INDONESIA PASCA PEMILU: MASA DEPAN DITANGAN PENGUASA?

Kamis, 25 April 2019

Dalam IDD ini terdapat tiga tema yang didiskusikan berkaitan dengan arah Indonesia ke depan pasca Pemilu 2019, yaitu aspek ekonomi, teknologi dan sosial-budaya. Pemaparan pertama dari aspek ekonomi disampaikan oleh saudara Indra Fajar Alamsyah mengenai dinamika arah perekonomian Indonesia ke depan pasca pemilu. Kandidat doktor ilmu ekonomi dari KENMS, IIUM ini menyatakan jika arah perekonomian Indonesia tidak akan banyak berubah banyak siapapun yang berkuasa andaikan tidak ada perubahan sistem ekonomi yang mendasar. Kegagalan pengelolaan kepemilikan umum seperti barang-barang tambang sehingga membuat pemasukan negara hanya mengandalkan pajak menjadi sumber banyak kesengsaraan. Pembicara memberikan berbagai data mengenai bagaimana kepemilikan umum aset-aset indonesia ini mayoritas dikuasai oleh swasta, terutama swasta asing menjadi masalah serius yang harus diselesaikan penguasa ke depannya.

Solusi yang disampaikan oleh saudara Indra Fajar adalah mengembalikan pengelolaan kepemilikan umum tersebut pada syariat Islam. Ajaran Islam yang komprehensif juga mengatur bagaimana pengelolaan aset-aset kepemilikan umum, dan haram hukumnya aset-aset umum itu diberikan pada individu. Karena sejatinya aset kepemilikan umum adalah aset milik bersama yang harusnya digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk keuntungan segelintir orang sepert yang dijalankan sistem ekonomi kapitalisme di Indonesia.

Penyampai kedua, berkaitan dengan teknologi adalah Dr. Mira Kartiwi yang merupakan associate professor di KICT, IIUM. Beliau memaparkan jika yang harus diperhatikan dalam aspek teknologi ini adalah bagaimana agar hadirnya teknologi di tengah-tengah masyarakat seharusnya bisa memberikan aspek positif, bukan harusnya membawa banyak sisi negatif. Beliau mengambil contoh mengenai aspek negatif teknologi melalui internet dan media sosial yang banyak memberikan dampak negatif, seperti jadi ajang saling menebar berita bohong dan membuat resah keadaan masyarakat. Beliau memaparkan jika semangat melakukan inovasi dalam teknologi harus juga diimbangi dengan semangat positif penggunaan teknologi. Sehingga tugas berat bagi pemerintahan berkuasa kedepannya untuk memastikan jika pemanfaatan teknologi hanya untuk sesuatu yang berdampak positif bagi masyarakat. Juga pemerintah berkuasa harus membuktikan mereka juga tidak justru ikut-ikutan memberi contoh yang berimbas pada sisi negatif, sehingga masyarakat juga tidak ikut pada pusaran tersebut.

Pada sesi pembicara ketiga, mengenai aspek sosial dan budaya disampaikan oleh saudara Yusuf Patria yang merupakan kandidat master dari bidang political science, IIUM. Saudara Yusuf memberikan gambaran jika saat itu masyarakat indonesia terbelah pada dua pihak yang masing-masing memihak salah satu calon presiden dari dua calon presiden yang bersaing. Terbelahnya masyarakat Indonesia secara sosial saat itu hampir menyentuh segala lapisan masyarakat dari mulai para elit hingga masyarakat akar rumput. Dari yang mulai saling melempar gagasan dalam artian positif hingga saling berseteru dengan tidak elegan hampir selalu menjadi berita sehari-hari yang beredar di berbagai media. Tugas penguasa Indonesia selanjutnya adalah untuk menyatukan/merekatkan kembali masyarakat Indonesia pasca pemilu dan bersiap membangun Indonesia.