OLEH: HERBI ARFAH RENALDI SUMITRO 1516503

QATAR DAN POLITIK REGIONAL

Dunia kembali disuguhi gegap gempita ‘drama orkestra’ di area Teluk Arab yang notabene-nya menjadi pusat perhatian dunia modern sejak tahun 70-an. Reservasi kekuatan di area ini sangat besar, aktor-aktor utama dunia bahkan berlomba-lomba untuk trading-in-influence agar tetap dilirik dalam drama yang lebih masif, dunia internasional.

Meskipun adu kekuatan yang dipertontonkan hanya bertempat di dataran kering, efek regional hingga internasional sangat signifikan, terlebih lagi masih banyak yang bersandar dengan negara-negara dikawasan tersebut.

Subjek politik dalam konteks negara-negara Teluk pada dasarnya berkutub pada Saudi Arabia dan Qatar. Emirat Arab dan Bahrain walaupun memainkan peran yang dapat dijadikan alasan kuat mereka menjadi aktor utama, namun tanpa dukungan Saudi Arabia mereka hanyalah kumpulan sopir angkutan umum yang merebutkan Amerika sebagai penumpang.

Mirisnya, Qatar sebagai entitas utama dalam kebijakan strategis negara-negara Teluk kerap berbeda pandangan dengan beberapa saudaranya. Tidak ada yang menyangka visi masa depan yang dibangun Emir Qatar Hamad bin Khalifah dapat menjadi mesin bising di halaman rumah saudara-saudaranya.

Sekarang dengan kepimimpinan yang baru, Tamim bin Hamad, Qatar melenggangkan gurita investasi di negara-negara maju. Inilah salah satu proyek berkesinambungan yang menjadi sumber primer kekuatan negara kecil tersebut. Dengan diplomasi ekonomi yang beragam, banyak kompleks kenamaan dan infrastruktur lainnya dikuasai oleh tangan-tangan para pengeran Qatar di Amerika maupun Eropa.

Mempunyai jaringan Aljazeera, dalam konteks soft-power sangatlah berpengaruh untuk menggiring opini umat Muslim di seluruh dunia. Media yang menjadi aktor dan rujukan utama inilah yang menjadi syarat utama bila Qatar ingin menyelesaikan konflik keluarga dengan saudara-saudaranya.

Dalam krisis yang berjalan sekarang, posisi Qatar tidaklah goyah, mereka ingin mempertahankan status qou. Mengapa? Mereka tahu Amerika sedang memainkan gendang diatas penderitaan warga-warga Teluk dan ini berefek signifikan dalam regional negara-negara Muslim lainnya. Artinya, Amerika tidaklah melihat Qatar, Saudi dan Emirat atau Bahrain sebagai objek yang berbeda. Oleh karenanya, Qatar tidaklah sebodoh apa yang Amerika persepsikan. Qatar sedini mungkin telah menjalin alternatif lain untuk menyandarkan punggungnya, merapat ke salah satu aktor utama (berdaulat) di Timur Tengah.

Amatlah elok jika kita pun dijadikan alternatif di bidang ekonomi…setidaknya.

ADA APA DENGAN QATAR?

Pertanyaannya, apa yang begitu menarik dari Qatar? Apakah Qatar menjadi prioritas Indonesia dalam kebijakan luar negerinya terutama kawasan semenanjung Arab? Jika iya, seberapa besar efek dari kerjasama yang telah terbangun dan akan disetujui?

Pertanyaan-pertanyaan diatas seharusnya terjawab dengan menilik dokumen-dokumen persetujuan diantara kedua negara. Dalam rilis resminya pemerintah Republik Indonesia menerbitkan beberepa dokumen kerjasama pada bidang ekonomi dan energi yang bisa dikatakan minim dalam jumlah. Hal ini tentutnya tak terlepas dari kondisi fundamental Qatar yang notabene-nya adalah investor kaya dengan produksi gas dan minyak mentah kenamaan dunia.

