Melalui Resolusi Sidang Umum PBB No.A/RES/49/115, PBB mendeklarasikan tanggal 17 Juni sebagai Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, sejak tahun 1994. Dengan perkembangan ekonomi nasional hingga global yang berbasis industri kian bertumbuh, dunia perlu memperhatikan aspek pengelolaan bumi sebagai konsekuensi industri.

Menurut PBB, dibutuhkan sekitar 593 juta hektar tanah agrikultur pada tahun 2050—yang mana adalah dua kali luas India. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beridentitas erat dengan keragaman agraria dan maritim perlu memperhatikan isu ini.

Degradasi Lahan sebagai Isu Global

Dalam istilah PBB, peringatan hari ini disebut dengan ‘World Day to Combat Desertification and Drought’. Desertification yang dimaksud oleh PBB adalah degradasi tanah daerah sub-lembab kering, semi-kering dan kering. Aktivitas manusia yang berkaitan erat dengan pemanasan global dan pembuangan limbah tanah menjadi faktor utama degradasi lahan. Peperangan, pengelolaan pabrik yang tidak ramah lingkungan, hingga deforestasi yang tidak diimbangi reboisasi yang cukup menjadi penyebab utama degradasi lahan.

Tiap tahun PBB mengadakan peringatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Internasional akan pentingnya upaya nyata dalam penanggulangan degradasi lahan. Spesifik pada tahun 2012, peringatannya diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brazil, dengan tema ‘Healthy soil sustains your life: Let’s go land-degradation neutral’. Untuk tahun 2020 ini, UNCCD (Konvensi PBB untuk Melawan Degradasi Lahan) akan memfokuskan tema pada hubungan antara konsumsi dan kekeringan lahan.

Menurut UNCCD, per 2020, sudah lebih dari dua miliar hektar tanah sudah terdegradasi—hingga tidak bisa digunakan untuk potensi maksimalnya. Apabila kondisi pengelolaan tanah secara global tidak berubah, maka tidak menutup kemungkinan perubahan ekosistem alami yang hijau mencapai 90 persen pada tahun 2050. Ini akan menjadi masalah bagi keseimbangan alam untuk menjaga lingkungan yang sehat bagi makhluk hidup di dunia.

Melihat kebutuhan pangan global, lahan guna produksi panganakan membutuhkan 300 juta hektar tanah tambahan. Sedangkan industri busana akan menambah penggunaan tanah hingga 35 persen lebih—yang mana sepadan dengan negara Kolombia sendiri. Prediksi angka yang disajikan oleh UNCCD diperkirakan akan terjadi pada waktu yang relatif dekat, pada tahun 2030.

Sejarah Deforestasi dan Degradasi Lahan Indonesia

Kebijakan degradasi lahan Indonesia dipengaruhi kuat oleh kebijakan pemerintah Hindia Belanda, sebelum Indonesia merdeka. Dahulu, kebijakan perdagangan VOC Belanda mengizinkan praktik deforestasi untuk kepentingan konstruksi kapal. Kebijakan tanam paksa dan kebijakan seputar pajak bumi yang dimulai Belanda dan dilanjutkan Jepang juga berpengaruh signifikan pada eksploitasi kesuburan tanah Indonesia. Untuk memenuhi keperluan tanah dengan cara eksploitasi menjadikan Indonesia menanggung degradasi lahan.

Faktor Degradasi Lahan

Namun penyebab degradasi lahan tidak serta merta karena penjajahan saja. Indonesia sendiri melanjutkan deforestasi setelah kemerdekaan, hingga 500 ribu hektar lahan Jawa mengalami deforestasi, pada tahun kurun tahun 1950-1970-an.

Kebijakan ekonomi pemerintah yang pada waktu itu berpusat pada hasil-hasil hutan tanpa diimbangi kegiatan ekonomi lain yang memadai dan reboisasi yang cukup, menjadikan hutan Indonesia tereksploitasi.

Pada tahun 1990-1997, deforestasi di luar kawasan hutan menjadi sorotan khusus. Maraknya bisnis kelapa sawit merombak fungsi alami hutan sehingga jauh dominan melayani penjualan kelapa sawit.

Bersamaan dengan kenaikan harga minyak kelapa sawit pada masa itu, eksploitasi tanah yang berlebihan menjadi faktor pendorong Indonesia melanjutkan eksploitasi. Ijin alih fungsi kawasan hutan untuk perkebunan diberikan oleh pemerintah hingga 6,7 juta hektar per 1997.

Bentuk tanah Indonesia dan tingginya curah hujan Indonesiayang mencapai 1.500-4.000 mm per tahun menjadikan tanah Indonesia secara alami sudah rentan pada potensi longsor dan erosi sebagai konsekuensi deforestasi.

Ditambah dengan manusia yang melakukan praktik pembakaran hutan dan penebangan liar, deforestasi semakin tidak terbendung. Pada akhirnya, Indonesia harus menanggung konsekuensi pada iklim cuaca yang semakin tidak teratur dan juga efek gas rumah kaca yang berakumulasi.

