Musik adalah sarana komunikasi emosional yang sangat kuat. Fungsi musik sebagai media ekspresi diri lebih dari sekedar kumpulan not dan melodi. Ia terkait bagaimana kita bisa membawa musik ke dalam mood, hingga menemani aktivitas kita atau bahkan melipur lara.

Dengan musik menjadi perangkat ekspresi, ia harus bisa menjadi perpanjangan indra musisinya. Maka dari itu ekspresi dari musik tersebut akan terkomunikasikan kepada penikmatnya. Identitas dari musisi terbawa hingga para penikmatnya bisa langsung merasakan sebuah proses komunikasi melalui lantunan musiknya.

Setiap penikmat musik pasti memiliki berbagai macam selera musiknya sendiri. Musik dapat dikatakan sebagai gaya hidup yang bisa berubah bergantung zaman atau keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya.

Maka dari itulah, selera dan pemilihan lagu seseorang biasanya akan berubah seiring dengan waktu dan pengalaman hidup yang mereka lalui. Fakta mengapa kita senang ketika mendengarkan musik adalah ketika kita mendengarkan musik ternyata otak kita akan memproduksi dopamine, yaitu senyawa kimia yang membuat mood kita menjadi lebih baik dalam kata lain membuat kita menjadi senang.

Apa Itu Identitas?

Menurut Gardiner W. Harry, identitas adalah pendefinisian diri seseorang sebagai individu yang berbeda dalam perilaku, keyakinan dan sikap. Identitas dibagi menjadi beberapa jenis salah satunya identitas pribadi.

Identitas pribadi merupakan karakteristik unik yangmembedakannya dengan orang lain. Setiap individu memiliki identitas yang berbeda sehingga tidak sama dengan yang lain. Pengaruh budaya juga ikut andil untuk mempengaruhi identitas pribadi seseorang.

Orang yang berasal dari budaya kolektif maka mereka menonjolkan keanggotaan kepada orang lain. Sementara itu, orang barat yang berasal dari budaya individualis mereka lebih senang menunjukkan perbedaan dirinya dengan orang lain. Kecenderungan terhadap sesuatu juga banyak mempengaruhi identitas seseorang. Semua individu diberikan akal serta perasaan sehingga mereka dapat memiliki preferensi atas apa yang mereka suka.

Hubungan Identitas dengan Musik

Karakteristik setiap individu memang dipengaruhi banyak faktor. Preferensi dalam musik juga dapat menjadi salah satu faktornya ada sebagian orang yang menyukai musik yang pelan dan lembut (light music) karena dapat membuat nyaman dan menenangkan perasaan, tetapi tidak sedikit juga yang menyukai musik yang keras  (heavy music) yang dapat membuat semangat. (Schwartz & Fouts, 2003)

Menurut Schwartz & Fouts (2003), kecenderungan mendengarkan salah satu jenis musik ternyata berpengaruh kepada identitas atau karakteristik dan tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Hingga saat ini tidak sedikit orang yang bisa melepaskan diri dari alunan musik apa pun jenisnya, entah sebagai permulaan mengawali aktivitas atau bahkan dalam kesedihan yang dia alami. Musik menjadi hal universal yang tidak memandang latar belakang semua orang memiliki musik favoritnya masing-masing.

Membahas mengenai selera, terdapat perbedaan antara masyarakat perkotaan yang lebih senang mendengarkan musik pop atau musik EDM (electronic dance music). Masyarakat pedesaan memiliki corak masyarakat yang sederhana serta masih menjunjung nilai kebersamaan lebih daripada masyarakat perkotaan. Hal ini terekspresikan melalui musik karawitan di daerah Jawa Tengah yang kental penggunaan gamelan, dan daerah pantai utara yang terkenal dengan musik panturanya.

Kita bisa melihat kembali pada zaman post-modern ini sepertinya dangdut atau campur sari tetap menjadi musik kebanggaan Indonesia. Mungkin ia karena lantunan dan ritme yang membuat semua orang merasakan keeratan di dalamnya tanpa pandang latar belakang. Musik adalah salah satu bagian dari bidang seni yang kuat kaitannya dengan kebebasan.

Di sinilah para seniman mengekspresikan dirinya dalam bentuk karya yang menggambarkan karakteristik dirinya. Sehingga penikmat karya seni tersebut juga akan terbawa olehnya.

Tren Musik Zaman Sekarang

Kita juga bisa melihat pada kedigdayaan K-Pop yang sangat besar kini. Hal ini diakui bahwa persiapan sebuah girlband/boyband untuk sebelum muncul dipermukaan masa sangat panjang, bahkan persiapannya bertahun-tahun. Bahkan bukan sekedar musiknya saja, drama Korea yang kita tonton juga perlahan membuat kita larut

Semenjak pandemi COVID-19 ini, semua orang tinggal di rumah dan semuanya dilakukan dari rumah. Maka semakin banyak pula orang yang awalnya menutup diri dari melihat drama dan musik Korea menjadi kecanduan.

Sedangkan menurut Hodges (1999), ia dapat terjadi karena musik memiliki peranan yang besar bagi kita. Musik bukan hanya sebagai pengisi waktu luang saja tetapi, juga sebagai pengisi kekuatan sosial yang mempengaruhi cara berbicara, berpakaian, bertingkah laku dan juga cara berpikir.

Bagi kita yang menyukai light music diharapkan menggunakan music tersebut untuk membantu menenangkan perasaan, sedangkan bagi pecinta heavy music dapat menggunakan musik tersebut untuk meningkatkan semangat.

Tentunya dengan hal ini, marilah kita bisa lebih selektif dalam mendengarkan musik agar tidak terpengaruh efek negatif dari bentuk ekspresi yang tidak sehat, serta lebih dapat mengambil manfaat dari sisi positif musik yang kita sukai.

Malwa Shabrina Wahida, Tim Kastrat PPI IIUM
Editor: Shidqi Mukhtasor

Referensi:

Skripsi Sarjana Aulia Hamzah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hubungan antara Preferensi Musik dengan Risk Taking Behaviour pada Remaja

https://www.djarumcoklat.com/coklatnews/antara-musik-identitas-dan-nasionalisme