Tapi, sesederhana itukah Indonesia melihat potensi kerjasama dengan Qatar? Apatah lagi kondisi krisis politik dan diplomatik yang melanda negara-negara Teluk harusnya menjadi pemantik Indonesia mengambil keuntungan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjasama di berbagai bidang strategis diantara pihak-pihak yang sedang berkonflik. Menimbang juga kondisi fundamental Qatar yang sangat bertumpu pada impor barang-barang kebutuhan dasar.

Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi penonton drama, menjadi penikmat penderitaan saudara sendiri dalam konflik Teluk. Mereka adalah negara-negara Muslim yang berjuang mempertahankan identitas dan kekuasaan masing-masing, itulah konsep yang harus dilihat. Tidakkah lebih baik jika Indonesia memasang badan, setidaknya menjadi ‘seorang teknisi listrik’ yang memperbaiki penerangan dalam redupnya pelita Islam pada drama politik di Timur Tengah.

Tapi, agaknya garuda sekarang lebih suka bermain dengan panda daripada kumpulan antelop dan unta…

Setidaknya kita harus memahami, Indonesia tidak hanya memiliki bambu-bambu yang rindang tapi juga luas padang rumputnya, tinggal bagaimana kita membentuknya semenarik mungkin. Dari beberapa paparan diplomasi ekonomi badan-badan nasional terkait: Paparan Kementerian Luar Negeri, Paparan Badan Koordinasi Penanaman Modal, Paparan Kementerian Perdagangan, Paparan Kementerian Pariwisata, Paparan Badan Ekonomi Kreatif, Paparan Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat, semuanya terbingkai indah dalam kertas, sayang pada level implementasi belum terlihat secara signifikan.

 PERAN INDONESIA?

Agaknya Indonesia sedang dalam posisi yang dilematis. Perspektif ini mungkin benar jika Indonesia menjadikan Qatar sebagai prioritas di Timur Tengah. Tapi dibanyak kesempatan tidaklah terlihat yang demikian. Saudi Arabia masih menjadi ujung tombak diplomasi luar negeri Indonesia untuk Timur Tengah. Jauh-jauh hari mungkin kalkulasi keuntungan memang lebih didominasi Saudi Arabia sebagai partner penyuntik devisa dan dalam urusan keagamaan.

Dengan visi pembangunan yang masif, di era presiden yang sekarang tentunya diperlukan suntikan dana dari beragam pihak untuk Indonesia. Sayangnya kita terlihat tidak begitu hijau dalam diversifikasi investasi dunia. Amerika dan Eropa memiliki ekspektasi dan standar yang tinggi dalam konteks ini begitupun petrodollar Timur Tengah. Kita harus lebih aktif bukan menunggu didatangi mereka. Bukalah jalan prioritas, beritakan bahwa kami ingin membangun negeri kami dan kewajiban anda-anda sekalian membantu kami, ya setidaknya sesama negara Muslim.

Menjemput bola di Timur Tengah sekarang ini adalah momentum tepat yang mungkin tak terulang lagi. Jadikan krisis ini sebagai pintu emas untuk menjembatani kerjasama multilateral yang menggiurkan, bagi ratalah prioritas diplomasi ekonomi kita di Timur Tengah karena pada dasarnya logika diplomasi politik Washington yang melihat aktor-aktor di kawasan ini adalah saudara tidaklah salah sepenuhnya.

Bagaimana cara menjemput bola itu? Satu jawabannya dari banyak kemungkinan lainnya, kita tidak bisa bertumpu pada misi diplomatik di negara-negara Teluk, dibutuhkan individu-individu yang dekat dengan para pangeran ataupun rakyat Teluk. Kita masih membutuhkan orang-orang seperti Natsir yang bisa menggoda Kuwait pada era Soeharto.

Adakah?

Pertanyaan sulit tapi jawabannya dikembalikan pada kalian wahai para pembaca yang budiman…

(bersambung…)