Paradigma Keagamaan sebagai Solusi

Persepsi manusia dalam melihat dunia mempengaruhi bagaimana perilaku manusia terhadap pengelolaan bumi dengan kaitannya pada keberlangsungan hidup manusia. Prinsip kunci yang benar menentukan hasil akhir dari pengelolaan bumi yang membawa pada kemakmuran berlandaskan keadilan.

Dengan menguatnya iklim politik global yang semakin bersifat individualistis—walaupun baru-baru ini tren politik kolektivisme, baru kembali menguat. Ia berpengaruh kuat pada sikap acuh pada penjagaan alam demi mengejar keuntungan material manusia.

Dengan menganggap dunia ini seutuhnya milik manusia untuk dieksploitasi tanpa mengamini pentingnya konsekuensi atas hak, maka tidak heran kita masih menemui pabrik yang membuang limbahnya sembarangan.

Karenanya, aspek teologis tidak bisa dinafikan apabila kita ingin mencapai pengelolaan bumi yang adil dan hijau. Memahami tujuan Allah menciptakan bumi dan manusia dan hubungan antara keduanya menentukan bagaimana manusia akan menyikapi bumi yang ditinggalinya.

Hubungan al Baqarah 30 dengan Peran Manusia

Sebagaimana al Baqarah ayat 30, kami rasa sudah jelas bagi manusia untuk memahami tugasnya sebagai pengeloladan penjaga bumi, alih-alih menjadi penguasanya.

Dengan memahami hubungan manusia dan bumi secara teologis, secara etis manusia juga sehendaknya bisa terdorong dengan sendirinya melakukan dan melestarikan budaya hidup hijau. Peran institusi agama dan pendidikan lokal memainkan peran yang amat krusial untuk mengawal berjalannya agenda perbaikan ini.

Dengan pemahaman teologis, yang kemudian didorong oleh sunnah Nabi Muhammad yang senantiasa bersederhana dalam memenuhi keinginan manusiawinya pada bumi—seperti berhenti makan sebelum kenyang—muslim, semestinya mampu menjadi role model dalam gerakan penghijauan. Hal ini mulai diperhatikan oleh beberapa gerakan kultur ormas Islam besar, seperti FNKSDA dan Kader Hijau Muhammadiyah.

Tidak hanya kesadaran teologis, memahami bagaimana dunia bekerja juga tidak kalah penting untuk mampu menghadirkan solusi nyata bagi pengelolaan bumi. Sebagaimana al Quran yang senantiasa mendorong kita untuk merenungkan bagaimana alam bekerja, ia adalah prinsip kunci bagi muslim berkontribusi aktif dalam sains alam.

Maka tidak cukup untuk kita hanya mengutuk orang berbuat maksiat berharap bumi akan hijau. Muslim perlu mengevaluasi kehidupan sehari-harinya yang berkaitan erat dengan kesehatan lingkungan guna menghindari degradasi lahan.

Alternatif Islam semestinya menjadi acuan, di mana dunia telah didominasi oleh poros-poros pemikiran yang menjadikan dunia berada dalam ketidakseimbangan. Paradigma individualistis menyebabkan dunia tidak memedulikan kelestarian alam, dan telah terbukti kini akibat eksploitasi alam atas nama ekonomi secara berlebihan.

Pada poros sebaliknya, gerakan kiri radikal yang bumi sebagai entitas lain yang setara menyebabkan manusia tidak bisa mengambil manfaat darinya secara realistis, hingga tidak menjadi alternatif yang bisa dipraktikkan dalam dunia nyata. Islam sebagai solusi moderat perlu lebih banyak dikembangkan dalam kaitannya pada pengelolaan alam yang realistis dan beradab.

Deforestasi dan degradasi lahan semestinya menjadi perhatian penting bagi masyarakat dunia, juga masyarakat Indonesia secara spesifik. Di mana pada aspek makro, pemerintah dan pengusaha besar perlu memperhatikan pola kebijakannya dalam pendekatannya pada pengelolaan sumber alam, masyarakat juga perlu melakukan perbaikan.

Mari kita hindari membuang sampah sembarangan, terlalu banyak mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebihan, hingga tidak mudah berbelanja barang-barang tekstil.

Mari mengendalikan nafsu manusiawi kita, agar kemudian kitabisa menjaga bumi sebagai amanah dari Allah.

Tim Kastrat PPI-IIUM

***

Referensi :

www.un.org/en/observances/desertification-day

www.unccd.int/actions17-june-desertification-and-drought-day/2020-desertification-and-drought-day

Nawira, Ani Adiwinata, dan Lukas Rumbokob. “Sejarah dan kondisi deforestasi dan degradasi lahan.” Rehabilitasi hutan di Indonesia (2008): 13.

Rahman, Fazlur. “Major Themes of the Quran, Bibliotica Islamica.” Chicago: Minneapolis (1980).