Oleh : Inas Syarifah

GOMBAK (12/04) – PPI-IIUM berhasil menyelenggarakan program Interdisciplinary Discussion 2.0 (IDD) bertemakan “2030, Indonesia Apa Kabar?”. Program tahunan yang diselenggarakan pada hari Kamis, 12 April 2018 ini dihadiri oleh kurang lebih 80 orang mahasiswa.

Program dibuka oleh Muhammad Hamka selaku MC sekaligus moderator dan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pelaksana, Saudara Jefry Muhammad Hafis .“Dari IDD kita belajar memberi solusi dan kita belajar berkontribusi untuk NKRI” ujarnya. Acara dilanjutkan dengan lantunan musik angklung “Heal The World” dan pemutaran video tentang Indonesia.

Pada acara tahun ini terdapat pemaparan dari 8 disiplin ilmu yang berbeda diantaranya: Ekonomi, Komunikasi, Informasi dan Teknologi, Edukasi, Politik, Islam dan Agama, dan Psikologi.

Acara di mulai dengan pemaparan di bidang ekonomi oleh Saudara Ali Chamani Al Anshory,. Ia memaparkan tentang krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia, dan prediksi keadaan di Indonesia pada tahun 2030. “Indonesia 2030 banyak PR tapi banyak juga negara yang punya ekspektasi dengan kita yaitu Indonesia akan menjadi negara ke-4 terbesar dalam segi ekonomi, apakah Indonesia tahun 2030 akan lebih jaya? Kita lihat saja nanti” tuturnya.

Dilanjutkan dengan pemaparan di bidang komunikasi oleh Saudara Ardhi Mulya Prakosa, mahasiswa komunikasi IIUM, dalam pemaparan nya ia menyampaikan tentang 3 teori media, yaitu framing, agenda setting, dan propaganda.  Ia menuturkan beberapa contoh dari masing-masing teori, “Selama ini kita mengkonsumi apa yang media inginkan, karena media mempunyai power” tambahnya. Ia juga memaparkan masalah yang akan dihadapi di masa depan yaitu keseimbangan penyebaran informasi dan media dependency.

Diskusi dilanjutkan oleh Saudara Ilham Fadhilah Amka dari bidang informasi dan teknologi. Ia menyinggung tentang bonus demografi yang akan terjadi pada tahun 2030-2035 dan memaparkan tentang istilah revolusi industri ke-4 yaitu kemunculan teori artificial intelligent (kecerdasan buatan), digital economy, big data, data science dan sebagainya. Ia menyampaikan bahwa dengan adanya bonus demografi ini Indonesia harus mampu memanfaatkan revolusi industri tersebut agar bisa lebih maju.

Dari bidang hukum, panelis paling muda yaitu Fadel Adesta menyampaikan apa yang terdapat pada konferensi multivideo pada tahun 1993 yaitu, “Elemen suatu kelompok menjadi sebuah negara adalah adanya pemerintahan”. Selanjutnya ia memberikan pendapatnya akan statement ‘Indonesia bubar 2030’, katanya “Statement Indonesia bubar 2030 bukanlah statement pesimis, tapi merupakan warning untuk kita”.

Diskusi dilanjutkan oleh Saudara Ahmad Faizzudin di Bidang edukasi. Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2007, yayasan Indonesia forum membuat prediksi baik yang akan dialami Indonesia pada tahun 2030, seperti pertumbuhan ekonomi dan penduduknya meningkat. Dalam tingkat internasional, pada tahun 2030 Indonesia diprediksi akan masuk peringkat ke-5 sebagai tomorrow scientist producer. Menurutnya mental orang Indonesia ketika diberikan statement baik itu belum cukup, maka timbul lah statement Indonesia bubar 2030.

Selain bidang edukasi, perwakilan dari bidang politik juga memaparkan pendapatnya. Saudari Annisa Ira Setiaputri menyampaikan bahwa komponen paling penting dalam bidang politik ialah sistem keamanan dan pertahan. Menurutnya ketika potensi kelemahan suatu negara terlihat, maka akan timbul ancaman nyata. Indonesia merupakan negara yang defensif yaitu negara yang menunggu diserang, sedangkan dibandingkan negara lain yang ofensif seperti Amerika dan Cina tetapi mempunyai cadangan militer yang lebih. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang mana ini menjadi daerah strategis untuk proxy war, daerah kepulauan inilah yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih karena merupakan daerah kedaulatan negara.

Setelah itu, panelis ke-7 dari pandangan Islam dan Agama, Saudari Afifah Dinar menyampaikan pendapatnya. Ia mengawali pembicaraannya dengan pemaparan konsep daulah atau negara menurut Yusuf Al Qordowi dalam kitab Fiqh Ad-daulah. Dalam konsep tersebut, ia menyampaikan bahwa Islam sangat mementingkan adanya khalifah dan masyarakat, bahwa hubungan Islam dan negara tidak bisa dipisahkan. Ia juga menambahkan bahwa walaupun banyak yang orang yang bertentangan dengan pemikiran-pemikiran Islam, tapi pada tahun 2030 Indonesia masih punya harapan jika masyarakatnya bisa mengembangkan hal-hal yang sekarang mereka punya.

Sesi penyampaian materi ditutup oleh Saudari Alfi Syukrina Hadi dari bidang psikologi. Ia menyinggung soal media yang menurutnya bisa membuat seseorang berubah. Ketika mendengar statement Indonesia bubar tahun 2030, persepsi orang akan masa depan menjadi negatif, dalam psikologi disebut dengan ‘Halo Efek’ yaitu ketika pertama kali mendengar hal yang buruk, orang akan cenderung melihat hal tersebut selalu buruk. Hal ini akan berdampak pada perilaku masyarakat yang selalu berpikir negatif.

Acara ditutup dengan penyampaian nasehat oleh Prof. Erry Yulian Triblas Adesta selaku Penasehat PPI-IIUM dan dekan di jurusan Engineering. Menurutnya dengan diadakan nya acara ini akan membuat pandangan mahasiswa Indonesia menjadi lebih luas dan tidak hanya melihat suatu hal dari satu sisi saja. Beliau berharap acara ini terus berjalan agar pandangan-pandangan mahasiswa tidak stagnan dan dapat mengkomunikasikan hal yang ada dipikirannya dengan baik. (Inas/Fasya/Fachri)