Generasi muda hampir selalu terlibat dalam sejarah pergerakan. Terutama pada peristiwa bersejarah, perlawanan terhadap kebijakan Pemerintah yang berkuasa. Seperti aksi yang dimotori oleh para mahasiswa dan pelajar pada tahun 1966. Sebuah aksi puncak yang didukung oleh TNI untuk mendesak pemerintah supaya menindak tegas pengganyangan PKI yang merupakan dalang dibalik percobaan kudeta yang menyebabkan pembunuhan dari 7 pahlawan revolusi beserta 4 orang lainnya.

Peristiwa menyedihkan yang terjadi pada malam 30 september hingga 1 oktober dini hari 1965 (G30SPKI) telah menyulut amarah rakyat Indonesia. Tuntutan rakyat agar Presiden Soekarno membubarkan PKI pun belum juga terkabulkan. Selain hal tersebut, memburuknya perekonomian negara juga menjadi faktor tambahan yang kian meresahkan masyarakat Indonesia pada saat itu. Melihat Pemerintah belum juga mengambil tindakan bijak dalam mengatasi gemelut politik dan ekonomi yang sedang berlangsung, Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) pun memelopori kesatuan aksi yang tergabung dibawah naungan Front Pancasila pada tanggal 10 Januari 1966 untuk menuntut tiga tuntutan rakyat (Tritura), yakni berisi:

  1. Bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI)
  2. Retool Kabinet Dwikora (perombakan kabinet dari unsur PKI)
  3. Turunkan Harga (perbaikan ekonomi)

Aksi tersebut selanjutnya diikuti oleh kesatuan-kesatuan aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI). Tiga tuntutan tersebut merupakan seruan keresahan yang digaungkan oleh rakyat pada saat itu. Tuntuan pertama dan kedua sudah pernah diserukan oleh Kesatuan Aksi Penggayangan Gerakan 30 September (KAP-Gestapu). Sedangkan tuntutan ketiga baru diserukan pada kesempatan ini.

Seakan menjawab salah satu tuntutan para demonstran. Presiden Soekarno mengumumkan reshuffle kabinet pada 21 Februari 1966. Meskipun kemudian beliau menyatakan bahwa perombakan ini tidak dipengaruhi oleh tuntutan rakyat. Namun setelah rakyat menyadari bahwa masih ada beberapa nama simpatisan PKI yang akan diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai anggota kabinet yang baru, demonstrasi pun kembali pecah. Terutama pada saat hari pelantikan yaitu pada 24 Februari 1966, peserta aksi kembali membanjiri jalanan guna menghalang proses pelantikan kabinet baru. Barisan demonstran berhasil menembus penjagaan tentara hingga depan pintu istana. Mereka bahkan berhadapan langsung dengan Pasukan Tjakrabirawa (pasukan khusus pengawal presiden) yang menyebabkan tak terelakannya bentrokan antara dua kubu tersebut.

Bentrokan ini menewaskan seorang mahasiswa bernama Arief Rahman Hakim yang merupakan Mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI). Kematian Arif diduga akibat dari tembakan pasukan Tjakrabirawa. Selain Arif, jatuh pula beberapa korban mahasiswa yang menderita luka akibat dari peluru pasukan Tjakrabirawa. Arif Rahman Hakim menjadi simbol perjuangan mahasiswa sejak saat itu. Jaket kuning bersimbah darah diarak oleh para mahasiswa berkeliling jakarta untuk membangkitkan semangat rakyat.

Setelah jatuh korban dari kalangan mahasiwa, keesokan harinya tepatnya pada 25 Februari 1966, Presiden Soekarno memutuskan untuk membubarkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Meskipun KAMI telah berhasil dibubarkan, namun bukan berarti aksi demonstrasi akan mereda. Bahkan estafet aksi demonstrasi masih terus berlanjut sampai pada akhirnya Presiden Soekarno terdesak sehingga menerbitkan Surat Perintah pada sebelas Maret 1966 atau yang kini lebih dikenal sebagai ‘Supersemar’. Surat perintah ini berisi perintah Soekarno kepada Mayor Jendral Soeharto agar mengambil segala tindakan untuk mengembalikan stabilitas negara.

Kemudian Soeharto menggunakan surat perintah tersebut untuk mengganyang PKI, yang sebenarnya bukan merupakan keinginan dari Presiden Soekarno. Soeharto beranggapan bahwa demi terciptanya keamanan dan stabilitas negara, maka PKI harus diberantas.

Penulis: Dien Muhammad Alfaen

References

Aksi Tritura 10 Januari 1966. (2019, January 10). Retrieved from  https://kabarjatim.com/aksi-tritura-10-januari-1966/

ISI TRITURA : Latar Belakang, Kronologi, Tujuan, Pelopor (Lengkap). (2019, April 9). Retrieved from https://olympics30.com/isi-tritura/

Isi Tritura. (2019, November 29). Retrieved from https://rumus.co.id/isi-tritura/

Supersemar dan Tafsir Soeharto. (n.d.). Retrieved from https://historia.id/politik/articles/supersemar-dan-tafsir-soeharto-DwRgA