Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Kutipan lagu sederhana yang sarat akan makna berjudul Kasih Ibu karya SM Mochtar tersebut sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Apalagi bertepatan dengan momen hari ibu yang diperingati per 22 Desember. Setiap anak gembar gembor memperingati momen tersebut dengan memberi hadiah pada ibu mereka sebagai tanda terimakasih atas jasa para ibu yang telah merawat dan mendidik anaknya hingga dewasa. Namun maksud dari hari ibu sendiri tidak sebatas yang dipahami kebanyakan orang pada umumnya. Hari tersebut memiliki sejarah yang sangat krusial pada era pembebasan negara dari penjajahan.

Sejatinya, makna hari ibu yang sebenarnya adalah penghargaan bagi kaum wanita yang turut berjuang merenggut kemerdekaan Indonesia. Mengutip dari Tirto, Yohana di Kementrian PPPA, Jakarta mengatakan bahwa peringatan tersebut dilandasi oleh tekad dan perjuangan kaum permpuan untuk mewujudkan kemerdekaan dengan dasar cita-cita dan semangat persatuan kesatuan menuju kemerdekaan Indonesia yang aman, tentram, damai, adil, dan makmur.

Berangkat dari cita cita perjuangan yang tinggi, para wanita pada masa itu tidak hanya terfokus pada kemerdekaan Indonesia, tapi lebih kepada pembebasan hak hak wanita itu sendiri. Pada era tahun 1920-an tersebut kiprah wanita di banyak bidang masih dipandang sebelah mata. Tidak banyak wanita yang memiliki kebebasan untuk mengenyam endidikan tinggi karena kebanyakan dari mereka sudah dinikahkan pada usia remaja. Terlebih lagi faktor lain seperti budaya patriarkis yang kental turut mendukung menjadi faktor utama terhalangnya hak hak mereka. Pandangan pandangan seperti; wanita harusnya dirumah saja mengurus anak, wanita yang seharusnya nengurusi urusan dapur dan tidak ada hak ikut campur masalah luar rumah, wanita tidak memerlukan pendidikan yang tinggi karna pada akhirnya hanya akan mengurusi urusan rumah saja menjadi pemicu utama bagi wanita pada masa itu untuk memberi gebrakan pada hak hak wanita.

Dalam Kongres Perempuan Indonesia pada 22 Desember 1928, di yogyakarta tepatnya di Pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero lah pertamakali di deklarasikannya Hari Ibu. Saskia Eleonora Wieringa, seorang sejarawan menuturkan melalui Historia bahwa beberapa sejumlah organisasi yang turut serta dalam terselenggaranya kongres perempuan tersebut antara lain adalah Wanita Oetomo, Aisyah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanito Moeljo, dan beberapa perwakilan wanita dari Sarekat Islam, Jong Islamieten Bond dan Wanita Taman Siswa.

Sujatin Kartowijono adalah seorang inspirator wanita perwakilah dari Poetri Indonesia yang dalam kongres tersebut memberi turut menceritakan kisahnya tentang perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia  dan perbaikan hak serta nasib wanita menjadi titik utama dalam hidupnya sebagai seorang pemuda. Ia juga melansir bahwa terdeklarasinya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 menjadi pemicu hasrat kaum wanita muda untuk mengadakan sebuah pertemuan antar-wanita se-Indonesia. Kutipan dari autobiografi Mencari Makna Hidupku yang ditulis oleh Hanna Rambe tersebutlah Sujatin menuturkan banyak kesaksian bahwa hak pendidikan perempuan, perkawinan anak-anak, reformasi undang undang perkawinan Islam, hingga kawin paksa masih marak pada saat itu. Hal hal tersebut dibahas kembali pada kongres perempuan dengan agenda penyampaian pendapat dari beberapa tokoh tentang permasalahan dan keresahan yang dihadapi wanita Indonesia saat itu.

Namun perjalanan perjuangan tentu saja tidak selalu berjalan mulus. Sempat terjadi perselisihan internal yang hampir mengakibatkan perpecahan akibat perbedaan pendapat tentang masalah permaduan atau poligami. Masalah ini terjadi pada Kongres Perempuan Indonesia Kedua pada 20-24 juli 1935 di Batavia. Penyebab utamanya adalah pidato dari Ratna Sari yang menyiratkan dukungannya atas poligami dengan dasar syariat Islam.

Sejak 22 Desember 1928 dinamika perjalanan kaum wanita sudah memasuki ranah politik praktis. Dimana hal itu sebelumnya tabu bagi mereka yang notabenenya dihantui oleh budaya patriarkis dan stigma wanita harus dirumah. Perjuangan tersebut tidaklah mudah. Maka untuk menghargai kiprah para wanita Indonesia kemudian ditetapkan perayaannya secara nasional melalui Dekrit Presiden Sukarno No. 316 tahun 1959 sebagai Hari Ibu.