ula, Kastrat PPI IIUM
Editor: Shidqi Mukhtasor

Referensi:

Arimbawa, I. K. G., Diantha, I. M. P., &Utari, A. S. (2016). Hukuman Mati Terkait Kejahatan Narkotika Dalam Perspektif Hukum Internasional Dan Hukum Nasional. Kertha Negara: Journal Ilmu Hukum.

bnn.go.id/hari-anti-narkoba-internasional-hani-2019-milenial-sehat-tanpa-narkoba-menuju-indonesia-emas/

bosscha.id/2019/06/26/sejarah-26-juni-lahirnya-hari-anti-narkotika-internasional/