Oleh: Muhammad Hamka 1513391

Pada 24 April lalu, seorang kepala desa di Kebumen tertangkap karena mengkonsumsi sabu-sabu. Lalu pada jumat 27 April, Republika melaporkan bahwa dua remaja putri di Sukabumi tewas akibat minuman oplosan. Masih pada hari yang sama, terjadi kasus tawuran antar pelajar di Kota Bogor, tepatnya di depan SMK Tri Dharma 4 Bogor. Dilaporkan 2 orang yang menjadi korban sedang berdiri di samping jalan untuk menunggu angkot, lalu datang segerombolan siswa mengendarai motor, dengan senjata tajam mereka menyerang korban. Serta kasus terbaru misalnya, intimidasi oleh sebagian peserta car free di Jakarta yang berpakaian #2019 ganti Presiden terhadap mereka yang berpakaian mendukung Presiden.

Begituh sedikit potret kejadian kriminal di Indonesia hari-hari belakangan ini. Skalanya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan kasus-kasus besar lainnya, khususnya yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai jabatan tinggi. Sebut saja kasus Mega Korupsi E-KTP dan Bank Century. Mereka yang membaca kasus kriminal pada paragraf pertama mungkin tidak menduga bahwa kasus-kasus kecil tersebut bisa jadi penyebab kasus besar lainnya. Sadarkah bahwa yang besar selalu bermula dari sesuatu yang kecil?

Jauh hari, Isaac Ehrlich (1975) menulis tentang hubungan antara pendidikan dan kejahatan. Dia mengungkapkan bahwa seseorang yang pergi ke sekolah punya kesempatan lebih sedikit untuk berbuat kejahatan, tapi ada kejahatan-kejahatan tertentu yang hanya bisa dilakukan orang-orang berpendidikan. Oleh karena itu, orang yang pintar yang tidak bermoral lebih berbahaya daripada pelaku kejahatan yang tidak pintar. Presiden Amerika, Washington, pernah menyampaikan di acara perpisahannya bahwa moral sangat penting untuk sebuah pemerintahan yang baik.  

Pada dasarnya, moral adalah salah satu hal yang membedakan manusia dengan hewan. Italo Pardo (2004) menulis bahwa “Humans were distinguished from animals by having moral sense and will strong enough to overcome animal instinct…”. Selain itu, Prof. Mahfud MD dalam sebuah forum di Jember pada 2017 lalu, berkata bahwa setiap kejahatan yang dilakukan mungkin bisa dicari pembenarannya melalui pasal-pasal hukum yang ada, tergantung siapa hakimnya. “……saya ini Hakim tahu caranya untuk memenangkan dan mengalahkan orang. Nah, di situ lah pentingnya moral. Disamping teknis-teknis hukum itu,” ujar Prof Mahfud MD seperti dikutip harian Kompas (11/11).

Sekarang mungkin banyak disaksikan perlakuan tidak bermoral dari para tokoh yang seharusnya memberi contoh. Maka, untuk mengatasi permasalahan tersebut, bisa dilihat dari bangunan yang menjadi pilar-pilar hidupnya. Apakah selama ini mereka hanya dibangun otaknya untuk menjadi orang pintar tanpa peduli dengan sekitar? Atau mereka hanya ditransfer ilmu pengetahuan selama belajar,bukan dididik untuk menjadi manusia yang baik?. Padahal secara jelas sila ke-2 dari Pancasila menyebutkan tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Selain itu, Al Attas (1980) menerangkan bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang beradab. Secara sederhana Kholili Hasib, Peneliti InPAS, memaknai orang yang beradab sebagai orang yang tidak berbuat zalim. Jika demikian, menjadi PR yang sangat besar bagi Indonesia untuk memperbaiki keadaan bangsa, harus memperbaiki pendidikannya karena banyak jabatan-jabatan penting yang hanya bisa diisi oleh orang-orang berpendidikan. Akan sangat berbahaya jika mereka yang berada di posisi yang tinggi hanya orang-orang yang pintar tapi tidak beradab. Buya Hamka pernah menulis bahwa kemunduran Negara tidak akan terjadi kalau tidak ada kemunduran budi dan kekusutan jiwa

Oleh karena itu, untuk menciptakan para politisi yang baik, maka pembangunan adab harus menjadi pioritas pendidikan. Dan ini seringkali terlupa diera artificial intelligence yang berkembang pesat seperti saat ini. Padahal, membangun adab tidak bisa secepat mencari informasi di Google.com, ia perlu waktu yang panjang, kerjasama semua pihak, dan perjuangan. Tapi, segala perjuangan untuk melahirkan politisi yang beradab tidak akan pernah sia-sia, karena mereka yang nantinya akan menentukan arah bangsa di masa yang akan datang.

Kehidupan ini memang tidak akan pernah sesempurna konsep Madinah Fadhilah nya Ibnu Kholdun, tapi juga tidak seburuk teori-teori Machiavelli tentang politik. Akan selalu ada orang baik dengan prinsip-prinsipnya yang berhadapan dengan lawan kebaikannya. Tugas umat muslim adalah terus melahirkan para politisi yang terbangun adab dan kecerdasannya untuk masa depan bangsa yang lebih baik!