Menyiapkan Generai Ilmuan Pejuang

Manifestasi dari Pendidikan Islam yang sebenarnya adalah untuk mewujudkan generasi pejuang. Oleh karena itu perlu adanya upaya-upaya untuk mewujudkannya dimulai dari sejak dini. “One family, ten children” adalah suatu program dimana orang baik adalah yang harus mempunyai anak yang banyak, bukan ‘malah’ orang yang jahat. Inilah yang dapat dikatakan adil, karena keadilan bukan berarti sama tapi selaras. Program yang diinisiatori oleh Dr. Adian Husaini merupakan salah satu langkah awal untuk mencoba mendekonstruksi sistem Pendidikan Islam kearah yang lebih baik. Hal ini dilatarbelakangi oleh fakta-fakta global dimana Agama sudah tidak dianggap penting lagi bagi sebagian pihak. Jika penduduk global yang mencoba menyisihkan Agama tersebut dibiarkan menyebar luas, hal ini akan berdampak serius terhadap keberlangsungan moral dan system sosial di muka bumi ini.

Jika kita mau menelisik lebih jauh, kegelisahan Dr. Adian ini beralasan, dimana mayoritas penduduk dunia hari ini percaya kepada Tuhan hanya karena percaya kepada kekuatan supranatural, sehingga berimplikasi kepada tersisihnya norma Agama dalam kehidupan keseharian karena sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan. Beberapa data dicoba disodorkan oleh Ustad Adian yang juga menjabat sebagai Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), bahwa rata-rata di negara Eropa  hanya 10-30 % yang mengatakan agama itu masih penting, sebaliknya Atheisme menyebar dimana-mana. Di Spanyol, negara yang didapuk sebagai penganut Katolik yang kuat, hanya 43 % orang yang mengatakan agama itu penting, bahkan separuh penduduk Inggris mengatakan tidak punya agama. Amerika yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, namun tiap tahun orang Protestan menurun dan sekarang hanya tinggal 38 %. Di negara Adikuasa tersebut, tiap tahun ada 23 % orang muslim meninggalkan dan masuk Islam, orang yang keluar Kristen 22 % dan masuk Kristen 6 %. Disisi lain, terdapat sebuah data yang mengejutkan ditunjukkan dari besarnya angka atheisme di Saudi Arabia, 19 % orang teridentifikasi atheis dan 5 % mengaku atheis. Negara yang didaulat sebagai pusatnya dan ruh Agama Islam, namun masih terdapat indikasi masuknya faham-faham yang sangat bertententangan dengan nilai-nilai Agama Islam.

Dari sinilah kita mengetahui bahwa ada yang perlu direnungkan lagi dari sistem Pendidikan Agama yang selama ini telah berjalan. Menurut doktor lulusan Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) ini, kita sebenarnya dipaksa mewarisi sistem model pendidikan penjajah untuk meninggalkan konsep-konsep wahyu. Kalau bangsa kita mau jadi bangsa besar, kita sudah punya konsep seperti yang telah dicontohkan oleh generasi santri pada zaman awal kemerdekaan yang berhasil menggagalkan penjajahan di negeri kita. Masih menurut beliau, pendidikan itu seharusnya mendewasakan anak dalam usianya yang seharusnya dewasa yaitu maksimal 15 tahun menurut Ki Hajar Dewantara. Oleh karena itu, sebagai pendiri “At-Taqwa College”, Dr. Adian mengupayakan sistem-sistem yang terbaik yang diramunya sendiri. Salah satunya adalah program sekolah yang beliau padatkan hanya menjadi 2 tahun. Selain itu beliau juga akan membuat program pendidikan ulama dokter yang akan dididik sebagai ulama yang punya skill kedokteran.

Lebih lanjut lagi, Dr, Adian mengemukakan bahwasannya konsep pendidikan dalam Islam memiliki beberapa keunikan, yakni mencari ilmu adalah suatu kewajiban dan kemuliaan, adanya epistemologi integral (memadukan pancaindera, akal, khabar dan shadiq), ada konsep maratibul ilmi, penekanan adab dan akhlak sebelum ilmu serta menyiapkan manusia menjadi pejuang. Beliau dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa kita dilarang untuk mengkopi pendidikan di barat begitu saja, dimana sekolah atau kampus dianggap sebagai training untuk mendapatkan pekerjaan. Namun seyogyanya kampus harus menjadi tempat untuk menjadi manusia yang baik sehingga kampus-kampus seharusnya tidak dibolehkan untuk meluluskan mahasiswanya yang akhlaknya tidak baik. Lebih detail, Dr. Adian mencotohkannya dengan nada yang cukup meyakinkan “Lucunya di Indonesia tidak ada definisi Ilmu dari TK sampai S3, seharusnya anak-anak tau yang dicari itu ilmu apa? Umat Islam itu diperintahkan nabi cari ilmu tapi ilmu apa yang harus dicari? Mereka gak ngerti, apa itu ilmu? Sampai dimana harus mencari? Bagaimana mencarinya? Harusnya hal begini masuk dalam Pendidikan”. Untuk itu, dalam pandangan beliau, mencari ilmu harus dengan cara yang benar yaitu dengan adab dan yang terpenting adalah niat mencari ilmu.

Dr. Adian kemudian menjelaskan rumusan baku dari Umar, yakni ta’addabu tsumma ta’allaamu (beradablah baru belajar) yang merupakan model yang dapat disebut dengan pendidikan karakter, dimana mereka lebih menerapkan sikap daripada banyaknya informasi. Contoh menarik yang diambil beliau adalah dalam konsep kaderisasi ulama dari Al-Bugisi, “Kalau santrinya dulu makan sambil bercanda itu diusir, jadi santrinya disiplin gak boleh terlambat.” Senada dengan beliau, KH. A Hasan mengungkapkan, “Lost of adab is lost of discipline, body, mind and soul.” Karakter merupakan kunci utama dan paripurna yang harus menjadi tujuan dari sistem Pendidikan Agama. Kedisiplinan menjadi awal dari penanaman keilmuan yang berbasis kepada nilai sikap yang tangguh untuk membentuk karakter bermental pejuang.

Sayangnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Surat Al-Luqman ayat 17 yang seharusnya menjadi pondasi dasar dalam dunia Pendidikan kini mulai dilupakan. Misi menjadi pejuang yang tersirat dalam surat tersebut yang sepatutnya ditanamkan, karena sebenarnya ini adalah misi kenabian.  Masih banyak orang yang salah kaprah yang mengaktualisasikan nilai-nilai pejuang tersebut. Salah satunya adalah mayoritas anak zaman sekarang yang lulus dari pesantren hanya ditunjukkan untuk kuliah, hal ini menurut Dr. Adian adalah sikap kurang benar. Seharusnya mereka harus meniatkan untuk berjihad, yaitu untuk mengajar. Beliau mengatakan bahwa pada masa dahulu, para santri jika tidak mengajarkan ilmunya pasti akan merasa takut. Contohnya adalah yang terjadi pada KH. Imam Zarkasyi yang pada suatu hari pernah bertemu dengan alumni Gontor, beliau bertanya “Kamu alumni Gontor, udah ngajar?”, dan kemudian alumni tersebut menjawab, “Belum, Ustad”. Betapa terkejutnya ustad Adian, dan kemudian beliau mengatakan, “Mati Kamu!”. Disinilah pentingnya mengamalkan ilmu sebagai nilai dasar dalam sebuah perjuangan atas nama Agama. Dr. Adian dalam kalimat penutupnya meyakinkan bahwa, “Kalau umat Islam meninggalkan perjuangan dan sibuk memikirkan dunia maka mereka akan hina.