Oleh: Inun Fariha

Kuala Lumpur (6/5) – KBRI Malaysia menggelar Semifinal Lomba Pidato dan Membaca Cerita Bahasa Indonesia untuk para pelajar Nusantara dan pelajar Internasional dari berbagai kampus di Malaysia yang diselenggarakan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 28 April 2018 ini sekaligus menjadi puncak dari rentetan program Kelas Bahasa Indonesia yang telah berjalan selama dua bulan ini.

Acara dipandu oleh saudari Maghfira Agustia Rahma selaku MC acara, diawali dengan pembacaan doa oleh saudara Ahmad Faiz Sabilal Hayyi, dan ucapan pembukaan oleh pak Muhammad Alwi Luthfi selaku ketua panitia. Beliau mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam mensukseskan acara ini dan beliau merasa tersanjung terhadap kegigihan para peserta dalam mempelajari Bahasa Indonesia.

Masih dalam sesi pembukaan, para tamu disambut oleh Prof. Ari Purbayanto selaku perwakilan dari panitia menjelaskan bahwa lomba ini diselenggarakan di 18 negara berbeda di dunia. Peserta yang dinyatakan menjadi pemenang akan mendapat kehormatan untuk mengikuti upacara kemerdekaan di Istana Kepresidenan pada tanggal 17 Agustus 2018 nanti. Beliau juga menambahkan, “Hanya melalui bahasa, kita akan memahami budaya suatu negara dan mempererat hubungan bilateral maupun multilateral.”

Sesi pembukaan pun diakhiri dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya oleh seluruh tamu, dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh saudara Ahmad Faiz Sabilal Hayyi.

Acara inti yaitu penilaian performa dari para peserta dimulai pada pukul 11.00am. Para peserta mulai beradu menunjukkan kelihaian mereka dalam membawakan cerita rakyat Indonesia, seperti Malin Kundang, Timun Emas, Danau Toba, bahkan Joko Kendhil. Tak mau kalah, peserta di bidang lain juga bersemangat dalam menyampaikan pidato yang bertemakan “Unity in Diversity” atau “Bhinneka Tunggal Ika” dengan baik dan fasih. Mengenai penilaian, para juri menerapkan dua metode yang berbeda, yaitu langsung dan tidak langsung. Metode langsung yaitu metode dipertemukannya juri dan peserta secara langsung tanpa perantara. Sedangkan metode tidak langsung diperuntukkan kepada peserta yang berhalangan hadir di tempat perlombaan, sehingga mereka diperbolehkan untuk menggunakan media video sebagai perwakilan untuk mengikuti lomba.

Pada pukul 12.30pm, peserta dipersilakan untuk beristirahat sembari menunggu hasil penilaian. Untuk mengenalkan Indonesia lebih jauh, panitia menayangkan sebuah film yang sedang populer di bumi pertiwi yakni “Dilan 1990”. Antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh mereka ketika tertawa seusai mendengar rayuan yang dilontarkan oleh Dilan kepada Milea. Namun sayang, sesi “mengenalkan Indonesia lebih jauh” ini harus berakhir lebih cepat karena para juri datang lebih cepat untuk mengumumkan hasil akhir penilaian.

Pak Erwinsyah mewakili para juri menyebutkan sepuluh nama yang dinyatakan lulus menuju babak final, diantaranya lima besar peserta Lomba Pidato Bahasa Indonesia yang diraih oleh Adina Bt. Zamil (IIUM), Khairunnisa Bt. Muhammad Idris (Uniti Port Dickson), Cai Xin Yu (IIUM), Aubidillah Dolah (IIUM), dan Nur Farhana Bt. Mazlan (IIUM). Adapun untuk kategori Lomba Cerita Bahasa Indonesia diraih oleh Syakif bin Suhaimi (IIUM), Syed Muhammad (UPSI), Afikah bt. Muhammad Yusuf (IIUM), dan Nuramirah bt. Masaid (UPSI).

Acara ini ditutup dengan pesan dari pak Erwinsyah kepada seluruh hadirin. “Semua perbedaan ini bisa dipahami sebagai rahmat dari Tuhan. Bukan alasan untuk saling membenci dan terjadinya perselisihan.”

Minggu, 6 Mei 2018, final pun diselenggarakan di Universitas Utara Malaysia. Pada lomba kali ini, IIUM membawa pulang tiga piagam penghargaan pemenang, yang masing-masing diraih oleh Syakif bin Suhaimi sebagai juara pertama dalam kategori Lomba Cerita Bahasa Indonesia, juga Adina Bt. Zamil yang menempati juara kedua dan Aubidillah Dolah sebagai juara ketiga dalam kategori Lomba Pidato Bahasa Indonesia.