By: M. Amir Syarifuddin

Dengan banyaknya kejadian gempa dan tsunami pada beberapa daerah di Pulau Sulawesi dan Jawa akhir-akhir ini, fokus masyarakat Indonesia dan dunia adalah bagaimana untuk membantu keluarga korban bencana baik secara moril maupun materil. Disamping itu, Indonesia saat ini juga semakin terpuruk dengan melemahnya Rupiah terhadap dolar AS. Tak sampai disitu, melemahnya rupiah terhadap dollar AS semakin memperburuk kondisi keuangan dan tingkat konsumsi barang masyarakat Indonesia. Kali ini Rupiah menghadapi tekanan terberat sepanjang sejarah setelah Krisis Moneter Asia pada tahun 1998.

Pada tahun 1998, kehancuran rupiah dianggap merusak tatanan ekonomi nasional dan pembangunan saat itu, sehingga pemerintah harus meminjam uang dari IMF untuk menutup krisis keuangan nasional dan hutang Negara. Tembusnya Rupiah ke level Rp 15.225,05 terhadap dollar AS (per 15 Oktober 2018, pukul 9.16 pagi), tentu mengingatkan kita kembali ke tahun 1998, dimana saat itu Rupiah berada pada posisi terburuk, yakni Rp 16.650 pada Juni 1998.

Menurut Indeks Dolar Bloomberg, Rupiah telah melemah 0,17 persen menjadi Rp 15.225,05 per dolar AS pada 9.21 pagi waktu setempat Kuala Lumpur pada hari Senin (15/10). Hal ini mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat dunia terhadap mata uang Indonesia. Oleh karena itu, Indeks Harga Saham Gabungan (Composite Index) Indonesia mulai turun secara signifikan setelah rupiah melewati level Rp15.000 per dolar AS.

Alasan utama melemahnya Rupiah ke level terburuk tidak hanya karena permintaan Rupiah yang melemah di pasar internasional tetapi juga karena menguatnya dolar AS. Mata uang negara-negara berkembang lainnya juga melemah terhadap dolar AS (meskipun rupiah adalah salah satu mata uang Asia yang paling rapuh). Kekuatan dolar AS saat ini berasal dari meningkatnya hasil Treasury AS dan mencoloknya pakta perdagangan Amerika Utara yang direvisi (perjanjian trilateral antara Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada).

Selain itu, harga minyak mentah juga berada pada level tertinggi selama empat tahun terakhir dan dengan demikian mengakibatkan kekhawatiran tentang memburuknya defisit transaksi yang ada di Indonesia (Indonesia sebagai pengimpor minyak bersih).